CERDAS DALAM HAL DUNIA BODOH TENTANG AKHIRAT

anak juaraBanyak orang yang merasakan susahnya hidup mencari rizki. Hanya untuk mencari kerja yang dapat memberikan penghasilan rutin setiap bulan saja sulit. Apalagi pekerjaan yang memberika gaji melimpah. Perasaan inilah yang kemudian menjadikan para orang tua berlomba untuk memberikan perbekalan ilmu-ilmu dunia pada anak-anak mereka. Tujuannya agar anak mereka mendapatkan pekerjaan yang layak untuk menopang kehidupan mereka.

Tak sedikit diantara mereka yang mencarikan sekolah favorit untuk sang buah hati. Tak hanya itu, diikutkanlah kursus-kursus dan les prifat agar nilainya tidak jemblok. Dicarikanlah prifat computer, bahasa inggris, matematika dan yang lainnya. Bahkan tidak ada waktu bagi anak kecuali belajar dan belajar. Pagi sekolah, siang sampai sore les dan prifat, malamnya belajar.

Sisi yang lain, banyak orang tua yang tidak memperhatikan pendidikan agama anak-anak mereka. Tidak ada dorongan orang tua untuk belajar membaca al qur’an di TPA, memahami makna-maknanya, menghafal al qur’an dan hadist, belajar akhlak dan adab-adab islami serta ilmu-ilmu islam lainnya. Bahkan tidak sedikit orang tua yang tenang-tenang saja saat anak-anak mereka tidak dapat membaca al qur’an. Fenomena ini terjadi hampir pada kebanyakan masyarakat kita hari ini.

Merenungi sebuah ayat

Semangatnya orang-orang hari ini untuk mengejar dunia dan jalan-jalan untuk mendapatkannya serta lalainya mereka pada akhirat telah disebutkan Allah Ta’ala dalam surat ar ruum ayat 7 ;

          

Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai. [ Ar Ruum : 7 ].

Ath Thobari rahimahullah menyebutkan sebuah riwayat dari Ibnu ‘Abbas yang menerangkan mengenai maksud ayat di atas. Yang dimaksud dalam ayat itu adalah orang-orang kafir. Mereka benar-benar mengetahui berbagai seluk beluk dunia. Namun terhadap urusan agama, mereka benar-benar jahil (bodoh). (Tafsir Ath Thobari, 18/462)

Fakhruddin Ar Rozi rahimahullah menjelaskan maksud ayat di atas, “Ilmu mereka hanyalah terbatas pada dunia saja. Namun mereka tidak mengetahui dunia dengan sebenarnya. Mereka hanya mengetahui dunia secara lahiriyah saja yaitu mengetahui kesenangan dan permainannya yang ada. Mereka tidak mengetahui dunia secara batin, yaitu mereka tidak tahu bahaya dunia dan tidak tahu kalau dunia itu terlaknat. Mereka memang hanya mengetahui dunia secara lahir, namun tidak mengetahui kalau dunia itu akan fana.” (Mafatihul Ghoib, 12/206)

Penulis Al Jalalain rahimahumallah menafsirkan, “Mereka mengetahui yang zhohir (yang nampak saja dari kehidupan dunia), yaitu mereka mengetahui bagaimana mencari penghidupan mereka melalui perdagangan, pertanian, pembangunan, bercocok tanam, dan selain itu. Sedangkan mereka terhadap akhirat benar-benar lalai.” (Tafsir Al Jalalain, hal. 416)

Syaikh Abu Bakr Jabir Al Jazairi hafizhohullah menjelaskan ayat di atas, “Mereka mengetahui kehidupan dunia secara lahiriah saja seperti mengetahui bagaimana cara mengais rizki dari pertanian, perindustrian dan perdagangan. Di saat itu, mereka benar-benar lalai dari akhirat. Mereka sungguh lalai terhadap hal yang wajib mereka tunaikan dan harus mereka hindari, di mana penunaian ini akan mengantarkan mereka selamat dari siksa neraka dan akan menetapi surga Ar Rahman.” (Aysarut Tafasir, 4/124-125)

Lalu Syaikh Abu Bakr Al Jazairi mengambil faedah dari ayat tersebut, “Kebanyakan manusia tidak mengetahui hal-hal yang akan membahagiakan mereka di akhirat. Mereka pun tidak mengetahui aqidah yang benar, syari’at yang membawa rahmat. Padahal Islam seseorang tidak akan sempurna dan tidak akan mencapai bahagia kecuali dengan mengetahui hal-hal tersebut. Kebanyakan manusia mengetahui dunia secara lahiriyah seperti mencari penghidupan dari bercocok tanam, industri dan perdagangan. Namun bagaimanakah pengetahuan mereka terhadap dunia yang batin atau tidak tampak, mereka tidak mengetahui. Sebagaimana pula mereka benar-benar lalai dari kehidupan akhirat. Mereka tidak membahas apa saja yang dapat membahagiakan dan mencelakakan mereka kelak di akhirat. Kita berlindung pada Allah dari kelalaian semacam ini yang membuat kita lupa akan negeri yang kekal abadi di mana di sana ditentukan siapakah yang bahagia dan akan sengsara.” (Aysarut Tafasir, 4/125)

Itulah gambaran dalam ayat yang awalnya menerangkan mengenai kondisi orang kafir. Namun keadaan semacam ini pun menjangkiti kaum muslimin. Mereka lebih memberi porsi besar pada ilmu dunia, sedangkan kewajiban menuntut ilmu agama menjadi yang terbelakang. Lihatlah kenyataan di sekitar kita, orang tua lebih senang anaknya pintar komputer daripada pandai membaca Iqro’ dan Al Qur’an. Sebagian anak ada yang tidak tahu wudhu dan shalat karena terlalu diberi porsi lebih pada ilmu dunia sehingga lalai akan agamanya. Sungguh keadaan yang menyedihkan.

Kenapa dunia diburu akhirat dilupa ?

Ada sebuah riwayat yang disebutkan Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Dari Arfajah ats tsaqofi yang bercerita : “saya pernah meminta kepada Ibnu Mas’ud untuk membacakan sabbihisma robbikal a’la. Tatkala beliau sampai pada ayat bal tu’tsirunal hayatad dunya [ mereka lebih mengutamakan kehidupan dunia] beliau menghentikan bacaannya dan mengarahkan pandangannya kepada para sahabat seraya berkata : Mengapa kebanyakan kita lebih mengutamakan dunia dibanding akhirat ?. orang-orang terdiam. Lalu beliau melanjutkan : “ [ kebanyakan] kita mengutamakan dunia karena dunia di depan mata. Kita melihat perhiasanya, wanita yang ada di dalamnya, makanan dan minumannya. Sedangkan akhirat ditangguhkan untuk kita. Lalu kebanyakan kita memilih yang segera dibandingkan pahala akhirat yang ditangguhkan.

Memang banyak orang yang ditanya, mana yang dipilih, kehidupan dunia dan perhiasannya ataukah akhirat dengan berbagai kenikmatannya ?. hampir kebanyakan orang akan menjawab akhirat. Tetapi ucapan kebanyakan manusia ini tidak sesuai dengan tindakannya. Jika memilih akhirat tentu ia akan berusaha sekuat tenaga untuk mempelajari jalan menuju kesana, beramal untuk bekalnya, dan tentunya dibarengi do’a dengan penuh harap dan cemas untuk mendapatkan pahalanya.

Mereka lebih senang memburu ilmu-ilmu yang menjadikan kesuksesan di dunia. Tahu persisi bagaimana jalan menuju kenikmatan dunia. Sehingga banyak manusia yang berburu title dan kesarjanaan untuk memudahkan mencari pekerjaan. Sementara banyak manusia yang lalai untuk mempelajari ilmu-ilmu agama di majlis-majlis taklim dan buku-buku islam.

Orang yang senang memburu dunia tidak akan menyesal jika pahala berlalu darinya. Sebaliknya, jika sebuah kesempatan untuk mendapat keduniaan lepas darinya, ia akan menyesal dengan penyesalan yang mendalam.
Jika memang kita cinta akhirat, pastilah menyesal jika kita bodoh dalam masalah-masalah aqidah, ibadah seperti shalat, puasa dan amalan-amalan lain. Karena dengan kebodohan tersebut akan menjadikan luputnya berbagai amal shalih pada kita. Padahal amal seseorang diterima salah satu syaratnya adalah sesuai dengan tuntunan.

Akhirat lebih utama

Dunia adalah sesuatu yang fana dan tidak kekal. Sedangkan ahirat adalah negeri yang kekal dan abadi. Tetapi banyak manusia yang memilih dunia dengan mengorbankan akhirat. Mereka cari dunia dengan sekuat tenaga, padahal ia tidak akan di nikmati selamanya. Sedangkan akhirat yang jelas akan ditemui dan menjadi tempat tinggalnya yang abadi tidak pernah mereka pikirkan dan mereka siapkan perbekalannya.

Ada gambaran yang sangat indah dari seorang ulama’ tabi’in Fudhail bin ‘Iyadh tentang hakekat dunia. Semoga memberi semangat kita untuk memburu akhirat dan jalan-jalan menuju ke sana : andaikan dunia itu sebagaimana emas yang dipinjamkan sekejap saja, sedangkan akhirat itu tembikar yang dimiliki selamanya, orang berakal lebih memilih tembikar yang dimiliki selamanya dibandingkan emas yang dimiliki sekejab saja. Apalagi ternyata dunia itu lebih rendah dibandingkan tembikar yang sebentar lagi sirna, sedangkan akhirat lebih berharga dibandingkan emas yang akan dimiliki selamanya. Bagaimana manusia bisa memilih tembikar yang nyaris pecah dari pada emas yang kekal selamanya ?.

Itulah gambaran dunia dibandingkan akhirat. Betapa mulia dan agungnya akhirat sangat jauh jika dibandingkan dunia. Tetapi kenapa masih banyak orang yang beitu gigih mencari jalan-jalan kebahagiaan dunia, seakan tidak ada capek dan lelahnya. Sementara badan terasa lemas, pikiran menjadi tumpul serta keinginan menjadi lemah jika sudah berhubungan dengan akhirat. Kita memohon pada Allah Ta’ala untuk meringankan kita dalam urusan akhirat, dan memudahkan kita dalam mempelajari berbagai ilmu yang menghantarkan kita pada kebahagiaan di akhirat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: