Mengapa Manisnya Iman Tidak Terasa ?

manisnya imankawanku yang berbahagia..pernahkah anda merasakan manisnya iman?. Yaitu saat ibadah yang kamu kerjakan, sholatmu.. zakatmu… shodaqohmu… pernahkah singgah kedamaian dalam hatimu setelah kau jalankan itu semua ?. Atau kamu melakukan semua itu karena semata-mata kewajiban yang harus kamu penuhi, bukan merupakan panggilan dari dalam hatimu. Bukan panggilan karena ikhlasanmu… bukan panggilan karena keridhoaanmu… lantas apakah yang kamu lakukan membekas atau tidak dihatimu kawan?. Bisakah kau menjwabnya?. Atau kamu menganggap itu hanya rutinitas harianmu, mengisi waktu luangmu… andai para nabi tidak mengajarkan kamu untuk menjalankannya masihkah kamu kan menjalankan.. lantas bagaimana bisa, kamu minta merasakan manisnya iman…???

Sebuah kisah inspiratif

Suatu petang selepas shalat Isya, seseorang datang ke tempat ustadz Soleh. Pakaiannya rapi, di saku bajunyapun terselip sebuah pulpen parker. Sorot matanya tajam, walau dibalut kaca mata minus.
Kedatangannya ke tempat ustadz Soleh hanya ingin berkonsultasi tentang bagaimana merasakan manisnya ibadah.

Setelah berbasa – basi, orang itupun mulai bertanya kepada ustadz Soleh.

”Maaf nih ustadz, saya sudah bertanya ke beberapa orang tentang suatu hal, yang menurut saya, sulit untuk difahami oleh saya. Penjelasan yang diberikan oleh orang – orang yang saya ajak bicara, hanya bersifat verbal dan sulit difahami oleh akal sehat saya” celoteh orang itu.

”Lo… kalau sampeyan, sudah bertanya ke beberapa orang mengapa masih tanya kepada saya ?” jawab ustadz Soleh.

”Nah… justru saya tidak menemukan jawaban yang memuaskan, makanya saya ingin bertanya kepada ustadz Soleh.”

”Jadi… apa nih, masalah sebenarnya ?”, tanya ustadz Soleh sambil terus senyum.

”Merasakan manisnya ibadah ustadz ….. ” celetuk orang itu.

”Lo… itu sudah jelas, tidak sedikit dalil yang menerangkan tentang manisnya ibadah.” jawab ustadz Soleh.

”Justru itu ustadz, saya dibuat pusing……. sekarang logikanya begini ustadz, bagaimana mungkin ibadah kok terasa manis ? kalau maksiat dibilang manis, itu masuk logika ustadz.” sergah orang itu.

Diam – diam ustadz Soleh mulai mengetahui arah pembicaraan orang yang ada di depannya. Dari bibirnyapun terdengar lirih lantunan istighfar. Sementara ustadz Soleh masih terdiam, orang itupun berkata lagi.

”Sekarang begini ustadz, seumpama saya bekerja di sebuah perusahaan sebagai kepala bagian purchasing, otomatis semua vendor – vendor yang ingin memasukkan barang ke tempat perusahaan saya bekerja, keputusannya ada di tangan saya. Nah, di posisi yang seperti ini ustadz, bukankah korupsi merupakan hal yang manis ? dan saya pun yakin banyak orang yang mengidam–idamkan posisi seperti yang saya tempati.
Kenapa ? karena posisi basah ustadz, kenapa basah ? ya … karena banyak sumber uang yang bisa dikorupsi.”

Mendengar ocehan orang itu, ustadz Solehpun masih terdiam. Melihat diamnya ustadz Soleh orang itupun kembali melanjutkan bicaranya.

”Terus sekarang kan lagi ramai – ramainya piala dunia ustadz, sudah menjadi tren khususnya di kota – kota, ada acara nonton bareng piala dunia. Nah… biar lebih jreng ada juga yang pakai taruhan, biar lebih semangat… kalau jagoannya menang, selain senang, masih ada bonusnya ustadz… yakni dapat uang taruhan, yang begini … nih… kan manis namanya.”

Sesaat kemudian, orang itu terlihat mengakhiri pembicaraannya. Ustadz Solehpun masih terdiam termangu – mangu mendengar penuturan orang itu.

Dalam lubuh hati yang terdalam ustadz Soleh berkata, ”orang seperti ini belum tentu terbuka hatinya, bila dijawab langsung dengan menukil ayat–ayat Al Qur’an ataupun Al Hadits, bagi dia hanya jawaban yang masuk logika yang bisa ia terima.”

”Sudah, hanya itu ceritanya ?” mendadak ustadz Soleh bertanya.

”Ya itu ustadz, realita yang ada sekarang… yang membuat saya tidak bisa mengerti, dan memahami, ”merasakan manisnya ibadah.” jawab orang itu.

Setelah terdiam sebentar, sesaat kemudian ustadz Soleh berkata, ” Mau minum kopi atau teh manis, ni ?” ”Teh manis, saja ustadz….. kalau tidak merepotkan”, jawab orang itu.

Sesaat kemudian, ustadz Solehpun meminta isterinya membuatkan dua gelas teh manis untuk dirinya dan orang itu. Setelah sama – sama meminum, ustadz Soleh berkata. ” Teh ini…. rasanya manis ya ? ”

” Ya … iya lah ustadz, wong pakai gula… ya jelas manis rasanya.” jawab orang itu.

” Tapi, ada juga lo…. orang yang tidak bisa merasakan manisnya gula ?” balas ustadz Soleh.

”Ga mungkin ustadz…. sudah dari sononya gula rasanya manis, mau bodoh, mau pinter, mau pejabat, mau pengemis…. kalau minum pakai campuran gula…jelas rasanya manis.” jawab orang itu.

”Orang yang sedang sakit…………” jawab ustadz Soleh.

Orang itupun tersenyum …. mendengar jawaban ustadz Soleh. Sesaat kemudian ustadz Soleh melanjutkan kata – katanya.

”Orang yang sedang sakit, tidak bisa merasakan manisnya gula. Terlepas yang sakit orang bodoh, orang pinter, pejabat, pengemis, disaat sedang sakit, gula yang sejatinya rasanya manis terasa pahit dilidah orang sakit itu.”

”Rasa pahit yang ia rasakan, bukan karena gula tidak manis rasanya, namun karena ia sedang dalam keadaan sakit…., ia tidak bisa merasakan manisnya gula…. melainkan pahit, walaupun rasa gula yang sesungguhnya rasanya manis.”

”Orang yang sakit, bisa kembali merasakan manisnya rasa gula, ketika ia sudah menjadi sehat. Ia bisa menjadi sehat dikala penyakit–penyakit dalam tubuhnya sudah diobati dengan obat yang sesuai untuk penyakitnya, serta ditangani oleh dokter yang memang ahli mengobati penyakit tersebut.”

”Di saat sakitnya telah sembuh, dan sehatnya telah kembali, maka orang tersebut ketika meminum teh manis… bukan lagi pahit yang ia rasakan seperti rasa saat sakit, melainkan manis yang ia rasakan sebagaimana rasa yang dialami oleh orang – orang sehat lainnya.”

Mendengar penuturan dari ustadz Soleh, wajah orang itu sedikit kelihatan pucat….diam–diam, ia mulai sedikit memahami pembicaraan ustadz Soleh. Setelah menghela nafas, untaian kalimat meluncur dari ustadz Soleh.

”Orang yang hatinya mengidap penyakit tidak akan bisa merasakan manisnya ibadah, walaupun dijelaskan dengan penjelasan panjang lebarpun tidak akan bisa menerimanya, sebagaimana orang yang sedang sakit tidak bisa merasakan manisnya gula, walaupun dijelaskan secara ilmiah tentang zat pemanis yang terkandung di dalam gula.”

”Orang bisa merasakan manisnya ibadah, dikala penyakit–penyakit dihatinya telah terobati, serta ditangani oleh guru pembimbing yang sempurna sebagaimana ditangani oleh dokter – dokter ahli”
”Begitu mutlaknya guru pembimbing, karena hanya dengan bimbingannyalah kita mengetahui jenis–jenis penyakit yang ada dalam hati kita, sebagaimana seorang dokter lebih mengetahui jenis penyakit yang diderita oleh tubuh kita, dibanding diri kita sendiri yang penuh kebodohan.”

”Orang – orang yang sakit hatinya, walaupun sedang beribadah dihamparan permadani Rabbani dan berhadapan secara langsung secara hakiki dengan Allah Ta’ala, tidak bisa merasakan manisnya sebuah ibadah, padahal Allah sudah sangat dekat dan bahkan lebih dekat dari urat lehernya sendiri.”

Sakitnya hati adalah penyebabnya

Wahai saudaraku, sudah tahukah apa yang harus kita perbaiki dari sekarang..
Hati kita wahai saudaraku…hati kita … hatikita banyak sekali penyakit yang menjangkitinya..
Sudahkah kita mengobatinya…sudahkah kita minta ampunanya.. ?

Yahya Ibnu Mu’adz berkata :

سَقَمَ الْجَسَدِ بِالْأَوْجَاعِ وَسَقَمَ الْقُلُوْبِ بِالذُّنُوْبِ فَكَمَا لاَ يَجِدُ لَذَّةَ الْجَسَدِ لَذَةَ الطَّعَامِ عِنْدَ سَقَمِهِ فَكَذَالِكَ الْقَلْبُ لاَ يَجِدُ حَلاَوَةَ الْعِبَادَةِ مَعَ الذُّنُوْبِ
Sakitnya jasad dengan luka. Dan sakitnya hati dengan dosa. Sebagaimana tidaklah seseorang mendapatkan kenikmatan badan akan makanan ketika sakit, demikian hati, tidak akan mendapat manisnya ibadah bersamaan dengan dosa. [ Hakadza kana shalihun : 3 ]

Ternyata dosa adalah penyebab beratnya kita dalam melakukan ibadah. Dosa yang menyebabkan kita berat untuk membaca al qur’an. Dosa pula yang menyebabkan kita tidak dapat bangun pada malam hari dan melakukan qiyamul lail.

Ibrahim bin Adm pernah ditanya seseorang. Aku tidak dapat bangun dimalam hari, berikanlah aku resep agar aku bisa bangun. Kemudian beliau berkata : jangan engkau bermaksiat kepada-Nya [ Allah ], karena Ia lah yang membangunkanmu di waktu malam. Dan sesungguhnya shalatmu pada malam hari adalah sebesar-besar kemuliaan. Sedang kemuliaan itu tidak akan Allah berikan kepada orang yang bermaksiat. [Hakadza kana shalihun : 3 ]

Saudaraku yang dirahmati Allah Ta’ala. Mari kita lihat diri kita. Apakah kita masih berat dalam melaksanakan berbagai ketaatan ?. Sudahkah kita merasakan nikmatnya bermunajad ?. Atau nikmat tersebut pernah kita rasakan akan tetapi kini hilang ?. jangan biarkan nikmatnya ibadah ini hilang dari kita !. Raihlah dengan menjauhi maksiat. Karena kenikmatan diakhirat tidak akan didapatkan kecuali orang yang telah merasakan nikmatnya iman di dunia.

2 responses to this post.

  1. semoga bermanfaat

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: