Mendeteksi Lemahnya Iman

Allah telah menjadikan iman seseorang bertambah dan berkurang. Bertambahnya dengan melakukan berbagai ketaatan dan berkurang dengan berbagai kemaksiatan. Saat badan kita ringan untuk melaksanakan puasa, shalat sunnah, shadaqah serta ibadah lainnya, maka saat itulah iman kita sedang naik. Tetapi ketika ibadah terasa hambar, kemaksiatan demi kemaksiatan dilakukan, maka saat itulah iman di hati kita sedang turun.

Hari ini fenomena lemah iman telah menjadi sesuatu yang menyebar dan merata di tengah kaum muslimin. Sebagian mengeluhkan kerasnya hati mereka dengan berujar, “Aku merasa hatiku keras”, “Aku tidak dapat merasakan nikmatnya ibadah”, “Aku merasa imanku berada di titik nadir”, “Aku tidak dapat merasakan pengaruh bacaan al-Quran”, “Aku mudah terjerumus dalam maksiat” serta keluhan-keluhan lainnya.

Sungguh beruntung jika mereka merasakan bahwa iman mereka sedang turun. Kemudian ia berusaha untuk mengobati dan memperbanyak ketaatan. Lebih parahnya ketika orang-orang yang sedang lemah imannya ini tidak sadar bahwa ia dalam kondisi yang membahayakan. Yaitu lemahnya iman pada dirinya. Sehingga tidak sempat baginya untuk melakukan perbaikan karena memang mereka menganggap bahwa mereka sehat.

Ingatlah bahwa penyakit lemah iman merupakan dasar dari segala kemaksiatan, segala aib dan bencana. Berapa banyak dosa dilakukan seorang hamba dikarenakan lemah keimanannya ?.

Tema hati merupakan tema yang sensitif dan urgen. Ia dinamakan “القلب” (hati) karena cepatnya berubah. Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- bersabda:

مَثَلُ الْقَلْبِ مَثَلُ رِيشَةٍ بِأَرْضِ فَلاةٍ ، يُقَلِّبُهَا الرِّيحُ ظَهْرًا لِبَطْنٍ

“Perumpamaan hati seperti bulu di tengah padang pasir yang di bolak-balikan angin.” [Hadits dikeluarkan oleh Ibnu Abi ‘Ashim dalam kitab as-Sunnah no.227 dengan sanad yang sahih dalam Dzilalul Jannah fi Takhrijis Sunnah oleh al-Albani 1/102 ].

Kalbu cepat berbolak-balik, sebagaimana yang telah disifati oleh Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- dengan sabdanya:

لَقَلْبُ ابْنِ آدَمَ أَسْرَعُ تَقَلُّبًا مِنَ الْقِدْرِ إِذَا اسْتَجْمَعَتْ غَلْيًا

“Sungguh kalbu anak Adam lebih cepat terbolak-balik dari pada bejana yang direbus.” [Hadits dikeluarkan oleh Ibnu Abi ‘Ashim dalam kitab as-Sunnah no.226 dengan sanad yang sahih dalam Dzilalul Jannah fi Takhrijis Sunnah oleh al-Albani 1/102 ].

Allah -subhanahu wata’âla- yang membolak-balikkan hati dan merubahnya sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Abdullah Ibn Amr Ibn al-Ash bahwa dia mendengar Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- bersabda,

إِنَّ قُلُوبَ بَنِى آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ

“Sesungguhnya hati/kalbu anak keturunan Adam seluruhnya berada di antara jari jemari Zat yang Maha Pengasih, seperti satu kalbu, dibolak-balikkan sekehendak-Nya.”

Kemudian Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- berdoa:

اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِك

“Ya Allah, pembolak-balik kalbu, palingkanlah kalbu kami kepada ketaatan-Mu.” [HR. Muslim no.2654 ].

Allah-lah yang memisahkan antara seseorang dengan kalbunya. Seseorang tidak akan selamat kecuali datang kepada Allah dengan hati/kalbu yang selamat. Kedukaanlah bagi pemilik kalbu yang sulit untuk zikrullah (mengingat Allah). Surga dijanjikan bagi siapa yang merasa takut kepada Allah yang Maha Pengasih, padahal tidak terlihat olehnya dan datang dengan hati yang bertobat.

Seorang mukmin hatinya haruslah sensitif, menyadari penyakit yang menyusup dan faktor penyebabnya, untuk kemudian bersegera mengobatinya sebelum menjangkit dan membinasakannya. Perkaranya besar dan serius. Allah -subhanahu wata’âla- telah memperingatkan kita mengenai hati yang keras, terkunci, sakit, buta, buntung, terbalik, ternoda dan dicap dengan hati yang mati.

Ciri-ciri lemahnya iman
Sesungguhnya penyakit lemah iman memiliki gejala dan tanda-tanda. Di antaranya apa yang disebutkan oleh syaikh Shalih al Munajjid dalam buku beliau dhohirotu dho’ful iman. Akan kami sebutkan beberapa saja diantaranya ;

1. Terjerumus dalam kemaksiatan dan melakukan perbuatan haram.
Sebagian orang intens melakukan maksiat. Sebagian lagi hanya melakukan maksiat-maksiat tertentu saja. Ke-sering-an melakukan maksiat akan merubahnya menjadi gaya hidup, sehingga hilang pandangan buruk maksiat dari hatinya secara bertahap, yang pada akhirnya sanggup menampakkan kemaksiatan itu, sebagaimana yang terdapat dalam hadits:

كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ وَإِنَّ مِنْ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ فَيَقُولَ يَا فُلَانُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ

“Setiap umatku diampuni dosa-dosanya kecuali yang melakukannya terang-terangan. Di antara bentuknya; seseorang melakukan maksiat di malam hari, paginya Allah telah menutupi dosanya, namun dia berkata, ‘Wahai Fulan, tadi malam aku melakukan begini dan begitu.’ Padahal dia telah bermalam dengan dosa yang tertutupi, namun paginya dia sendiri yang menyingkap apa yang telah Allah tutupi.” [HR. al-Bukhari. Fatul bâri 10/486 ].

2. Malas melakukan ketaatan dan ibadah serta cenderung melalaikan. Jika pun melaksanakan, hanyalah sekadar aktivitas kosong tanpa ruh. Allah -azzawajalla- mendeskripsikan orang-orang munafik dengan firman-Nya:

وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى

“…dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas…” (QS.an-Nisâ:142)

Termasuk juga ketidakpedulian akan luputnya musim-musim kebaikan serta waktu-waktu ibadah. Ini menunjukkan akan tidak adanya perhatian mendapatkan pahala. Mengakhirkan ibadah haji padahal mampu, enggan berjihad padahal dalam keadaan lapang dan meninggalkan shalat berjamaah sehingga berhujung pada meninggalkan shalat Jumat. Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- bersabda:

لاَ يَزَالُ قَوْمٌ يَتَأَخَّرُونَ عَنِ الصَّفِّ الأَوَّلِ حَتَّى يُؤَخِّرَهُمُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِى النَّارِ

“Masih terus saja suatu kaum meninggalkan saf pertama, hingga Allah akhirkan mereka ke neraka.”. [HR. Abu Dâwud no.679. Shahih at-Targhib no.510 ].

Si penderita tidak sadar dengan teguran hatinya sewaktu tertidur saat masuk waktu shalat wajib, demikian pula ketika terluput melakukan shalat sunah rawatib atau meninggalkan wirid dari wirid-wiridnya. Dia tidak berhasrat untuk mengganti apa yang telah terluput itu. Demikianlah, dia menjadi terbiasa melalaikan segala yang dianggapnya sunah atau wajib kifayah, atau bahkan sama sekali tidak menghadiri shalat ‘Id (padahal sebagian ulama mengatakan wajib melaksanakannya), tidak shalat gerhana, tidak respons untuk menghadiri resepsi kematian dan menyalatinya. Dia tidak menginginkan pahala dan tidak merasa butuh. Kontras dengan orang-orang yang telah Allah deskripsikan dalam firman-Nya:

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

“…Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” (QS.al-Anbiyâ`:90)

Di antara bentuknya yang lain adalah bermalas-malasan dalam melaksanakan ketaatan. Malas melaksanakan sunah rawatib, shalat malam, bersegera ke masjid, atau ibadah-ibadah lain semisal shalat dhuha. Jika ibadah-ibadah tersebut saja tidak terbetik dalam pikirannya, apatah lagi dengan shalat taubah atau shalat istikharah.

3. Pemanjaan diri yang berlebihan dalam makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, dan kendaraan.
Engkau dapati dia begitu konsentrasi dengan kebutuhan tersier (bukan kebutuhan pokok) dengan perhatian yang berlebihan. Memuaskan diri dan memaksakan diri membeli pakaian yang mahal, menikmati interior mewah dan menghamburkan harta dan waktunya untuk kemewahan yang bukan kebutuhan darurat (primer), padahal saudaranya dari kaum muslimin di sekitarnya ada yang sangat berhajat kepada harta itu. Dia terhanyut hingga tenggelam dalam kenikmatan dan kemewahan yang dilarang, sebagaimana yang terdapat dalam hadits Muadz Ibn Jabal -radiallahu’anhu- ketika diutus oleh Nabi -shalallahu alaihi wasalam- ke Yaman dengan wasiat :

إِيَّاكَ وَالتَّنَعُّمَ فَإِنَّ عِبَادَ اللَّهِ لَيْسُوا بِالْمُتَنَعِّمِينَِِِِ

“Hindarilah memuaskan diri, sesungguhnya hamba Allah bukanlah dia yang suka memuas-muaskan diri.” [As-Silsilah as-Shahihah no.353 ].

Demikianlah beberapa tanda-tanda orang yang sedang lemah imannya. Dan masih banyak lagi beberapa fenomena lemahnya iman lainnya yang tidak kami paparkan di sini karena keterbatasan lembar-lembar buletin ini. Semoga yang sedikit ini menyadarkan kita jika dalam kondisi lemah iman, dan berusaha untuk mebenahi diri sehingga iman kita menjadi kuat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: