PILIHLAH LINGKUNGAN YANG SHALIH

Kepribadian atau perilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungannya. Entah lingkungan tempat tinggalnya, lingkungan kerja, teman dekat, dan lingkungan-lingkungan lainnya. Karena itu, tak salah jika dikatakan, “Bergaul dengan tukang minyak wangi akan kecipratan wanginya. Bergaul dengan ‘pandai besi’ akan terpercik apinya.”

Hal ini sesuai dengan sabda Baginda Nabi sallallahu alaihi wasallam, sebagaimana penuturan Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, yang menyatakan,

مَثَلُ الْـجَلِيْسِ الصَّالـِحِ وَالسُّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيْرِ. فَحَامِلُ الْـمِسْكِ إِمَّا أَنْ يَحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيْحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيْرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيْحًا خَبِيْثَةً

“Sesungguhnya kawan duduk dalam rupa orang yang shalih dan kawan duduk dalam rupa orang yang suka maksiat adalah seumpama tukang minyak wangi dan pandai besi. Tukang minyak wangi boleh jadi akan mencipratkan minyak wangi ke badanmu, atau engkau membeli minyak wangi dari dia, atau engkau mendapatkan bau harum dari dirinya. Adapun pandai besi boleh jadi memercikkan api ke bajumu atau engkau mendapati bau busuk dari dirinya.” (Mutaffaq ‘alaih).

Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan, “Hadits ini menunjukkan larangan berteman dengan orang-orang yang dapat merusak agama maupun dunia kita. Dan hadits ini juga menunjukkan dorongan agar bergaul dengan orang-orang yang dapat memberikan manfaat dalam agama dan dunia.” [ Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 4/324, Darul Ma’rifah, Beirut, 1379 ].

Maknanya, bergaul dengan orang baik atau lingkungan yang baik akan terbawa baik dan kecipratan kebaikannya. Sebaliknya, bergaul dengan orang jahat atau lingkungan yang jahat akan terbawa jahat dan kecipratan keburukannya. Dalam hal ini, seseorang biasanya akan mencontoh perilaku orang lain yang ada dalam lingkungan pergaulannya.

Utamakan lingkungan yang shalih
Ada sebuah ungkapan “ikhtiyarul jaar qobla ad daar” yaitu memilih tetangga sebelum tempat tinggal. Ungkapan ini sangat dalam mengajarkan pada kita untuk memprioritaskan dalam memilih lingkungan yang shalih sebelum membangun rumah. Dan memilih rumah itu tidaklah seperti seseorang yang membeli baju, yang jika tidak senang bisa dia ganti dengan lainnya. Akan tetapi mempertimbangkan lingkungan menjadi prioritas utama.

Pada saat ini banyak orang yang menawarkan berbagai rumah dengan masing-masing tipenya. Bahkan pilihan selera para selebritis dan kalangan elitpun menggejala. Persaingan fasilitas, kemewahan serta kenyamanan mewarnai bisnis properti ini. Tetapi jarang dan hampir kita belum temukan sebuah iklan yang menawarkan perumahan dengan menjamin keshalihan lingkungannya. Padahal justru inilah yang amat mahal sehingga tidak dapat dihargai dengan uang.

Kemewahan bisa didapat dengan harta yang banyak, tetapi keshalihan tidak dapat dibayar hanya dengan duit. Siapa yang berani menawarkannya ?.

Maka sebagai seorang muslim yang baik haruslah berusaha untuk menjauhi lingkungan yang merusak. Lingkungan amat berpengaruh pada kepribadian warganya. Masyarakat yang tidak memegang nilai kebaikan akan memungkinkan terjadinya berbagai bentuk penyimpangan dan penyelewengan. Mulai dari penyimpangan akidah berupa syirik, tahayul khurafat, perdukunan dan lainnya, hingga penyelewengan akhlaq yang tak terkirakan banyaknya.

Tetapi jika memang telah meniatkan untuk dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar di sebuah masyarakat yang rusak, maka ia harus mempersiapkan berbagai bekal dan melihat kemampuannya. Tetapi jika dia tidak mampu dan ternyata malah membahayakan imannya dan keluarga, wajib baginya untuk mencari lingkungan yang shalih. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda :

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ قَالَ رَجُلٌ جَاهَدَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ وَرَجُلٌ فِي شِعْبٍ مِنْ الشِّعَابِ يَعْبُدُ رَبَّهُ وَيَدَعُ النَّاسَ مِنْ شَرِّهِ

Dari Abu Sa’id al khudri berkata, datang seorang arab badui pada nabi sallallhu alaihi wasallam dan berkata : Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling baik ?. Beliau berkata : seseorang yang berjihad dengan jiwanya dan hartanya serta seseorang yang menyepi untuk beribadah pada Rob-nya dan menghindar dari kejelekan manusia. [ HR. Muttafaq ‘alaihi ].

Carilah Teman yang Shalih
Teman yang shalih ibarat makanan yang setiap saat kita butuhkan. Sehari saja kita tidak mengkonsumsinya, maka akan terasa lapar. Sama halnya dengan orang-orang yang shalih di sekitar kita. Mereka tidak hanya sebuah makanan, tetapi gizi yang akan menghidupkan serta menyuburkan iman kita.

Kita harus pergauli mereka seperti kebutuhan kita terhadap gizi. Karena gizi tersebut senantiasa dibutuhkan tubuh pada siang dan malam hari. Ia tidak bisa lepas dari kita, selama jasad ini masih bernafas. Mereka inilah para ulama dan para ustadz yang senantiasa mengarahkan kita dengan al quran dan sunnah nabinya sallallahu alaihi wasallam. Kita harus jadikan mereka sebagai teman-teman dekat. Karena hanya lewat merekalah kita akan mendapat keberuntungan di atas keberuntungan.
Maka tidak berlebihan jika Imam Hasan al Bashri pernah berkata :

إِخْوَانُنَا أَغْلَى عِنْدَنَا مِنْ أَهْلِيْنَا فَأَهْلُوْنَا يُذَكِّرُوْنَنَا الدُّنْيَا ، وَإِخْوَانُنَا يُذَكِّرُوْنَنَا بِالْآخِرَةِ

“Saudara-saudara seiman bagi kami lebih berharga dari pada keluarga. Keluarga mengingatkan kami tentang dunia, sedangkan saudara-saudara seiman mengingatkan kami tentang akhirat.”

Sifat orang-orang tersebut, seperti yang disabdakan oleh Rasulullah :

إِنَّ مِنَ النَّاسِ نَاسًا مَفَاتِيْحٌ لِلْخَيْرِ مَغَالِيْقُ لِلشَّرِّ

“Sesungguhnya diantara manusia ada orang-orang yang menjadi kunci-kunci kebaikan dan penutup segala keburukan “Derajat Hadits ini Hasan, diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Anas secara marfu (237) dan dari Ibnu Abi Ashim dalam Kitab As Sunnah, juz 1, hal 127, lihat As Silsilah As Shahihah (1332).

Mencari ulama, orang-orang shaleh dan para da’i yang beriman serta selalu berada disekeliling mereka adalah sangat besar peranannya dalam mendatangkan keteguhan. Dalam sejarah Islam banyak terjadi fitnah tetapi Allah ta’ala memberikan keteguhan lewat beberapa orang.

Diantaranya apa yang dikatakan oleh Ali bin Al Madini -rahimahullah taala- :

أَعَزَّ اللهُ الدِّيْنَ بِالصِّدِّيْقِ يَوْمَ الرِّدَّةِ وَبِأَحْمَدَ يَوْمَ الْمِحْنَةِ

“Allah telah memuliakan agama ini dengan (Abu Bakar) As-Shiddiq pada peristiwa riddah (sebagian rakyatnya murtad) dan dengan Imam Ahmad pada saat terjadinya ujian (fitnah yang ditimbulkan oleh kaum Mu’tazilah yang mengatakan bahwa Al Quran adalah makhluk)” . Siyar A’lam An Nubala, juz 11, hal 196.

Perhatikanlah apa yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah tentang peranan gurunya yaitu Syaikhul Islam dalam mendatangkan keteguhan: “Jika kami sedang diliputi kekhawatiran, sementara pandangan sudah kacau dan bumi tempat berpijak terasa sempit, maka tidak ada yang kami lakukan kecuali mendatangi guru kami dan mendengarkan nasihat-nasihatnya, maka setelah itu hilanglah semua kegalauan tadi dan berubah menjadi ketenangan jiwa, kekuatan dan keyakinan. Maha suci Allah yang telah memperlihatkan syurganya sebelum berjumpa dengan-Nya dan membukakan baginya pintu-pintunya di alam tempat beramal ini, serta memberikan kepada mereka keharuman dan semangatnya yang membuat mereka mengerahkan segala kekuatannya untuk meraih (syurga)-nya dan berlomba-lomba untuk mendapatkannya”.[ Al Wabil Ash Shayyib, cetakan Basyir Uyun, hal 97 ].

Disini tampak sekali pentingnya Ukhuwwah Islamiyah sebagai salah satu sumber yang dapat mendatangkan keteguhan, saudara-saudara yang shaleh serta para pendidik yang menjadi panutan. Mereka adalah orang-orang yang dapat memberikan pertolongan dalam menempuh perjalanan serta tiang yang kokoh tempat berlindung sehingga mereka dapat mendatangkan keteguhan berkat karunia Allah dan kebijaksanaan yang mereka miliki.

Maka selalulah dekati mereka dan bergaullah bersama mereka dan jagalah selalu persatuan sehingga dapat melindungimu dari godaan syetan. Sesungguhnya serigala itu hanya akan memangsa domba yang menyendiri.
Itulah pentingnya bergaul dengan orang-orang yang sholih. Karena itu, sangat penting sekali mencari lingkungan yang baik dan mencari sahabat atau teman dekat yang semangat dalam menjalankan agama sehingga kita pun bisa tertular aroma kebaikannya. Jika lingkungan atau teman kita adalah baik, maka ketika kita keliru, ada yang selalu menasehati dan menyemangati kepada kebaikan.
Kalau dalam masalah persahabatan yang tidak bertemu setiap saat, kita dituntunkan untuk mencari teman yang baik, apalagi dengan mencari pendamping hidup yaitu suami atau istri. Pasangan suami istri tentu saja akan menjalani hubungan bukan hanya sesaat. Bahkan suami atau istri akan menjadi teman ketika tidur. Sudah sepantasnya, kita berusaha mencari pasangan yang sholih atau sholihah. Kiat ini juga akan membuat kita semakin teguh dalam menjalani agama.
Demikian beberapa pentingnya lingkungan dalam membina keimanan. Semoga Allah senantiasa meneguhkan kita di atas ajaran agama yang hanif (lurus) ini. Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami dalam ketaatan kepadamu.

2 responses to this post.

  1. insyaALLAH…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: