MENGGAPAI NIKMATNYA IMAN

Malam itu suasana sedang hujan. Cahaya rembulanpun tidak nampak sehingga keadaan gelap gulita. Seorang bapak sebut saja Shodiq [ bukan nama asli ] yang berprofesi pengusaha menikmati teh hangat, setiap sruputannya terasa nikmat. Saat itu ia bertutur bahwa, sudah lama dirinya bertaubat, tidak mau lagi berkumpul-kumpul untuk melakukan hal-hal yang negatif seperti minum-minuman keras, main wanita, judi dan berjoget di naigh club. Teman-temannya selalu mengejek dengan tujuan agar dia mau ke jalan yang lama. Sebenarnya mereka merasa kehilangan sehingga melontarkan cemohan agar si Shodiq kembali berkumpul bersama mereka. ‘Nggak usah sok alim lah.’ ‘Apa kamu sudah yakin akan masuk surga? ‘Sudah hapal belum Juz Amma?’ ‘Apa kamu sudah ngerti tuh isi al-Quran?’

Shodiq teringat saat ia diberi hidayah untuk mempelajari islam dan menjauhi dunia gelap. Setelah menghela napas, matanya berkaca-kaca. Tiba-tiba air matanya menetes deras. Ia teringat saat berkata pada temannya yang belum bertaubat :’Saya memang bukanlah orang Islam yang baik Mas Agus. Namun yang jelas dulu saya adalah pemabuk, alhamdulillah sekarang tidak lagi. Dulu, saya suka memukul istri dan menghajar anak-anak karena hal-hal yang sepele. Saya mudah marah tapi sekarang tidak lagi. Dulu saya tidak pernah pulang, sekarang kalo tidak pulang, saya kangen dengan anak-anak dan istri saya.’ Ucapnya. ‘Saya bisa merasakan nikmatnya iman kepada Allah dan itu telah merubah segalanya yang ada pada diri saya menjadi lebih baik.’ Lanjutnya.

Saudaraku, itulah sekelumit kisah seseorang yang mendapatkan bagian manisnya iman. Memang iman kepada Allah Ta’ala hanya bisa dirasakan bukan diperdebatkan. Iman yang benar dapat mentransformasi diri sehingga kita bisa berubah dan berguna bagi sesesama. Iman adalah sebuah perubahan dari benci menjadi cinta, hina menjadi mulia, sengsara menjadi bahagia, tangisan menjadi senyuman keputus asaan menjadi sebuah semangat serta keburukan menjadi kebaikan.

Mereka yang mendapat manisnya iman
Ada tiga golongan yang akan mendapat manisnya iman. Sebagaimana disebutkan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dalam hadist ;
عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ

Dari Anas, dari Nabi SAW beliau bersabda: “Tiga hal, barangsiapa memilikinya maka ia akan merasakan manisnya iman. (yaitu) menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya, mencintai seseorang semata-mata karena Allah, dan benci kembali kepada kekufuran sebagaimana bencinya ia jika dilempar ke dalam api neraka.” [ HR. Al Bukhori dan Muslim ].

Dalam hadits ini dipakai istilah حَلاَوَةُ الإِيمَانِ (manisnya iman). Dalam ilmu balaghah, istilah seperti ini disebut isti’arah takhyiliyyah, yaitu majaz (kiasan) yang dibangun dari tasybih (penyerupaan) imajinasi. Dalam bahasa indonesia disebut juga majas metafora. artinya bahwa iman itu terasa manis.

Menurut Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari, ini mengindikasikan bahwa tidak semua orang bisa merasakannya. Sebagaimana manisnya madu hanya akan dirasakan oleh orang yang sehat, sedangkan orang yang sakit kuning tidak mampu merasakan manisnya. Demikian pula manisnya iman. Ia hanya didapatkan oleh orang-orang yang imannya “sehat”. Diantaranya adalah yang memenuhi kriteria sebagaimana disebutkan dalam penggalan hadits berikutnya.
Manisnya iman juga mengingatkan kita ibarat pohon, iman itu memiliki buah manisnya bisa dirasakan oleh seorang mukmin. Tentu saja pohon baru bisa berbuah ketika akarnya teguh dan pohonnya kuat. Jadi ia tidak mudah dirasakan oleh setiap orang.

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. (QS. Ibrahim : 24-25)

Sebagian ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan manisnya iman merasakan lezatnya ketaatan dan memiliki daya tahan menghadapi rintangan dalam menggapai ridha Allah, lebih mengutamakan ridha-Nya dari pada kesenangan dunia, dan merasakan lezatnya kecintaan kepada Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Pertama : Menjadikan Allah dan Rasul-Nya sesuatu yang paling dicintai. Sebagaimana dalam hadist ;
أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا
menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya

Seorang mukmin haruslah menyempurnakan cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya, baru ia mendapati manisnya iman. Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya tidak cukup hanya sekedarnya, tetapi harus melebihi dari yang selainnya. Bahkan jika ia masih mencintai dirinya, istri, anak dan keluarga serta yang lain melibihi cintanya pada Allah dan Rasul-Nya, maka ia tidak akan mendapat manisnya iman.

Manusia akan merasakan kebahagiaan besar ketika sedang mencintai. Maka manisnya iman menjadi buah yang dirasakan seorang mukmin ketika ia mencintai Allah dan Rasul-Nya dengan sempurna. Inilah yang menjelaskan mengapa Bilal sanggup menahan panasnya pasir dan terik surya, beratnya batu yang menindihnya, serta hinaan menyakitkan Umayyah dan kawan-kawannya. Dalam kondisi demikian, Bilal tetap melantunkan manisnya iman melalui lisannya: “ahad, ahad…”

Manisnya iman buah cinta ini pula yang membuat Khabab bin Al Art seakan tak merasakan luka-luka menganga di tubuhnya yang disalib. Maka ketika diminta pendapatnya bagaimana jika Rasulullah yang menggantikannya, ia menjawab dalam nada manisnya iman: “Bahkan aku tak rela jika kaki Rasulullah tertusuk duri”

Dalam manisnya iman pula, sahabat-sahabat Ansar rela pulang tangan kosong tanpa ghanimah dalam Perang Hunain. Isak tangis mengharu biru ketika mereka tersadar bahwa Rasulullah hendak meneguhkan Islam para muallaf Makkah. Sementara mereka pulang membawa Rasulullah, biarlah orang lain pulang membawa unta dan kambing.

Kedua : Mencintai seseorang semata-mata karena Allah. Sebagaimana dalam hadist ;

وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ
Dan mencintai seseorang semata-mata karena Allah

Jika kecintaan kepada Allah adalah yang pertama dan tidak boleh terkalahkan oleh selainnya, demikian pula Rasulullah sebagai manusia yang paling dicintai, bukan berarti kita tidak diperkenankan mencintai sesama. Cinta itu fitrah manusia. Maka mencintai kedua orang tua, anak, saudara, sahabat, dan sesama mukmin juga dibutuhkan. Dan tatkala cinta itu karena Allah semata, maka manisnya iman akan bisa dirasakan.

Generasi pertama umat ini adalah generasi yang sukses dalam membina cinta karena Allah ini. Maka dengan cinta lillah, suku Aus dan Khazraj yang semula bermusuhan menjadi bersaudara di bawah satu bendera: Ansar. Pada saat itu, mereka merasakan manisnya iman. Lalu, muhajirin dan anshar yang belum pernah bersua pun, tiba-tiba menjadi saling berbagi. Membagi harta menjadi dua, membagi kebun dan rumah agar bisa sama-sama hidup layak dalam perjuangan bersama. Pada saat itu, mereka merasakan manisnya iman.

Dan yang ketiga : Membenci kekafiran, sebagaimana bencinya ia jika dilempar ke dalam api neraka. Hal ini sebagaimana dalam hadist disebutkan ;

وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ
Dan benci kembali kepada kekufuran sebagaimana bencinya ia jika dilempar ke dalam api neraka

Jika dua hal yang pertama adalah pekerjaan mencintai, hal ketiga yang membawa manisnya iman ini adalah pekerjaan sebaliknya: membenci. Yakni membenci kekufuran. Khususnya kekufuran yang telah ditinggalkannya dan diganti dengan Islam.

jika dahulu ia adalah seorang pemabuk, penjudi dan main wanita serta seluruh dosa ia lakukan, setelah ia mengenal islam dan mengetahu akan bahaya dunia dan akhirat bagi para pelakunya, wajib baginya untuk tidak mengulangi lagi. Bahkan jika teman-temannya yang belum bertaubat mengajaknya kembali, ia tolak dengan tegas dan ia takut seakan-akan mau dicampakkan ke neraka. Dengan perasaan inilah seseorang akan dapat mereasakan manisnya iman.

Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dalam berbagai kesempatan juga mengingatkan para sahabat agar jangan sampai kembali kepada kejahiliyahan, meskipun hanya sebagian sifatnya. Maka Rasulullah mengingatkan kaum Anshar ketika hampir saja mereka bermusuhan kembali antara suku Aus dan Khazraj. Rasulullah juga pernah mengingatkan Abu Dzar tatkala berselisih dengan Bilal lalu mencelanya dengan nada sentimen kesukuan. “Sungguh dalam dirimu ada perilaku jahiliyah” tegur Rasulullah yang selalu dikenang Abu Dzar. Dan sejak saat itu ia lebih mencintai dan menghormati Bilal.

Saudaraku, demikianlah lezat dan manisnya iman hanya didapat dengan tiga hal tersebut. Kita berdo’a semoga debirakan kelezatan tersebut di dunia sebelum kelezatan di akhirat. Kita juga berdo’a agar hati kita dimampukan untuk melakukan amalan-amalan yang dapat menjadikan manis dan lezatnya iman kita. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali milik-Nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: