Semua Bermula Dari Mata

tundukkan pandanganMungkin kita sering mendengar istilah “dari mata turun ke hati”. Dari pandangan kemudian akan merasuk kedalam hati dan akan mempengaruhi prilaku. Istilah ini biasanya diungkapkan oleh orang-orang yang sedang jatuh cinta. Atau mereka yang sedang mengungkapkan rasa cinta. Tetapi sebenarnya tidak terbatas dalah hal cinta saja. Bahkan seseorang yang mengumbar matanya untuk menikmati para wanita yang mengumbar aurat di televisi, majalah atau mungkin dengan melihat langsung, akan turun ke hati. Jadilah ia kotoran-kotoran hati yang akan melahirkan perbuatan-perbuatan dosa.

Demikian pula dengan kebaikan. Diawali lewat mata yang digunakan pada kebaikan. Mata yang digunakan untuk membaca bacaan-bacan yang baik, tilawatul qur’an, menahan dari pandangan-pandangan yang berdosa, maka akan menjadikan hati bersih sehingga hidayah akan cepat masuk.

syaitan memang tak henti-hentinya menggoda manusia untuk terjerumus dalam kesesatan dan menjauhi perintah Allah. Bahkan hanya dengan memandang pakaian wanita pun hal tersebut bisa menjadi salah satu cara bagi syaitan untuk menjerumuskan manusia menuju maksiat. Maka, menjaga pandangan inilah yang bisa menjadi salah satu upaya untuk menghindari fitnah ini. Sesuai dengan firman Allah:

            •    

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat. ,”(QS. An Nuur: 30 )

Ibnul Qoyyim berkata, “Kebanyakannya maksiat itu masuk kepada seorang hamba melalui empat pintu, yang keempat pintu tersebut adalah kilasan pandangan, betikan di benak hati, ucapan, dan tindakan”
Tidak hanya laki-laki, wanita pun diperintahkan oleh Allah untuk menjaga pandangannya, sesuai dengan firman Allah yang artinya:

      

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya,”(QS. An Nuur: 31)

Dari ayat di atas, kita tahu bahwa Allah memerintahkan untuk menjaga pandangan ini kepada manusia baik laki-laki maupun wanita. Di zaman sekarang, hal ini memang cukup sulit untuk diamalkan. Tidak seperti zaman dahulu, mengingat saat ini musuh Islam telah berhasil menyebarkan sarana untuk merusak akhlak kaum muslimin bahkan sampai ke dalam rumah mereka. Meskipun ketika kita sedang dalam keadaan sendiri, godaan tersebut tetap saja ada. Diantaranya melalui tayangan televisi, kemudahan berkomunikasi, beberapa sosial media, dan yang lainnya yang mungkin bisa menjadi pintu syaitan bagi kita untuk melakukan maksiat. Maka, menjaga pandangan saat ini memang cukup sulit bagi mereka yang tetap ingin menjalankan sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Sebagai balasannya, Allah pun akan memberikan balasan sesuai dengan pengorbanan yang diberikan,

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ

“Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Allah kecuali Allah akan menggantikan bagi engkau yang lebih baik darinya” (Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Namun ada kalanya kita tidak sengaja ketika kita menatap yang diharamkan oleh Allah. Hal tersebut tidak apa-apa karena tidak sengaja asalkan tidak diikuti oleh pandangan yang berikutnya, tetapi alangkah baiknya jika kita mencegahnya dengan menundukan pandangan, sesuai dengan sabda Rasulullah sallallahu alaihi wasallam :

لاَ تُتْبِعُ النَظْرَةُ النَظْرَةَ فَإِنَّ لَكَ الْأُوْلَى وَلَيْسَتْ لَكَ اَلثَّانِيَةُ

Dari Buraidah, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Ali radliyallahu ‘anhu, : “Wahai Ali janganlah engkau mengikuti pandangan (pertama yang tidak sengaja) dengan pandangan (berikutnya), karena bagi engkau pandangan yang pertama dan tidak boleh bagimu pandangan yang terakhir (pandangan yang kedua)” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani).

Ketika mendengar perintah ini, mungkin ada banyak respon yang diberikan. Jika kita merasa bahwa mungkin kita telah mempraktekan amalan ini, tetapi berhati-hatilah dengan peringatan Allah mengenai pandangan mata yang berkhianat.
Berkata Syaikh Muhammad Amin, “Dengan demikian engkau mengetahui bahwasanya firman Allah (Dia mengetahui pandangan mata yang berhianat, QS 40 ayat 19) merupakan ancaman terhadap orang yang berkhianat dengan pandangannya yaitu dengan memandang kepada perkara-perkara yang tidak halal baginya” (Dzammul Hawa hal 65)

Berkata Ibnu Abbas menafsirkan ayat ini, “Seorang pria berada bersama sekelompok orang. Kemudian lewatlah seorang wanita maka pria tersebut menampakkan kepada orang-orang yang sedang bersamanya bahwa dia menundukkan pandangannya, namun jika dia melihat mereka lalai darinya maka diapun memandang kepada wanita yang lewat tersebut, dan jika dia takut ketahuan maka diapun kembali menundukkan pandangannya. Dan Allah telah mengetahui isi hatinya bahwa dia ingin melihat aurat wanita tersebut.”

Bicara tentang menjaga pandangan, bukan berarti kita menjaganya untuk dilihat orang. Hal ini kembali kepada niat kita untuk ikhlas atau mengharap ridha Allah. Dalam beramal memang hal ini menjadi salah satu kunci diterimanya suatu amalan. Jadi niatkanlah kita melakukan amalan ini untuk mendapatkan cinta-Nya, serta terhindar dari fitnah wanita.

Berdasarkan tulisan di atas kita tahu betapa sulitnya menjaga pandangan di zaman ini, maka dari itu Allah pun memerintahkan manusia untuk bertaubat agar mendapatkan ampunanNya setelah kita berikhtiar untuk menjaga pandangan. Hal ini sesuai dengan firman Allah diakhir ayat,
Dan bertaubatlah kalian sekalian kepada Allah wahai orang-orang yang beriman semoga kalian beruntung. (An-Nuur 31)

Balasan bagi yang dapat menahannya
Diantara beberapa hikmah dari menjaga pandangan adalah:

1. Surga Allah
Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda ;
اضْمَنُوا لِي سِتًّا مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَضْمَنْ لَكُمْ الْجَنَّةَ , اصْدُقُوا إِذَا حَدَّثْتُمْ , وَأَوْفُوا إِذَا وَعَدْتُمْ , وَأَدُّوا إِذَا اؤْتُمِنْتُمْ , وَاحْفَظُوا فُرُوجَكُمْ , وَغُضُّوا أَبْصَارَكُمْ , وَكُفُّوا أَيْدِيَكُمْ

Abu Umamah berkata,”Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Berilah jaminan padaku enam perkara, maka aku jamin bagi kalian surga. Jika salah seorang kalian berkata maka janganlah berdusta, dan jika diberi amanah janganlah berkhianat, dan jika dia berjanji janganlah menyelisihinya, dan tundukkanlah pandangan kalian, cegahlah tangan-tangan kalian (dari menyakiti orang lain), dan jagalah kemaluan kalian.” (HR.Ath-Thabrani dan Ibnu ‘Adi dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)

2. Merasakan manisnya iman
Orang-orang yang dapat menahan pandangan dari hal yang haram Allah gantikan dengan kelezatan iman. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda ;

إِنَّ النَّظْرَةَ سَهْمٌ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيسَ مَسْمُومٌ، مَنْ تَرَكَهَا مَخَافَتِي أَبْدَلْتُهُ إِيمَانًا يَجِدُ حَلاوَتَهُ فِي قَلْبِهِ

“Pandangan adalah salah satu diantara panah-panah Iblis, barangsiapa meninggalkannya karena takut kepada-Ku, niscaya aku akan memberikan ganti kepadanya dengan suatu keimanan yang bisa ia kelezatannya yang bisa ia rasakan didalam hati” [HR. Thobroni, Al hakim berkata hadist shshih ]

3. Membuat hati bercahaya dan melahirkan firasat yang benar
Ibnul Qoyyim rohimahullah mengatakan,
“Rahasia dari hal ini adalah bahwa balasan dari suatu amal adalah sesuai dengan amalan yang dikerjakan. Barangsiapa yang menundukkan pandangannya dari melihat yang haram maka Allah akan gantikan dengan sesuatu yang lebih baik darinya. Maka sebagaimana ia menahan pandangan dari hal-hal yang diharamkan maka demikian jugalah Allah akan penuhi hati dan pandangan orang tersebut dengan cahayaNya sehingga dia akan dapat melihat (dengan hatinya yang telah dipenuhi cahaya) apa yang tidak terlihat oleh orang yang tidak menundukkan pandangannya dari hal yang Allah Subhanahu wa Ta’ala haramkan”.

Abu Suja’ al Kirmani berkata :
مَنْ عَمَرَ ظَاهِرَهُ بِاتِّبَاعِ السُّنَّةِ، وَبَاطِنَهُ بِدَوَامِ الْمُرَاقَبَةِ، وَغَضَّ بَصَرَهُ عَنِ الْمَحَارِمِ، وَكَفَّ نَفْسَهُ عَنِ الشَّهَوَاتِ، وَأَكَلَ مِنَ الْحَلاَلِ- لَمْ تُخْطِئْ فِرَاسَتُهُ.
“Siapa yang menyuburkan lahiriahnya dengan mengikuti sunnah, menghiasi batinnya dengan muraqabah, menundukkan pandangannya dari yang haram, menahan dirinya dari syahwat, dan memakan yang halal maka firasatnya tidak akan salah.”

4. Menguatkan akal dan daya fikir serta menambahnya dan menegarkannya karena mengumbar pandangan tidaklah terjadi kecuali karena sempitnya dan ketidakstabilan daya pikir dengan tanpa memperhitungkan akibat-akibat buruk yang akan timbul.
Sahabat Mata’, setelah kita tahu bagaimana perintah Allah mengenai menjaga pandangan serta faedah yang didapat, alangkah baiknya kita mengamalkan hal ini. Ketika godaan untuk mengumbar pandangan itu datang, ingatlah ada Allah yang Maha Melihat, malaikat di samping kita yang mencatat amalan kita, serta bumi dan mata ini yang menjadi saksi akan perbuatan kita di akhirat kelak. Ingat pula akan kebaikan yang didapat dari menjaga pandangan karena Allah, Allah pun akan menggantikan keengganan kita untuk memandang yang diharamkan ini dengan yang lebih baik, hati yang dipenuhi cahaya Allah. Sungguh indah balasan yang diberikan Allah ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: