MENJADI WANITA MANDIRI

Setiap wanita pasti menginginkan kehidupan yang mapan. Ekonomi yang serba kecukupan sehingga bisa untuk kebutuhan sehari-hari dan juga biaya sekolah anak-anaknya. Setiap wanitapun juga senang jika sang suami senantiasa menemaninya dalam kondisi senang dan susah. Bermanja-manja dengannya dan saling bekerjasama dalam berbagai beban kehidupan.

Tetapi kondisi diatas tidak selamanya terjadi pada kita. Allah pasti akan memberikan ujian-ujian untuk menguji kedewasaan dan kemandirian. Bisa jadi dengan ekonomi kita yang sangat sulit. Hanya untuk kebutuhan harian saja tidak cukup datambah beban biaya sekolah anak-anak kita. Atau juga ujian jauhnya kita dari sang suami karena tugas dakwah atau tugas lainnya. Bahkan yang lebih berat lagi adalah saat Allah menguji dengan kematian suami kita.

Disinilah pentingnya kemandirian bagi seorang wanita muslimah. Ia harus lihai dalam mengatur keuangan, mencari penghasilan tambahan, dan termasuk mandiri dalam menyelesaikan berbagai permasalahan.

Potret kemandirian para shohabiyah

1. Asma’ binti Abu Bakar as shidiq

Dalam sebuah riwayat dari Bukhari diceritakan bahwa Asma’ ra sendiri pernah menceritakan tentang keadaan hidupnya,

“Ketika aku menikah dengan Zubair ra, ia tidak memiliki harta sedikit pun, tidak memiliki tanah, tidak memiliki pembantu untuk membantu pekerjaan, dan juga tidak memiliki sesuatu apa pun. Hanya ada satu unta milikku yang biasa digunakan untuk membawa air, juga seekor kuda. Dengan unta tersebut, kami dapat membawa rumput dan lain-lainnya. Akulah yang menumbuk kurma untuk makanan hewan-hewan tersebut. Aku sendirilah yang mengisi tempat air sampai penuh. Apabila embernya peceh, aku sendirilah yang memperbaikinya. Pekerjaan merawat kuda, seperti mencarikan rumput dan memberinya makan, juga aku sendiri yang melakukannya. Semua pekerjaan yang paling sulit bagiku adalah memberi makan kuda. Aku kurang pandai membuat roti. Untuk membuat roti, biasanya aku hanya mencampurkan gandum dengan air, kemudian kubawa kepada wanita tetangga, yaitu seorang wanita Anshar, agar ia memasakkannya. Ia adalah seorang wanita yang ikhlas. Dialah yang memasakkan roti untukku.

Ketika Rasulullah sampai di Madinah, maka Zubair ra telah diberi hadiah oleh Rasulullah berupa sebidang tanah, seluas kurang lebih 2 mil (jauhnya dari kota). Lalu, kebun itu kami tanami pohon-pohon kurma. Suatu ketika, aku sedang berjalan sambil membawa kurma di atas kepalaku yang aku ambil dari kebun tersebut. Di tengah jalan aku bertemu Rasulullah dan beberapa sahabat Anshar lainnya yang sedang menunggang unta. Setelah Rasulullah melihatku, beliau pun menghentikan untanya. Kemudian beliau mengisyaratkan agar aku naik ke atas unta beliau. Aku merasa sangat malu dengan laki-laki lainnya. Demikian pula aku khawatir terhadap Zubair ra yang sangat pencemburu. Aku khawatir ia akan marah. Memahami perasaanku, Rasulullah membiarkanku dan meninggalkanku. Lalu segera aku pulang ke rumah.

Setibanya di rumah, aku menceritakan peristiwa tersebut kepada Zubair ra tentang perasaanku yang sangat malu dan kekhawatiranku jangan-jangan Zubair ra merasa cemburu sehingga menyebabkannya menjadi marah. Zubair ra berkata, “Demi Allah aku lebih cemburu kepadamu yang selalu membawa isi-isi kurma di atas kepalamu sementara aku tidak dapat membantumu.””

Setelah itu Abu Bakar, ayah Asma’ ra, memberikan seorang hamba sahaya kepada Asma’. Dengan adanya pembantu di rumahnya, maka pekerjaan rumah tangga dapat diselesaikan dengan ringan, seolah-olah aku telah terbebas dari penjara.

2. Fatimah az zahra

 

Kisah ini dituturkan oleh imam Al Bukhori dalam shahihnya dan juga imam yang lainnya.

“Ali berkata, Fathimah mengeluhkan bekas alat penggiling yang dialaminya. Lalu pada saat itu ada seorang tawanan yang mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Fathimah bertolak, namun tidak bertemu dengan beliau. Dia mendapatkan Aisyah. Lalu dia mengabarkan kepadanya. Tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba, Aisyah mengabarkan kedatangan Fathimah kepada beliau. Lalu beliau mendatangi kami, yang kala itu kami hendak berangkat tidur. Lalu aku siap berdiri, namun beliau berkata. ‘Tetaplah di tempatmu’. Lalu beliau duduk di tengah kami, sehingga aku bisa merasakan dinginnya kedua telapak kaki beliau di dadaku. Beliau berkata. ‘Ketahuilah, akan kuajarkan kepadamu sesuatu yang lebih baik daripada apa yang engkau minta kepadaku. Apabila engkau hendak tidur, maka bertakbirlah tiga puluh empat kali, bertasbihlah tiga puluh tiga kali, dan bertahmidlah tiga puluh tiga kali, maka itu lebih baik bagimu daripada seorang pembantu”. (Hadits Shahih, ditakhrij Al-Bukhari 4/102, Muslim 17/45, Abu Dawud hadits nomor 5062, At-Tirmidzi hadits nomor 3469, Ahmad 1/96, Al-Baihaqy 7/293)

Fathimah merasa capai karena banyaknya pekerjaan yang harus ditanganinya, berupa pekerjaan-pekerjaan rumah tangga, terutama pengaruh alat penggiling. Maka dia pun pergi menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta seorang pembantu, yakni seorang wanita yang bisa membantunya.

Tatkala Fathimah memasuki rumah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia tidak mendapatkan beliau. Dia hanya mendapatkan Aisyah, Ummul Mukminin. Lalu Fathimah menyebutkan keperluannya kepada Aisyah. Tatkala beliau tiba, Aisyah mengabarkan urusan Fathimah.

Beliau mempertimbangkan permintaan Fathimah. Dan, memang beliau mempunyai beberapa orang tawanan perang, ada pula dari kaum wanitanya. Tetapi tawanan-tawanan ini akan dijual, dan hasilnya akan disalurkan kepada orang-orang Muslim yang fakir, yang tidak mempunyai tempat tinggal dan makanan kecuali dari apa yang diberikan Rasulullah. Lalu beliau pergi ke rumah Ali, suami Fathimah, yang saat itu keduanya siap hendak tidur. Beliau masuk rumah Ali dan Fathimah setelah meminta ijin dari keduanya. Tatkala beliau masuk, keduanya bermaksud hendak berdiri, namun beliau berkata. “Tetaplah engkau di tempatmu”. “Telah dikabarkan kepadaku bahwa engkau datang untuk meminta. Lalu apakah keperluanmu?”.

Fathimah menjawab. “Ada kabar yang kudengar bahwa beberapa pembantu telah datang kepada engkau. Maka aku ingin agar engkau memberiku seorang pembantu untuk membantuku membuat roti dan adonannya. Karena hal ini sangat berat bagiku”.

Beliau berkata. “Mengapa engkau tidak datang meminta yang lebih engkau sukai atau lebih baik dari hal itu ?”. Kemudian beliau memberi isyarat kepada keduanya, bahwa jika keduanya hendak tidur, hendaklah bertasbih kepada Allah, bertakbir dan bertahmid dengan bilangan tertentu yang disebutkan kepada keduanya. Lalu akhirnya beliau berkata. “Itu lebih baik bagimu daripada seorang pembantu”.

Ali tidak melupakan wasiat ini, hingga setelah istrinya meninggal. Hal ini dikatakan Ibnu Abi Laila. “Ali berkata, ‘Semenjak aku mendengar dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku tidak pernah meninggalkan wasiat itu”.

Itulah beberapa kisah inspiratif dari para shahabiyah yang memberikan gambaran indah dalam hal kemandirian. Meski mereka adalah anak-anak para pembesar islam, tetapi ayah-ayah mereka mendidik untuk menjadi seorang wanita yang mandiri.

Tips mandiri

Ada beberapa tips yang penting kita jalani agar menjadi seorang muslimah yang mandiri. Karena sulit bagi kita untuk mandiri tanpa kita komitmen untuk mencari dan melaziminya tips-tips tersebut. Diantara tips tersebut adalah ;

1. Yakin bahwa Allah Ta’ala akan menjamin rizki setiap hambanya. Keyakinan bahwa Allah Ta’ala yang akan mencukupi semua kebutuhhan kita, akan melindungi, memberi rizki dan menolong kita. Allah tidak akan menterlantarkan kita selama kita berusaha untuk mendapatkan rizki dari jalan yang halal. Bahkan setiap binatang melata di muka bumi ini semuanya telah dijamin rizkinya. Allah Ta’ala berfirman ;

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَاوَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya . Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).

Teladan paling mulia telah di contohkan oleh ibunda hajar, ketiaka beliau dan ismail di tinggal di padang pasir sendirian. Beliau bertanya pada suaminya ibrahim, ‘ apakah ini perintah Allah? ‘ . Ibrahim menjawab, ‘ ya’. Hajar berkata, ‘ kalau ini adalah perintah Allah pasti Ia tidak akan menyia-nyiakanku. Allahlah yang akan mencukupi kebutuhan kami.

Suatu keyakinan yang sangat tinggi yang hanya di miliki oleh seorang hamba yang taat pada Rabbnya. Seorang istri yang benar-benar paham akan perintah Allah. Seorang istri yang paham bahwa perginy sang suami adalah karena sebuah misi dari langit.

2. Memilih pekerjaan sesuai dengan bakat, membuat plaining dan perencanaan secara matang. Pilihlah pekerjaan yang tidak melanggar syari’at. Bisa dengan mengajar disekolah-sekolah kita, atau dengan wiraswasta merancang usaha di rumah.

Setelah itu pilihlah pekerjaan yang menjadi kecendrungan anda. Buatlah analisa swot, yaitu mencari kelebihan, kelemahan, kesempatan dan juga ancaman. Setelah itu yakinlah bahwa pilihan anda adalah pilihan yang tepat. Jangan lupa merancang gool setting. Yaitu perencanaan-perencanaan dalam setahun dan dibuat seperti kalender pendidikan di sebuah sekolah. Pekalah terhadap hal-hal yang menjadikan usaha anda untuk segera di akhiri dan diselesaikan. Sebaliknya, kita juga harus peka terhadap hal-hal yang menjadikan majunya usaha kita untuk tetap di jaga dan dikembangkan.

Disamping hal di atas, seorang wanita harus memiliki keahlian bersepeda motor, memasak, menjahit serta keahlian lainnya. Tujuannya adalah jika sang suami tidak di rumah ia bisa beraktifitas tanpa ada hambatan.

3. Doa dengan do’a yang diajarkan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Yang tak kalah penting dari semuanya adalah doa. Kekuatan doalah yang akan membuat seorang ahwat akan senantiasa tegar dalam menghadapi berbagai ujian hidup. Doa bisa meneguhkan hati seseorang yang sedang tertimpa musibah. Demikian pula do’a dapat memberi motifasi jiwa agar lebih semangat dalam bekerja.

Ada sebuah doa yang bisa kita amalkan agar diri kita bisa mandiri.

اَللَّهُمَّ اكْفِنِيْ بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِيْ بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

“Ya Allah! Cukupilah aku dengan rezekiMu yang halal (hingga aku terhindar) dari yang haram. Perkayalah aku dengan karuniaMu (hingga aku tidak minta) kepada selainMu.” [HR. At-Tirmidzi 5/560, dan lihat kitab Shahihut Tirmidzi 3/180]

Do’a ini memang do’a yang diajarkan oleh Rasulullah terhadap mereka yang sedang terjerat hutang. Tetapi tidak mengapa kita ucapakan untuk memohon dicukupkan dengan hal-hal yang halal dan tidak cenderung pada yang haram sehingga menjadi orang yang merasa kaya.

Kita memohon kecukupan rizki kepada Allah, rizki yang halal serta dijauhkannya kita dari rizki yang haram. Kita juga memohon fadhilah dari Allah serta jangan sampai lesan ini meminta kepada selain Alllah. Jangan sampai lesan ini mengeluh kepada orang tua atau kepada teman yang lain sebelum berkeluh kesah pada Allah Ta’ala. Cukuplah Allah sebagai tempat mengadu, dan cukuplah Allah sebagai penolong.

Do’a yang kedua adalah do’a yang diajarkan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam kepada Fatimah radhiyallahu anha. Beliau bersabda :

Apabila engkau hendak tidur, maka bertakbirlah tiga puluh empat kali, bertasbihlah tiga puluh tiga kali, dan bertahmidlah tiga puluh tiga kali, maka itu lebih baik bagimu daripada seorang pembantu”. (Hadits Shahih, ditakhrij Al-Bukhari 4/102, Muslim 17/45, Abu Dawud hadits nomor 5062, At-Tirmidzi hadits nomor 3469, Ahmad 1/96, Al-Baihaqy 7/293).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah juga berpendapat senada. Menurut beliau, siapa yang rajin membaca wirid tadi di waktu malam, niscaya tidak akan kelelahan. Alasannya karena Fatimah mengeluh kecapaian kepada Rasulullah, lalu Rasulullah mengarahkannya agar membaca wirid tadi. Akan tetapi, menurut al-Hafizh Ibnu Hajar, penafsirannya tidak harus seperti itu. Hadis ini tidak berarti bahwa rasa lelah pasti hilang bila seseorang rutin membacanya. Namun boleh jadi maksudnya ialah bila seseorang rutin mengamalkannya, maka ia tidak akan terkena madharat walaupun banyak bekerja. Pekerjaan itu juga takkan terasa berat walaupun ia merasa lelah karenanya.

Hadis ini juga bisa berarti bahwa orang yang membaca wirid tadi, kelak akan bangun pagi dalam keadaan segar-bugar dan penuh semangat. Tentunya, ini lebih baik daripada menyewa pembantu yang meringankan pekerjaan, namun tidak menjadikan badan segar-bugar. Lagi pula, bila seseorang mampu melakukan pekerjaannya secara mandiri, tentu lebih baik daripada menyuruh orang lain, walaupun yang disuruh pasti menurut.

Sebagai penutup, marialh kita resapi hadist Rasulullah sallallahu alahi wasallam;

عَنْ عبدِ الله بنِ عبَّاسٍ رضي الله عنهما قالَ : كُنتُ خَلفَ النَّبيِّ صلى الله عليه وسلم فقال يَا غُلَامُ إِنِّي مُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ احْفَظْ اللَّهيَحْفَظْكَ احْفَظْ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ وَإِذَا سَأَلْتَ فَلْتَسْأَلْ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ رُفِعَتْ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ

Dari Abdullah bin Abbas –radhiallahu anhu-. Ia berkata: Dahulu aku berada dibelakang Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam- di atas kendaraannya kemudian ia berkata: “Wahai anak muda, sesungguhnya aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat; Jagalah ALLAH niscaya Ia akan menjagamu. Jagalah ALLAH niscaya kau akan mendapati NYA di hadapanmu. Jika engkau berdo’a, berdo’alah kepada ALLAH. Dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada ALLAH. Dan ketahuilah! Sesungguhnya, seandainya seluruh manusia bersatu ingin memberikan kebaikan kepadamu, mereka tak akan sanggup kecuali sebatas apa yang telah ALLAH tetapkan bagimu. Juga, seandainya seluruhnya mereka bersatu ingin mendatangkan keburukan kepadamu, mereka tak akan sanggup kecuali sebatas apa yang telah ALLAH tetapkan atasmu. Kalam telah diangkat dan lembaran-lembaran catatan taqdir telah terlanjur kering.” (H.R. Tirmidzi dan ia berkata: Hadits hasan shohih.)Dan di dalam riwayat selain Tirmdzi:

Demikian sekilas tulisan tentang kemandirian. Semoga kita menjadi para ummahat mandiri, yang bisa meringankan beban suami. Wanita tegar dalam suka dan duka. Wanita yang siap hidup dengan kekayaan demikian pula siap dengan kemiskinan. Janganlah jadi ummahat manja yang hanya akan menyusahkan suami bahkan bisa menghambat dàkwah ini.

3 responses to this post.

  1. Posted by fakir on Desember 20, 2013 at 4:53 pm

    Ass. wr.wb
    Setelah Rasulullah melihatku, beliau pun menghentikan untanya. Kemudian beliau mengisyaratkan agar aku naik ke atas unta beliau. Aku merasa sangat malu dengan laki-laki lainnya…… ya allah……hati kecil ini menjeriiit…..demi allah swt…tolong Jelaskan dari mana sumber kitab/hadist yg menyudutkan rasul mengajak NAIK ONTA istri orang lain….wahai saudaraku evisambi yg baik dan cerdas ?

    mhn maaf lahir batin sebelumnya…

    Balas

    • Posted by tri on Desember 21, 2013 at 4:00 am

      wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
      jazakumullah atas masukan antum. hadist ini sebenarnya hadist shahih riwayat bukhori dan muslim. redaksi aslinya :
      pada riwayat bukhari :
      5224 – حَدَّثَنَا مَحْمُودٌ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبِي عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَتْ تَزَوَّجَنِي الزُّبَيْرُ وَمَا لَهُ فِي الْأَرْضِ مِنْ مَالٍ وَلَا مَمْلُوكٍ وَلَا شَيْءٍ غَيْرَ نَاضِحٍ وَغَيْرَ فَرَسِهِ فَكُنْتُ أَعْلِفُ فَرَسَهُ وَأَسْتَقِي الْمَاءَ وَأَخْرِزُ غَرْبَهُ وَأَعْجِنُ وَلَمْ أَكُنْ أُحْسِنُ أَخْبِزُ وَكَانَ يَخْبِزُ جَارَاتٌ لِي مِنْ الْأَنْصَارِ وَكُنَّ نِسْوَةَ صِدْقٍ وَكُنْتُ أَنْقُلُ النَّوَى مِنْ أَرْضِ الزُّبَيْرِ الَّتِي أَقْطَعَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رَأْسِي وَهِيَ مِنِّي عَلَى ثُلُثَيْ فَرْسَخٍ فَجِئْتُ يَوْمًا وَالنَّوَى عَلَى رَأْسِي فَلَقِيتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَعَهُ نَفَرٌ مِنْ الْأَنْصَارِ فَدَعَانِي ثُمَّ قَالَ إِخْ إِخْ لِيَحْمِلَنِي خَلْفَهُ فَاسْتَحْيَيْتُ أَنْ أَسِيرَ مَعَ الرِّجَالِ وَذَكَرْتُ الزُّبَيْرَ وَغَيْرَتَهُ وَكَانَ أَغْيَرَ النَّاسِ فَعَرَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنِّي قَدْ اسْتَحْيَيْتُ فَمَضَى فَجِئْتُ الزُّبَيْرَ فَقُلْتُ لَقِيَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى رَأْسِي النَّوَى وَمَعَهُ نَفَرٌ مِنْ أَصْحَابِهِ فَأَنَاخَ لِأَرْكَبَ فَاسْتَحْيَيْتُ مِنْهُ وَعَرَفْتُ غَيْرَتَكَ فَقَالَ وَاللَّهِ لَحَمْلُكِ النَّوَى كَانَ أَشَدَّ عَلَيَّ مِنْ رُكُوبِكِ مَعَهُ قَالَتْ حَتَّى أَرْسَلَ إِلَيَّ أَبُو بَكْرٍ بَعْدَ ذَلِكَ بِخَادِمٍ تَكْفِينِي سِيَاسَةَ الْفَرَسِ فَكَأَنَّمَا أَعْتَقَنِي

      pada riwayat muslim :

      14 – باب جَوَازِ إِرْدَافِ الْمَرْأَةِ الأَجْنَبِيَّةِ إِذَا أَعْيَتْ فِى الطَّرِيقِ. (24)
      5821 – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلاَءِ أَبُو كُرَيْبٍ الْهَمْدَانِىُّ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ هِشَامٍ أَخْبَرَنِى أَبِى عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِى بَكْرٍ قَالَتْ تَزَوَّجَنِى الزُّبَيْرُ وَمَا لَهُ فِى الأَرْضِ مِنْ مَالٍ وَلاَ مَمْلُوكٍ وَلاَ شَىْءٍ غَيْرَ فَرَسِهِ – قَالَتْ – فَكُنْتُ أَعْلِفُ فَرَسَهُ وَأَكْفِيهِ مَئُونَتَهُ وَأَسُوسُهُ وَأَدُقُّ النَّوَى لِنَاضِحِهِ وَأَعْلِفُهُ وَأَسْتَقِى الْمَاءَ وَأَخْرِزُ غَرْبَهُ وَأَعْجِنُ وَلَمْ أَكُنْ أُحْسِنُ أَخْبِزُ وَكَانَ يَخْبِزُ لِى جَارَاتٌ مِنَ الأَنْصَارِ وَكُنَّ نِسْوَةَ صِدْقٍ – قَالَتْ – وَكُنْتُ أَنْقُلُ النَّوَى مِنْ أَرْضِ الزُّبَيْرِ الَّتِى أَقْطَعَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلَى رَأْسِى وَهْىَ عَلَى ثُلُثَىْ فَرْسَخٍ – قَالَتْ – فَجِئْتُ يَوْمًا وَالنَّوَى عَلَى رَأْسِى فَلَقِيتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَمَعَهُ نَفَرٌ مِنْ أَصْحَابِهِ فَدَعَانِى ثُمَّ قَالَ « إِخْ إِخْ ». لِيَحْمِلَنِى خَلْفَهُ – قَالَتْ – فَاسْتَحْيَيْتُ وَعَرَفْتُ غَيْرَتَكَ فَقَالَ وَاللَّهِ لَحَمْلُكِ النَّوَى عَلَى رَأْسِكِ أَشَدُّ مِنْ رُكُوبِكِ مَعَهُ. قَالَتْ حَتَّى أَرْسَلَ إِلَىَّ أَبُو بَكْرٍ بَعْدَ ذَلِكَ بِخَادِمٍ فَكَفَتْنِى سِيَاسَةَ الْفَرَسِ فَكَأَنَّمَا أَعْتَقَتْنِى.

      sedangkan terjemah hadist tersebut memang memboncengkan. Cuman memang ada komentar dari Qodhi ‘iyadh dalam syarh shahih muslim :

      وقال القاضي عياض : هذا خاص للنبي صلى الله عليه وسلم بخلاف غيره ، فقد أمرنا بالمباعدة من أنفاس الرجال والنساء ، وكانت عادته صلى الله عليه وسلم مباعدتهن لتقتدي به أمته ، قال : وإنما كانت هذه خصوصية له لكونها بنت أبي بكر ، وأخت عائشة ، وامرأة الزبير ، فكانت كإحدى أهله [ ص: 339 ] ونسائه ، مع ما خص به صلى الله عليه وسلم أنه أملك لإربه . وأما إرداف المحارم فجائز بلا خلاف بكل حال .
      Berkata Qodhi iyadh : Ini adalah khusus untuk nabi dan bukan selainnya. maka telah diperintahkan pada kita untuk menjauhi antara laki-laki dan perempuan. dan kebiasaan nabi sallallahu alaihi wasallam adalah menjauhi para wanita agar menjadi contoh ummatnya. beliau berkata : Kekhusussan ini beliau lakukan karena ia ( asma’) adalah anak dari Abu Bakar, saudara dari ‘Aisyah, dan istrinya zubair,dan ia (asma’) seperti saudara sendiri. lagi pula nabi sallallahu alaihi wasallam adalah orang yang paling bisa menahan nafsunya.sedangkan menggoncengkan mahrom, maka itu diperbolehkan dalam kondoso bagaimanapun. ( syarh muslim oleh imam an nawawi)

      kami minta maaf jika ada polemik dalam hadist yang kami paparkan. dan memang untuk membahas hadist tersebut serta hukum memboncengkan non mahrom dengan penjelasan para ulama’ membutuhkan pembahasan khusus.

      Balas

  2. Posted by via on Februari 2, 2015 at 6:26 am

    artikel yang menarik, tulisan ini yang sedang saya cari,terus semangat menulis artikel-artikel bagus seperti ini. Saya tertarik dengan artikel ini, saya sering mengunjungi blog-blog keren lainnya juga lho.. salah satunya ini,coba deh kunjungi: http://www.inoagroup.com/2015/02/wanita.html

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: