TAUBAT YANG DITERIMA

Banyak orang yang telah merasa sudah bertaubat kepada Allah Ta’ala. Ia merasa dosa telah dilebur dengan taubat. Padahal taubat yang diterima itu ada syarat-syarat yang harus dipenuhi. Jika seseorang yang selalu mengucap taubat tetapi tidak memenuhi persyaratannya, maka jelas taubat ia tertolak.

Allah Ta’ala telah berfirman dalam al qur’an :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ
Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. ( QS. At Tahrim : 8 ).

Ibnu Katsir berkata : Berkata para ulama’. Taubatun nasuha adalah : Meninggalkan dosa yang telah dilakukan, menyesali dari apa yang telah lalu, dan berkeinginan kuat untuk tidak mengulagi pada masa yang akan datang. Jika itu dalam urusan sesama manusia, ia kembalikan terhadap pemiliknya dengan jalannya (yang baik). [ Tafsir Ibnu katsir pada ayat di atas].

Dari perkataan Ibnu Katsir di atas, kami jabarkan pada pembahasan di bawah ini :
Pertama : Meninggalkan dosa yang telah dilakukan. jika maksiatnya karena dosa yang dilakukan, maka taubatnya adalah segera meninggalkannya. Dan jika dosanya adalah karena meninggalkan kewajiban, maka taubatnya adalah melaksanakan kewajiban saat itu juga.
Lesan yang senantiasa menyatakan taubat sementara hatinya masih condong pada kemaksiatan atau juga meninggalkan kewajiban, maka ia telah main-main dengan taubatnya. Tidak jujur dalam taubatnya. Dan taubat yang semacam ini tidak diterima oleh Allah Ta’ala.

Orang yang bertaubat dari riba, sementara setiap harinya berhubungan dengan bank-bank ribawi untuk deposito atau juga meminjam, maka taubatnya tidak diterima. Demikian pula orang yang taubat dari mengghibah. Tetapi ia tidak berhenti dari perbuatannya, membicarakan aib-aib saudaranya diberbagai majlis, maka taubatnya tidak diterima Allah Ta’ala.

Jadi, taubat yang dilakukan seseorang tanpa mau meninggalkan perbuatan dosanya, maka taubatnya adalah dusta.
Sedangkan taubat yang ada hubungannya dengan hak sesama manusia, maka ia harus membebaskan diri dari hak-hak tersebut. Jika itu mencuri, maka harus ia kembalikan. Jika itu mengghibah, maka minta untuk dihalalkan. Atau jika takut orang yang dighibah tidak menghalalkan, maka cukup baginya untuk menyebutkan kebaikan orang yang dighibah di berbagai majlis.

Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda ;
مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلَمَةٌ لأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ مَالِهِ فَلْيُؤَدِّهَا إِلَيْهِ قَبْلَ أَنْ يَأْتِىَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ لاَ يُقْبَلُ فِيهِ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ وَأُعْطِىَ صَاحِبُهُ ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَتْ عَلَيْهِ
Barangsiapa berbuat kezhaliman terhadap saudaranya (orang lain), hendaklah dia meminta maaf atas kezhalimannya. Karena (pada hari Kiamat), di sana tidak ada dinar (dan) tidak pula dirham sebagai penebusnya, sebelum diambil kebaikan dari dirinya untuk saudaranya tersebut. Apabila dia tidak memiliki kebaikan, maka diambillah kejelekan saudaranya tersebut dan dilimpahkan kepadanya. ( HR. Bukhari ).

Syarat kedua : menyesali apa yang telah lalu. Yaitu merasa sedih dan menyesal atas perbuatan dosa yang telah ia lakukan. Ia mengandai-andai jika perbuatan tersebut tidak ia lakukan. Dan ia menganggap bahwa perbautan dosa yang telah ia lakukan adalah perkara besar dalam dirinya. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda ; “Penyesalan adalah taubat”. [ HR. Ibnu Majah 4252, dan disahihkan al bani dalam sahih suanan ibnu majah no. 3429 ].

Penyesalan yang sebenarnya itu memiliki bukti. Diantaranya adalah pekanya hati, mata yang berderai karena pengakuan dosa, dan bencinya seseorang terhadap perbuatan tersebut serta para pelakunya. Jika mata telah bercucuran dan hati telah lembut, maka dosa akan diampuni. Dosapun akan diampuni dan ia akan mendapatkan rahmad Allah Ta’ala.
Rasulullah sallallahu alaihi wasallam pernah bersabda kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam qishatul ifki (kisah dusta );
“wahai Aisyah, sungguh telah sampai berita kepadaku tentang engkau begini dan begitu. Jika engkau bebas dari tuduhan itu, Allah akan membebaskanmu. Jika engkau terjerumus dalam dosa maka mintalah ampun kepada Allah dan bertaubatlah kepadanya. Karena jika seseorang mengakui dosanya, kemudian bertaubat, Allah akan menerima taubatnya”. [ HR. Bukhari no. 2661. Muslim no. 2770 ].

Rasulullah sallallahu alaihi wasallam telah menyebutkan bahwa pengakuaan dosa dan penyesalan menjadi syarat diterimanya taubat. Bahkan dalam hadist yang dikenal dengan sayyidul istighfar disebutkan :
اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ
“Ya Allah, Engkaulah Tuhanku. Tidak ada ilha (tuhan yang disembah) selain-Mu yang menciptakanku. Dan aku adalah hamba-Mu. Aku akan selalu menunaikan janji kepada-Mu semampuku. Aku berlindung dari kejahatan yang aku perbuat. Aku kembali kepada-Mu dengan nikmat-Mu kepadaku dan aku bertaubat kepada dari dosaku, maka ampunilah aku, sesungguhnya tidak tidak ada yang mengampuni dosa selain Engkau.” ( HR. Bukhari ).

Maka, mengetahui dosa yang diperbuat dan menyesalinya serta berharap agar Allah menghapus catatan dosanya adalah kewajiban seorang muslim. Karena penyesalan yang sesungguhnya dan dibarengi dengan istighfar menjadi pilar yang utama agar taubat kita diterima Allah Ta’ala.

Syarat ketiga : Bertekat kuat untuk tidak mengulangi. Yaitu keinginan yang sangat kuat untuk tidak mengulangi dari perbuatan dosa yang telah ia lakukan.
Taubat yang dilakukan karena kemiskinan yang mendera, atau karena kesehatan yang sudah berkurang, atau karena cacat yang menimpanya, sementara hatinya masih kembali melakukan jika sudah kaya atau sehat maka taubatnya tertolak.

Orang-orang yang menyalurkan hartanya untuk mensukseskan berbagai kemaksiatan dengan membelikan minum-minuman keras, membiayai konser-konser musik yang merusak moral anak muda dan berbagai kemaksiatan. Lalu ia tertimpa kefakiran dan berkata “ Ya Allah aku bertaubat kepada-Mu”. Sementara dalam hatinya masih berkeinginan kembali melakukan perbautan dosa jika suatu saat nanti menjadi orang kaya kembali. Taubat yang seperti ini ditolak oleh Allah Ta’ala.

Atau seorang muslimah yang senang untuk pamer aurat dan tidak mau mengenakan busana muslimah padahal itu adalah kewajiban baginya. Ia berdandan dengan dandanan menor saat keluar rumah. Kemudian Allah timpakan musibah baginya dengan penyakit. Kepalanya botak, kulitnya terkena penyakit kulit. Akhirnya iapun mengenakan jilbab. Tetapi dihatinya masih berkeinginan untuk kembali melepas jilbab jika sembuh nanti. Taubat yang seperti ini adalah taubat yang tertolak.

Orang yang taubat harus memiliki tekad yang kuat dan kokoh untuk tidak kembali melakukannya walau nyawa taruhannya. Ibarat susu yang telah keluar dari punting tidak mungkin kembali lagi.
Bukankah kita jika terkena penyakit asam urat tinggi, kita dilarang untuk memakan jenis makanan yang menaikkan asam urat kita. kitapun akan mentaatainya ?. Bahkan kitapun berkeinginan kuat untuk tidak memakan sedikitpun selama penyakit belum sembuh, meski itu adalah makanan kesukaan kita ?.

Demikian pula dengan dosa yang menyebabkan siksa pedih di neraka. Harus lebih kita perhatikan karena ia adalah kehidupan abadi kita. Maka tidak berimbang saat kita bersemangat untuk melindungi badan dari berbagai penyakit, sementara diri kita berlumuran maksiat yang tidak pernah kita taubati.

Ada perkataan dari syaikh Shalih al Utsaimin : wajib bagi kita untuk bersikap jujur kepada Allah Ta’ala dalam taubat agar kita mencabut perbuatan dosa dan maksiat dengan sesungguhnya. Kita membencinya dan menyesal atas perbuatan tersebut sehingga taubat kita dikatakan sebagai taubat nashuha. [ Syarh riyadhus shalihin, no. 1/66 ].

Keempat : Taubat dilakukan saat amal masih diterima. Karena amal dan taubat seseorang tidak diterima dalam dua kondisi. Pertama adalah saat matahari sudah terbit dari barat yaitu kiamat. Dan kedua saat nyawa sudah di tenggorokan. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda ;
وَلا تَزَالُ التَّوْبَةُ مَقْبُولَةً حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنَ المْغَرْبِ، فَإِذَا طَلَعَتْ طَلَعَ عَلَى كُلِّ قَلْبٍ بِمَا فِيهِ وَكَفَى النَّاسَ الْعَمَل
Taubat seseorang pasti diterima sebelum matahari terbit dari tempat terbeamnya. Jika telah terbit ( dari tempat terbenamnya), setiap hati akan ditutup dengan apa yang ada di dalamnya, saat itu manusia telah tertutup kesempatan amalnya.” [ HR. Ahmad dan di shahihkan oleh al bani 4/240 ].

Sedangkan hadist yang menjelaskan bahwa taubat orang yang sudah sekarat tidak diterima adalah ;
إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ
“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menerimataubat seorang hamba selama nyawanya belum sampai kerongkongan”. [ HR. At Turmudzi no. 3537, dan dihasankan oleh al bani dalam shahih sunan Tirmidzi no. 2802 ].

Maha suci Allah Ta’ala !. Betapa panjangnya waktu untuk bertaubat. “Namun betapa lalainya manusia untuk segera bertaubat. Betapa luasnya kasih sayang Allah Ta’ala kepada para hamba-Nya. Dia telah memperpanjang waktu taubat hingga nyawa di tenggorokan dan hingga kiamat datang. Allah membentangkan tanganya untuk menerima taubat hamba-hamba-Nya di siang dan malam hari.

Mari segera kita bertaubat, mengevaluasi berbagai dosa dan berusaha sekutanya untuk dihentikan. Karena taubat tidak akan berguna saat ajal menjemput. Sementara ajal datang dengan datang dengan tiba-tiba diluar perkiraan kita. Semoga kita dimudahkan dalam bertaubat dan Allah jadikan taubat kita menjadi taubatun nashuha.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: