MENCARI KEMULIAAN DENGAN TAWADHU’

Ketika orang sudah memiliki gelar yang mentereng, ilmu yang tinggi, harta yang banyak, sedikit yang memiliki sifat kerendahan hati. Kebanyakan orang sombong dengan berbagai prestasi duniawi yang mereka miliki. Dan bentuk kesombongan itu adalah sikap meremehkan orang lain yang berada di bawahnya dalam urusan-urasan duniawi. Padahal kita seharusnya seperti ilmu padi. Yaitu “kian berisi, kian merunduk”.
Ada peristiwa yang terjadi pada masa Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Suatu ketika unta beliau yang bernama Al ‘Adhaba dapat didahului oleh onta milik seorang Badui. Padahal sebelum itu, tak pernah sekalipun unta tersebut dapat didahului. Hal itu menyebabkan para sahabat menjadi jengkel, lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda ;

وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ

“Tiada seorangpun yang berlaku tawadhu’ karena Allah melainkan Allah akan meninggikan kedudukannya. (HR. Muslim).

Memahami Tawadhu’
Tawadhu’ adalah ridho jika dianggap mempunyai kedudukan lebih rendah dari yang sepantasnya. Tawadhu’ merupakan sikap pertengahan antara sombong dan melecehkan diri. Sombong berarti mengangkat diri terlalu tinggi hingga lebih dari yang semestinya. Sedangkan melecehkan yang dimaksud adalah menempatkan diri terlalu rendah sehingga sampai pada pelecehan hak (Lihat Adz Dzari’ah ila Makarim Asy Syari’ah, Ar Roghib Al Ash-fahani, 299).

Ibnu Hajar berkata, “Tawadhu’ adalah menampakkan diri lebih rendah pada orang yang ingin mengagungkannya. Ada pula yang mengatakan bahwa tawadhu’ adalah memuliakan orang yang lebih mulia darinya.” (Fathul Bari, 11: 341)

Ada faktor yang menyebabkan manusia menolak kebenaran dan bersikap takabur/sombong kepada manusia lain:
Pertama, pengaruh harta kekayaan. Tokoh yang ditampilkan Al-Qur-an, diperankan oleh Qarun.
Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (QS Al-Qashash: 76)

Kedua, pengaruh ilmu pengetahuan, yang diwakili oleh Haman, seorang menristeknya Firaun.
Dan berkatalah Fir’aun: “Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu. (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan Sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta”.. (QS Al-Mu’min:36-37)

Ketiga, pengaruh kekuasaan yang ditampilkan Al-Quran dalam sosok Firaun sendiri.
Firaun (seraya) berkata:”Akulah Tuhanmu yang paling tinggi”.(QS al-Nazi’at: 24)

Itulah gambaran Al-Quran tentang tokoh-tokoh yang memiliki kedudukan yang tinggi dan terhormat di tengah-tengah masyarakatnya, baik lantaran ilmu, kekayaan, dan kekuasaan, tetapi tidak dibarengi dengan bimbingan ruhani yang bersifat keagamaan. Bahkan, mereka cenderung menentang dakwah dan ajaran agama yang dibawa Nabi Musa dan Harun.

Kemuliaan tawadhu’
Tawadhu’ memiliki berbagai fadhilah dan kemuliaan. Diantara keutamaan tersebut adalah;
Pertama: Mendapatkan kemuliaan di dunia dan akhirat. Seseorang semakin tawadhu’ akan semakin mulia di dunia dan akhirat. Ia akan menjadi mulia di hadapan manusia dan mulia dihadapan Allah Ta’ala. Tetapi, jika seseorang sombong dan dan berbangga diri dengan harta, pangkat dan jabatan, ilmu dan yang lain, maka ia akan jauh dari Allah dan juga manusia. Dibenci Allah Ta’ala dan seluruh manusia di bumi. Ada sebuah hadist yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ;

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ

“Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba sifat pemaaf melainkan akan semakin memuliakan dirinya. Dan juga tidaklah seseorang memiliki sifat tawadhu’ (rendah diri) karena Allah melainkan Allah akan meninggikannya.” (HR. Muslim no. 2588).

Yang dimaksudkan di sini, Allah akan meninggikan derajatnya di dunia maupun di akhirat. Di dunia, orang akan menganggapnya mulia, Allah pun akan memuliakan dirinya di tengah-tengah manusia, dan kedudukan akhirnya semakin mulia. Sedangkan di akhirat, Allah akan memberinya pahala dan meninggikan derajatnya karena sifat tawadhu’nya di dunia (Lihat Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 16: 142).

Tawadhu’ juga merupakan akhlak mulia dari para nabi ‘alaihimush sholaatu wa salaam. Lihatlah Nabi Musa ‘alaihis salam melakukan pekerjaan rendahan, memantu memberi minum pada hewan ternak dalam rangka menolong dua orang wanita yang ayahnya sudah tua renta. Lihat pula Nabi Daud ‘alaihis salam makan dari hasil kerja keras tangannya sendiri. Nabi Zakariya dulunya seorang tukang kayu. Sifat tawadhu’ Nabi Isa ditunjukkan dalam perkataannya,

وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا

“Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.” (QS. Maryam: 32).

Demikian pula nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam juga menggembala kambing dari kaumnya. Bahkan hampir seluruh nabi menjadi penggembala kambing. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda ;

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا بَعَثَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلَّا رَعَى الْغَنَمَ فَقَالَ أَصْحَابُهُ وَأَنْتَ فَقَالَ نَعَمْ كُنْتُ أَرْعَاهَا عَلَى قَرَارِيطَ لِأَهْلِ مَكَّةَ

Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi melainkan dia mengembalakan kambing”. Para sahabat bertanya: “Termasuk engkau juga?” Maka Beliau menjawab: “Ya, aku pun mengembalakannya dengan upah beberapa Qiroth untuk penduduk Makkah”. (H.R.Bukhari )

Dalam hadis di atas, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam menjelaskan bahwa semua Nabi adalah penggembala kambing. Ketika para shahabat menanyakan apakah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam juga penggembala kambing, maka beliau menginformasikan sesuatu yang selama ini belum pernah mereka ketahui yaitu bahwa beliau pernah menjadi seorang penggembala kambing ketika beliau masih di Makkah. Beliau menggembala kambing-kambing milik penduduk Makkah dengan upah beberapa Qiroth atas jasa menggembala. Lihatlah sifat mulia para nabi tersebut. Karena sifat tawadhu’, mereka menjadi mulia di dunia dan di akhirat.

Kedua: Dicintai di tengah-tengah manusia. Semua orang tentu saja akan semakin menyayangi orang yang rendah hati dan tidak menyombongkan diri. Itulah yang terdapat pada sisi Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

وَإِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَىَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلاَ يَبْغِى أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ

“Dan sesungguhnya Allah mewahyukan padaku untuk memiliki sifat tawadhu’. Janganlah seseorang menyombongkan diri (berbangga diri) dan melampaui batas pada yang lain.” (HR. Muslim no. 2865).
Ketiga : Menjalankan perintah Alloh Ta’ala . Allah Ta’ala berfirman:

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman. (QS. asy-Syu’aro [26]: 215)

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: “Maksudnya adalah tawadhu’, karena orang yang sombong melihat dirinya bagaikan burung yang terbang di angkasa, maka Alloh Ta’ala memerintahkan untuk merendahkan sayapnya dan merendahkan diri terhadap orang-orang beriman yang mengikuti Nabi sallallahu alaihi wasallam” [Syarah Riyadhus Sholihin 3/515].

Keempat : Tawadhu’ adalah Perangai hamba yang terpuji. Allah Ta’ala berfirman

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْناً وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَاماً

“Dan hamba-hamba Alloh yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. al-Furqon [25]: 63)

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan: “Firman Allah Ta’ala berjalan di atas bumi dengan rendah hati yaitu mereka berjalan dengan tenang, penuh dengan ketawadhu’an, tidak congkak dan sombong.” [Madarijus Salikin 2/375, Ibnul Qoyyim, Tahqiq: Amir Ali Yasin].

Kelima : Mengangkat derajat seorang hamba. Sudah selayaknya bagi setiap muslim untuk berhias diri dengan sifat tawadhu’. Karena dengan tawadhu’ tersebut Allah Ta’ala akan meninggikan derajatnya. Rasulullah sallallahu alaihi sallam bersabda;

وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ

“Tidaklah seseorang tawadhu’ karena Alloh kecuali Alloh Ta’ala mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim: 2588)

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Hadits ini mempunyai dua makna:
Pertama: Allah Ta’ala akan meninggikan derajatnya di dunia, dan mengokohkan sifat tawadhu’nya dalam hati hingga Allah Ta’ala mengangkat derajatnya di mata manusia.
Kedua: Pahala di akhirat, yakni Alloh Ta’ala akan mengangkat derajatnya di akhirat disebabkan tawadhu’nya di dunia.[ Syarah Shohih Muslim 16/143].

Keenam : Mendatangkan rasa cinta, persaudaraan dan menghilangkan kebencian. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda:

وَإِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلَا يَبْغِ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ

“Sesungguhnya Alloh Ta’ala mewahyukan kepadaku agar kalian tawadhu’, hingga tidak ada seorang pun yang membanggakan dirinya atas orang lain dan tidak ada lagi orang yang menyakiti atas orang lain.” (HR. Muslim: 2865).

Jika begitu banyaknya keutamaan tawadhu’ maka sungguh suatu yang amat penting bagi setiap muslim untuk menghiasi diri dengannya. Dan tidaklah seseorang mendapat kebahagiaan di dunia dan akhirat keculi dengannya. Sebaliknya, kesengsaraan akan dirasakaan di dunia dan akhirat jika di dalam diri kita masih ada sifat-sifat kesombongan. Wallahu a’lam bis shawab.

One response to this post.

  1. ustadzah ijin share

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: