SAAT RASA MALU HILANG DARI SESEORANG

Manusia akan tetap dalam kebaikan selama rasa malu masih terpelihara. Karena rasa malu itulah yang menyebabkan seseorang menjauhi maksiat, selalu dalam ketaatan dan kebaikan. Dan jika rasa malu ini telah hilang dari seseorang, maka hilanglah berbagai kebaikan dari dirinya.

الْحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ قَالَ أَوْ قَالَ الْحَيَاءُ كُلُّهُ خَيْرٌ

“Malu itu adalah baik semuanya.” Atau dia berkata, “Malu itu semuanya adalah baik.” ( HR. Muslim ).

Terlebih lagi kaum wanita, makhluk yang Allah jadikan lebih banyak memeiliki rasa malu dibandingkan lelaki. Namun ironisnya, hari ini banyak wanita yang justru mencampakkan jauh-jauh sifat mulia yang terpuji ini. Sehingga, terlalu banyak kita jumpai kaum wanita yang lebih tidak tahu malu dari pada laki-laki.

Wanita di zaman ini telah pudar rasa malunya. Sehingga hakikat penciptaan wanita—yang seharusnya—menjadi perhiasan dunia dengan keshalihahannya, menjadi tak lagi bermakna. Di zaman ini wanita hanya dijadikan objek kesenangan nafsu. Hal seperti ini karena perilaku wanita itu sendiri yang seringkali berbangga diri dengan mengatasnamakan emansipasi, mereka meninggalkan rasa malu untuk bersaing dengan kaum pria. Akhirnya banyak para wanita yang keluar rumah dengan celana pendek, pakaian ketat, atau pakaian serba mini dengan alasan kebebasan mengikuti tren agar tak ketinggalan zaman.

Di zaman ini justeru banyak wanita yang memilih mendapatkan mahkota ‘kehormatan’ dari ajang kontes-kontes yang mengekspos kecantikan para wanita. Tidak hanya sebatas kecantikan wajah, tapi juga kecantikan tubuh diobral demi sebuah mahkota ‘kehormatan’ yang terbuat dari emas permata. Para wanita berlomba-lomba mengikuti audisi putri-putri kecantikan, dari tingkat lokal sampai tingkat internasional. Hanya demi sebuah mahkota dari emas permata dan gelar ‘Putri Kecantikan’ atau sejenisnya, mereka rela menelanjangi dirinya sekaligus menanggalkan rasa malu sebagai sebaik-baik mahkota di dirinya. Naudzubillah min dzaliik…

Kitapun juga diperlihatkan tingkah para ABG yang bergandengan tangan bersama pasangan-pasangan mereka atau berpelukan saat naik kendaraan tanpa ada rasa malu. Atau ibu-ibu dan bahkan nenek-nenek yang memakai rok mini atau celana pendek dengan dandanan menor pada pipi dan bibirnya. Tidak hanya itu, budaya suap, korupsi, kolusi dan nepotisme seakan sudah menjadi kebiasaaan yang tidak lagi tabu di masarakat kita hari ini.

Rasa Malu Menurut Para Ulama

Para ulama salaf banyak yang memberikan komentar atau tanggapan serta mendefinisikan tentang malu tersebut, dimana meskipun disampaikan oleh banyak ulama, namun pada intinya subtansi pengertian malu tersebut adalah sama walau pengungkapan kalimatnya yang berbeda.

Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam kitab beliau Tazkiyatun Nafs, al-Hayaa’ atau malu adalah turunan dari kata al-Hayaat ( hidup), karena hati yang hidup berarti pemiliknya juga memiliki rasa malu., didalmnya terdapat sifat malu yang dapat menghalanginya dari berbagai perbuatan buruk, karena hidupnya hati adalah penghalang dari keburukan yang dapat merusak hati.

Menurut penuturan Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah alhaya’ (rasa malu) diambil dari kata-kata hayat (kehidupan). Sehingga kekuatan rasa malu itu sebanding lurus dengan sehat atau tidaknya hati seseorang. Berkurangnya rasa malu merupakan pertanda dari matinya hati dan ruh orang tersebut. Semakin sehat suatu hati maka akan makin sempurna rasa malunya.

Al-Imam Al-Khaththabi rahimahullah mengatakan –sebagaimana dinukil oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah, “Yang dapat mencegah seseorang terjatuh dalam kejelekan adalah rasa malu.Sehingga bila dia tinggalkan rasa malu itu, seolah-olah dia diperintah secara tabiat untuk melakukan segala macam kejelekan.” (Fathul Bari, 10/643)

Muslim yang mempunyai rasa malu akan terhalangi dari perkara-perkara yang buruk dan jelek, baik rasa malu yang berlaku secara tabi’at maupun rasa malu yang lahir karena keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ibnu Qutaibah rahimahullah mengatakan, “ rasa malu termasuk iman, artinya iman itu dapat menghalangi pelakunya dari melakukan kemaksiatan sebagaimana iman menghalangi pelakunya dari hal itu. Ia disebut iman sebagaimana sesuatu disebut dengan sebutan sesuatu yang menduduki kedudukannya.

Malu adalah suatu akhlak terpuji yang mendorong seseorang untuk meninggalkan suatu amalan yang mencoreng jiwanya, karena akhlak ini bisa mendorong dia untuk berbuat kebaikan dan menjauhi kemungkaran. Dia merupakan hijab yang bersifat umum yang diperintahkan kepada setiap muslim.

Rasa malu merupakan bagian dari keimanan bahkan dia merupakan salah satu indikator tinggi rendahnya keimanan seorang muslim. Karenanya, manusia yang paling beriman -yaitu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam- adalah manusia yang paling pemalu, bahkan melebihi malunya para wanita yang dalam pingitan.
Intinya, malu tidaklah menghasilkan kecuali kebaikan dan dia tidaklah datang kecuali dengan membawa kebaikan pula. Karenanya wasiat malu ini merupakan wasiat dari para nabi sejak dari zaman ke zaman kepada umatnya, agar mereka bisa menjaga sifat malu mereka. karena rasa malu akan menjaga kehormatan mereka di dunia dan jasad mereka di akhirat kelak.

Dampak Hilangnya Rasa Malu Dalam Diri

Jika kita mau memperhatikan kondisi dan keadaan manusia secara cermat, niscaya kita akan mendapati bahwa berbagai keburukan dan kejelekan terjadi, dikarenakan telah kehilangan rasa malu. Jika rasa malu dengan kedua jenisnya telah hilang dari seseorang maka tak ada lagi kebaikan yang bisa diharapkan. Bahkan bisa jadi dirinya telah berubah menjadi syetan karena telah bangga dengan perbuatan dosa.

Setiap orang mempunyai rasa malu. Akan tetapi, rasa malu itu bisa luntur dan pudar, hingga akhirnya lenyap (mati) karena berbagai sebab. Jika malu sudah mati dalam diri seseorang, berarti sudah tak ada lagi kebaikan yang bisa diharapkan dari dirinya. Dalam sebuah hadits Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الْأُولَى إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَافْعَلْ مَا شِئْتَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perkataan pertama yang diperoleh oleh manusia dari perkataan kenabian adalah, ‘Jika kamu tidak malu maka berbuatlah sesukamu.” [ HR. Abu Daud 4164 ].

Dapat dibayangkan, bila rasa malu itu telah luntur bahkan mungkin hilang dalam diri seseorang, segala perilakunya makin sulit dikendalikan. Sebab, dia akan melakukan berbagai perbuatan tak terpuji, seperti mencuri , korupsi, , menipu, mempertontonkan aurat dengan pakaian yang seksi dan mini, berzina, mabuk-mabukan, pembajakan, pelecehan seksual, dan pembunuhan. Mereka sudah dikuasai oleh nafsu serakah. Orang yang sudah dikuasai nafsu serakah dan tidak ada lagi rasa malu dalam dirinya maka perbuatannya sama dengan perilaku hewan yang tidak punya akal. Berbagai macam kemaksiatan dan kemunkaran merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan lagi dari kehidupannya sehari-hari. Tidak bisa lagi membedakan yang mana haram dan yang mana halal. Bahkan ada diantara orang yang berucap sekarang ini jangankan yang halal, sedangkan yang haram saja sudah sulit diperoleh, nauzubillah minzdalik.

Hilangnya rasa malu pada diri seseorang merupakan awal datangnya bencana pada dirinya. Sebuah hadits menyebutkan :

عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا أَرَادَ أَنْ يُهْلِكَ عَبْدًا نَزَعَ مِنْهُ الْحَيَاءَ فَإِذَا نَزَعَ مِنْهُ الْحَيَاءَ لَمْ تَلْقَهُ إِلَّا مَقِيتًا مُمَقَّتًا فَإِذَا لَمْ تَلْقَهُ إِلَّا مَقِيتًا مُمَقَّتًا نُزِعَتْ مِنْهُ الْأَمَانَةُ فَإِذَا نُزِعَتْ مِنْهُ الْأَمَانَةُ لَمْ تَلْقَهُ إِلَّا خَائِنًا مُخَوَّنًا فَإِذَا لَمْ تَلْقَهُ إِلَّا خَائِنًا مُخَوَّنًا نُزِعَتْ مِنْهُ الرَّحْمَةُ فَإِذَا نُزِعَتْ مِنْهُ الرَّحْمَةُ لَمْ تَلْقَهُ إِلَّا رَجِيمًا مُلَعَّنًا فَإِذَا لَمْ تَلْقَهُ إِلَّا رَجِيمًا مُلَعَّنًا نُزِعَتْ مِنْهُ رِبْقَةُ الْإِسْلَامِ

dari Ibnu Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila Allah ‘azza wajalla hendak membinasakan seorang hamba maka Dia akan memcabut rasa malu darinya, apabila rasa malu sudah dicabut darinya maka kamu akan mendapatinya dalam keadaan sangat dibenci. Jika kamu tidak mendapatinya melainkan dalam keadaan sangat dibenci, maka akan dicabut amanah darinya, apabila amanah telah dicabut darinya, maka kamu tidak mendapatinya kecuali dalam keadaan menipu dan tertipu. Apabila kamu tidak menjumpainya melainkan dalam keadaan menipu dan tertipu, maka akan dicabut darinya sifat kasih sayang, dan apabila dicabut darinya kasih sayang, kamu tidak akan menjumpainya kecuali dalam keadaan terlaknat lagi terusir, dan apabila kamu tidak menjumpainya melainkan dalam keadaan terlaknat lagi terusir, maka akan dicabut darinya ikatan Islam.” [Sunan Ibnu Majah 4044 ].

Dunia modern telah menunjukkan kecemerlangannya. Ilmu pengetahuan dan teknologi kian menunjukkan kecanggihannya. Tetapi sangat disayangkan jika manusia-manusia yang bercokol diatas bumi ini hanyut dalam arus moderenisasi dengan keangkuhannya. Hal ini ditunjukkan dengan terjadinya degradasi moral yang terlihat dengan nyata disetiap sudut dan pelosok. Akhlak yang miskin akan syari’at semakin meluncur jatuh ketitik nadir sehingga sepertinya sulit untuk bangkit kembali.

Jika rasa malu pada jaman dahulu saja sangat ditekankan oleh rasulullah sallallahu alaihi wasallam, maka zaman ini lebih butuh lagi oleh kita. Kita membutuh generasi-generasi yang masih memiliki rasa malu untuk membenahi ummat serta menuntun mereka pada jalan kebenaran.

Hilangnya rasa malu dalam diri kebanyakan orang merupakan penyebab dari kehancuran iman, karenanya apabila dibiarkan berlarut-larut tanpa disadari oleh mereka maka ujung-ujungnya berakhir pada kemurkaan Allah ‘aazza wa jalla. Marilah kita lihat diri kita. Apakah rasa malu saat berbuat dosa masih kita rasakan ?. Atau bahkan bangga dengan perbuatan dosa ?. tidak dapat dijawab kecuali diri kita sendiri. Hanya pada Allah kita memohon agar diberikan rasa malu tersebut dan dikuatkan pada diri kita.

One response to this post.

  1. Posted by dwidaniarti on November 19, 2012 at 4:35 am

    Reblogged this on Dani Notes and commented:
    Add your thoughts here… (optional)

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: