TIDAK IKHLAS PENYEBAB JAUHNYA DARI KEBERKAHAN ILMU

ikhlas 1
Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang bisa membawa pemiliknya agar selalu taat pada Allah ta’ala. Mengamalkan ilmu untuk perbaikan pada dirinya, keluarga dan masyarakatnya. Maka segala ilmu yang tidak bisa mengajak pemiliknya untuk takut, tawadhu’ pada Allah ta’ala, menyayangi sesama, melainkan justru mengajak pemiliknya untuk durhaka pada Allah ta’ala. Ilmu yang seperti inilah ilmu yang tidak bermanfaat.

Allah Ta’ala memberikan perumpamaan atas mereka itu seperti keledai yang membawa kitab-kita. Allah berfirman :

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“ Perumpamaan orang-orang yang diberi tugas membawa Taurat, kemudian mereka tidak membawanya (tidak mengamalkannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Sangatlah buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”(QS. Al-Jumuah : 5).

Berkata Ibnu Katsir : Allah ta’ala mencela orang-orang yahudi yang mereka itu telah diberikan taurat dan mereka bawa agar diamalkannya, tetapi mereka tidak mengamalkannya. Permisalan mereka dalam hal ini sebagaimana keledai membawa kitab-kitab. Yaitu seperti keledai jika membawa kitab tidak tahu terhadap apa yang berada di dalam kitab tersebut. Ia hanya membawa kitab secara dzatnya dan tidak tahu isinya. Dan demikianlah mereka itu membawa al kitab, mereka hafal lafadz lafadznya, tetapi tidak mereka pahami dan tidak mereka amalkan tuntutan dari ilmu tersebut, bahkan mereka takwilkan, mereka ubah, dan mereka ganti al kitab. Keadaan mereka itu lebih hina dari pada keledai. Karena keledai tidak memahami kitab, sedangkan mereka paham betul tetapi tidak mengamalkannya. Allah ta’ala berfirman dalam ayat yang lain ; mereka itu seperti binatang ternak bahkan lebih hina lagi. Yang demikian itu adalah orang-orang yang lalai. [ Al A’raf : 179 ].

Luruskan niat
Diantara penyebab tidak berkahnya ilmu adalah Niat yang tidak ikhlas. Niat mempunyai peranan penting di dalam setiap langkah kita. Niat yang baik akan membawa manusia menuju kebaikan. Sebaliknya niat jelek akan membawa manusia menuju kejelekan. karena pentingnya niat, seseorang yang berniat untuk melakukan kebaikan, akan tetapi tidak dapat melakukannya, maka orang tersebut mendapat satu pahala kebaikan karena niatnya. Dan jika dapat melakukannya, akan diberi pahala sepuluh sampai tujuh ratus hingga berlipat-lipat.

Niat sangat penting bagi orang yang sedang mencari ilmu. Dan tidak ada niatan lain dalam mencari ilmu kecuali untuk mencari ridlo Allah, menghilangkan kebodohan dari diri sendiri dengan cara belajar. Demikian pula menghilangkan kebodohan orang lain dengan cara mengajar. Dan menghidupkan agama, melestarikan agama islam, serta bersyukur atas nikmat akal dan sehatnya tubuh.
Niat merupakan faktor pertama dan utama yang sangat mempengaruhi setiap amal. Bila sejak awal kita menuntut ilmu dengan niat bukan karena memenuhi ibadah suci untuk memperbaiki kualitas diri, maka yang kita dapatkan hanyalah apa yang kita niatkan itu.

Ciri-ciri Ikhlas dalam menuntut ilmu
Keikhlasan dalam menuntut ilmu akan memberikan pengaruh kepada pribadi sehingga dapat dirasakan oleh orang di sekitarnya. Di antara tanda-tanda ikhlas dalam menuntut ilmu adalah ;
1. Membuahkan ilmu yang bermanfaat
Tanda paling jelas yang menunjukkan bahwa seseorang memiliki niat yang benar dalam menuntut ilmu adalah ilmu tersebut bermanfaat bagi dirinya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَثَلُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ مِنَ الهُدَى وَالعِلْمِ، كَمَثَلِ الغَيْثِ الكَثِيرِ أَصَابَ أَرْضًا، فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ، قَبِلَتِ المَاءَ، فَأَنْبَتَتِ الكَلَأَ وَالعُشْبَ الكَثِيرَ

“Permisalan petunjuk dan ilmu yang Allah utus diriku dengan membawa keduanya sebagaimana permisalan hujan lebat yang membasahi bumi. Diantara tanah yang diguyur air hujan, ada tanah yang subur, yang menyerap air sehingga dapat menumbuhkan tetumbuhan dan rerumputan yang lebat” (HR. Bukhari)

Seperti itulah permisalan ilmu yang bermanfaat bagi seorang hamba. Ilmu tersebut akan memberikan manfaat kepada pemiliknya, dengan hatinya semakin lembut, jiwanya semakin tunduk kepada Rabb-nya, lisan dan pandangannya semakin terjaga, dan seterusnya. Tidak hanya itu, manfaat ilmunya juga meluas kepada orang-orang di sekitarnya dengan akhlaknya yang semakin mulia serta ilmu yang telah ia raih ia ajarkan kepada orang-orang di sekelilingnya.

Inilah tanda yang pertama yang menjadi tanda penting bagi tanda-tanda lainnya. Yaitu bermanfaatnya ilmu tersebut bagi dirinya.

2. Mengamalkan ilmu
Ilmu dicari untuk diamalkan. Oleh karena itu, Allah Ta’ala akan bertanya kepada semua orang yang telah belajar, apa yang telah mereka amalkan dari ilmu yang ia miliki ?.

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ القِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ … وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ

“Tidak akan bergeser dua telapak kaki hamba di hari kiamat sampai ia ditanya,(salah satunya) tentang ilmunya, apa yang sudah dia amalkan?” (HR. Tirmidzi, beliau nilai hasan shahih. Dan dinliai shahih oleh Al Albani).

Ketika seseorang memiliki niat yang ikhlas dalam menuntut ilmu, maka ia akan mengerti bahwa ilmu yang ia cari bukanlah tujuan akhir. Tetapi bekal dia untuk beramal sehingga ia akan berusaha mengamalkan setiap ilmu yang ia miliki. Adapun orang yang niatnya rusak, maka mengamalkan ilmu bukanlah tujuan yang hendak ia capai. Oleh karena itu, Al Khatib Al Baghdadi rahimahullah mengatakan, “Seseorang tidak dianggap berilmu selama ia tidak mengamalkan ilmunya” (Iqtidhaa-ul ‘Ilmi Al ‘Amal hal. 18).

3. Terus memperbaiki niat
Orang yang merasa telah ikhlas dalam menuntut ilmu merupakan ciri tidak ikhlasnya seseorang. Orang yang ikhlas justru terus memperbaiki dirinya dan meluruskan niatnya dalam setiap amalan dan tidak merasa dirinya telah ikhlas. Sebagaimana yang dikatakan ‘Amr, “Barangsiapa yang mengatakan dirinya adalah orang yang berilmu, maka dia adalah orang yang bodoh”. Ibnu Rajab mengatakan, “Orang yang jujur akan merasa takut dirinya tertimpa kemunafikan dan takut mengalami su-ul khatimah” (lihat Fadhlu ‘Ilmis Salaf ‘alal Khalaf, hal. 30-31).

4. Semakin tunduk dan takut kepada Allah Ta’ala
Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang yang takut kepada Allah diantara para hamba-Nya hanyalah orang yang berilmu” (QS. Fathir : 28)

Pada ayat di atas Allah menyebutkan bahwa orang yang takut kepada-Nya adalah orang yang berilmu. Oleh karena itu, semakin bertambah ilmu seseorang, semakin tunduk ia kepada Rabb-nya. Sebagian ulama mengatakan, “Siapa yang takut kepada Allah maka dia adalah orang yang berilmu. Dan siapa yang bermaksiat kepada Allah maka dia adalah orang yang bodoh” (Fadhlu ‘Ilmis Salaf ‘alal Khalaf hal. 26).
Ini adalah buah dari ilmu yang bermanfaat. Ilmu yang dicari semata-mata karena mengharap wajah-Nya. Seseorang yang telah berilmu tentang Allah, maka ia akan mengetahui keagungan dan kebesaran Rabb-nya sehingga ia akan semakin takut dan tunduk kepada-Nya serta selalu merasa diawasi oleh-Nya.

5. Membenci pujian dan ketenaran
Senang dipuji dan cinta ketenaran adalah awal malapetaka pada diri seorang penuntut ilmu. Tidakkah kita ingat kisah tiga orang yang pertama kali diseret ke dalam neraka? Rasulullah menyebutkan salah satu diantara mereka,

وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ، وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ، وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ، وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ: هُوَ قَارِئٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ

“Seseorang yang menuntut ilmu, mengajarkannya, dan membaca Al Qur’an. Lalu ia didatangkan dan dipaparkan kepadanya segala nikmat yang telah ia raih, lantas ia mengakuinya. Lalu ia ditanya, “Apa yang sudah kamu lakukan terhadap nikmat tersebut?”. Ia menjawab, “Aku menuntut ilmu juga mengajarkannya, aku juga membaca Al Qur’an karena-Mu”. Lalu dikatakan padanya, “Kamu dusta! Kamu itu menuntut ilmu supaya dijuluki sebagai orang yang berilmu! Kamu juga membaca Al Qur’an karena ingin dikenal sebagai qari! Dan kamu pun telah mendapatkannya!”. Lalu orang tadi diseret di atas wajahnya lalu dilempar ke neraka” (HR. Muslim)

6. Semakin tawadhu’ di hadapan manusia
Bagai ilmu padi, ilmu yang bermanfaat yang dicari semata-mata mengharap wajah Allah Ta’ala akan membuat pemiliknya semakin tawadhu’ di hadapan orang lain, tidak merasa lebih hebat dibandingkan orang lain. Ibnu Rajab mengatakan, “Di antara tanda orang yang memiliki ilmu yang bermanfaat adalah ia tidak memandang dirinya memiliki status atau kedudukan khusus. Hatinya membenci rekomendasi dan sanjungan orang. Ia juga tidak takabbur di hadapan orang lain” (Fadhlu ‘Ilmis Salaf ‘alal Khalaf, hal. 31)

Itulah di antara sedikit tanda-tanda lurusnya niat seseorang dalam menuntut ilmu. Sebagai penutup, kami bawakan sebuah nasihat indah dari Imam Al Ghazali rahimahullah teruntuk kita semua. Beliau mengatakan, “Betapa banyak malam yang telah kau hidupkan dengan mengulang-ngulang ilmu dan membaca berbagai macam buku, dan kau halangi dirimu dari tidur? Aku tidak tahu apa yang memotivasimu untuk berbuat demikian. Jika niatmu adalah karena dunia, karena mencari harta dan mengumpulkan bagian-bagian dunia, atau berbangga-bangga dengan teman sepantaranmu, maka celakalah dan celakalah dirimu! Tapi jika niatmu adalah menghidupkan syari’at Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, membina akhlakmu, dan mematahkan jiwa yang suka mengajak kepada keburukan, maka beruntunglah dan beruntunglah engkau!” (Ihya ‘Ulumuddin, hal. 105-106, dinukil dari Adabu Thalibil ‘Ilmi, hal. 35)

Semoga yang sedikit ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Hanya kepada Allah-lah kita semua memohon keikhlasan dalam setiap ucapan dan amalan.

Ya Allah, jadikanlah seluruh amalan kami sebagai amalan yang shalih, dan jadikanlah amalan kami tersebut ikhlas mengharap wajah-Mu semata, dan janganlah Engkau jadikan sedikitpun bagian untuk selain diri-Mu dalam amalan kami tersebut. Sesungguhnya Engkau Maha mendengar seruan hamba-Mu.
ikhlas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: