AMALAN PENYEMPURNA TAUBAT

taubat
Memang taubat nasuha cukup dengan berhenti dari dosa, meyesali dan berkeinginan untuk tidak mengulangi serta mengiringi dengan berbagai kebaikan. Tetapi ada amalan-amalan yang menjadikan taubat kita menjadi lebih sempurna. Meski amalan-amalan ini kedudukannya sebagai pelengkap, tentunya kita tidak akan meremehkannya.

Diantara perkara yang menjadikan taubat seorang menjadi sempurna adalah dengan ;
Pertama : selalu memperbarui taubat. Setiap orang beriman pasti pernah melakukan dosa. Setelah sadar kemudian ia bertaubat. Rentang beberapa waktu ia melakukan dosa kembali. Jika dinasehati ia sadar kembali dan bertaubat lagi. Itulah keadaan orang mukmin. Maka penting bagi kita untuk selalu memperbarui taubat.

Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda ;
إِنَّ الشَّيْطَانَ قَالَ وَعِزَّتِكَ وَجَلاَلِكَ يَارَبِّ لاَ أَبْرَحُ أُغْوِي عَبَادَكَ مَا دَامَتْ أَرْوَاحُهُمْ فِيْ أَجْسَادِهِمْ، فَقَالَ اللهُ وَعِزَّتِي وَجَلاَلِي لاَ بَرِحْتُ أَغْفِرُ لَهُمْ مَا اسْتَغْفَرُوْنِي
“Sesungguhnya setan berkata : ‘Demi kemuliaan-Mu wahai Rabbku, aku akan selalu menggoda hamba-Mu selama ruh mereka ada dalam tubuh mereka.’ Tuhan berkata, ‘Demi Kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku akan selalu mengampuni mereka selama mereka minta ampun kepada-Ku.” [ HR. Hakim, 4/261. Hadist hasan menurut al Bani rahimahullah Shahihul-Jami’, no. 1650].

Kedua : Jauhi dosa-dosa kecil. Dosa kecil adalah semua dosa yang tidak diancam dalam al qur’an dan hadist dengan neraka. Tetapi jika dosa kecil ini dianggap remeh, maka akan menjadi besar tanpa disadari.

Setanpun terus membisikkan pada seseorang untuk menganggapnya kecil hingga ia terus melakukannya. Karena dosa apapun jika telah menetap pada diri seseorang akan menjadikan nikmat dan ketagihan hingga sulit baginya untuk meninggalkan. Itulah kenyataan yang kita saksikan hari ini.

Sahl bin Sa’ad radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda : “Hendaklah kalian menghindari dosa-dosa kecil, (perumpamaannya) sebagaimana suatu kaum yang singgah di suatu lembah, kemudian setiap orang yang datang membawa ranting hingga akhirnya mereka dapat menyalakan api untuk memasak roti mereka. Dosa-dosa kecil yang telah menjadi kebiasaan seseorang, sungguh dia akan membinasakannya.” [ HR. Ahmad 5/231 dengan sanad shahih menurut syaikhoin ].

Abu Abdurrahman al-Hubuli rahimahullah berkata : “Perumpamaan orang yang menjauhi dosa besar namun terjerumus kedalam dosa kecil, seperti seseorang yang bertemu dengan binatang buas. Lalu dia menghindar hingga selamat darinya. Kemudian dia bertemu dengan onta liar, lalu dia menghindar kemudian dia selamat. Namun kemudian dia digigit semut, dan digigit lagi oleh semut yang lain begitu seterusnya hingga ia terkapar. Demikianlah halnya orang yang menghindar dari dosa besar namun terjerumus dari dosa kecil. [ Syarh Sahih bukhari 10/203, Ibnu Bathal rahimahullah].

Tidaklah jiwa ini akan terus sengsara kecuali karena berbagai kemaksiatan. Tidaklah jiwa ini menjadi gersang dan atau bahkan mati saat peringatan datang pada kita, kecuali karena dosa yang kita perbuat. Maka wajib bagi kita untuk menjauhinya dan benci terhadapnya. Kita ingatkan keluarga dan ummat terhadapnya.

Ketiga : Jauhi para pelaku maksiat. Karena teman yang buruk prilakunya hanya akan menjauhkan kita dari Allah Ta’ala, menambah keburukan, kefasikan dan kemaksiatan. Merekapun juga tidak akan pernah membantu kita dalam ketaatan pada-Nya.

Seseorang itu akan bersama dengan akhlak temna-temannya. Ia akan menularkan kebaikan ataupun keburukan. Banyak orang yang sudah meniatkan untuk taubat dan menjauhi berbagai dosa yang telah ia lakukan. Tetapi ia justru kembali pada dosa-dosa yang telah ia lakukan dan bahkan lebih parah dari sebelumnya dikarenakan masih berteman dengan orang-orang yang rusak.

Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda dalam hadistnya ;
لَا تَصْحَب إِلَّا مُؤْمِنًا وَلَا يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلَّا تَقِيٌّ
Janganlah bersahabat kecuali kepada seorang mukmin. Dan janganlah memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa. [ HR. Bukhari ].

Dalam hadist yang lain beliau bersabda ;
إِنَّمَا مَثَلُ جَلِيسِ الصَّالِحِ وَجَلِيسِ السَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ حَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدُ رِيحًا خَبِيثَةً
Sesungguhnya perumpamaan teman yang baik dan yang buruk adalah bagaikan penjual minyak wangi dan pandai besi. Jika anda menemani penjual minyak wangi, mungkin dia akan memberi anda, atau anda akan membeli darinya atau paling tidak anda akan mencium bau yang harum. Sedangkan jika anda menemani pandai besi, dia akan membakar baju anda atau anda akan mendapatkan bau menyengat darinya. [ HR. Bukhari Muslim ].

Keempat adalah : Memperbanyak istighfar. Istighfar artinya permintaan ampun pada Allah Ta’ala atas berbagai dosa yang kita lakukan secara sengaja maupun tidak sengaja. Seorang hamba sangat membutuhkan maghfirah atau ampunan dari Allah Ta’ala karena ia berdosa siang dan malam. Allah Ta’ala berfirman dalam sebuah hadist qudsi ;
“Wahai hambaku, sesungguhnya kalian berdosa malam dam siang. Mintalah ampun kepada-Ku. Akau akan mengampuni kalian. [ HR. Muslim no. 2577 ].

Bahkan jika kita mau sedikit saja melihat pada amalan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dalam beristighfar dan bertaubat, beliau tidak kurang dari seratus kali dalam sehari. Ada sebuah riwayat dari Aisyah radhiyallahu anha berkata : Rasulullah sallallahu alaihi wasallam melakukan shalat dhuha, kemudian dia membaca
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أََنْتَ التَّوَابُ الرَّحِيْمِ
ya Allah, Ampunilah aku, terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima tasubat dan Maha pengasih”. Beliau membacanya hingga seratus kali. [ HR. Bukhari dan di shahihkan oleh al Albani dalam adabul mufrad no. 482 ].

Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, Aku tidak pernah menyaksikan ada orang yang lebih banyak dari Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dalam membaca,
أَسْتَغْفِرُ الله وَ أَتُوْبُ إِلَيْهِ
Aku mohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya. [ HR. Ibnu Hibban, dan dishahihkan al-Albany dalam mawarid az-zoman, no. 2083].

Setiap manusia pasti punya dosa. Karena memang tabi’at anak adam sering berbuat dosa. Allah jadikan fitrah mereka condong pada syahwat. Bahkan jika ada seseorang yang mengaku tidak pernah berbuat dosa alias ma’sum, maka ia telah berbohong. Para nabi saja yang ma’sum dari dosa karena dibimbing oleh wahyu. Maka sudah menjadi kewajiban kita untuk memperbanyak istighfar dan taubat pada setiap waktu.
Bahkan Allah Ta’ala akan senantiasa membuka selebar-lebarnya pintu taubat bagi hambanya yang mau taubat walau dosanya sebanyak apapun. Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata : “Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda , Allah Ta’ala berfirman : “Wahai anak adam, seandainya dosa-dosa kalian mencapai awan di langit, kemudian kalian minta ampun kepada-Ku, Aku akan ampuni kalian, dan tidak aku perduli (sebanyak apapun dosanya),” [ HR. At turmudzi no. 3540, dan dishahihkan oleh al-Albani dalam shahih sunan Tirmidzi no. 2805 ].

Istighfar memang memiliki fadhilah luar biasa. Tetapi istighfar yang akan bisa menghapus dosa sebesar apapun bukanlah istighfar yang hanya diucapkan dengan lesan. Istighfar yang akan mendapatkan ampunan adalah yang diiringi dengan sikap menghentikan dosa sebagaimana yang Allah sebutkan dalam al qur’an ;
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ (135)

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau Menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”. [ QS. Ali Imran 135 ].

Inilah yang disebut taubatun nashuha. Yaitu taubat yang bisa menghapus dosa sebelumnya. Taubat yang seperti ini juga yang akan menghalangi seseorang dari siksa di dunia maupun diakhirat. Allah Ta’ala berfirman ;
“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun”. [ QS. Al Anfal : 33 ].

Di antara mufassirin mengartikan yastagfiruuna dengan bertaubat dan ada pula yang mengartikan bahwa di antara orang-orang kafir itu ada orang Muslim yang minta ampun kepada Allah.

Kelima: Banyak beramal shalih yang dapat menghapus dosa. Berbagai amal shalih akan dapat menghapus dosa seseorang. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah sallallahu alaihi wasllam :
اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا ، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ.
Bertakwalah kepada Allah dimanapun kalian berada. Dan ikutilah keburukan dengan kebaikan yang akan menghapusnya. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik”. [ HR. At Turmudzi dan dihasankan oleh al Albani dalam shahih sunan turmudzi no. 1618 ].

Itulah beberapa amalan yang akan menyempurnakan taubat. Tentu kita tidak akan menyia-nyiakan berbagai amalan di atas, karena taubat yang sempurna harus dibarengi dengan amalan-amalan tersebut. Jangan tunda taubat sampai sampai tua, atau sampai kita puas dalam kubangan dosa, atau sampai kita sukses di dunia dengan harta haram. Mulailah taubat dari sekarang karena tidak ada yang menjamin hari esuk kita masih hidup. Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: