KIAT MENCAIRKAN MATA YANG MEMBEKU

Salman pernah mengeluh sakit, maka Sa’ad datang menjenguknya. Ketika ia melihat Salman menangis, Sa’ad bertanya, “Apa yang membuatmu menangis wahai saudaraku? Tidakkah kamu telah menemani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? Bukankah…? Dan bukankah …? Salman menjawab, “Tidaklah aku menangis karena rakus terhadap dunia dan tidak pula karena benci (akan pergi) ke akhirat, akan tetapi dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memberikan amanat kepadaku. Dan menurutku aku telah melanggar amanah tersebut.” Sa’d bertanya, “Apakah yang beliau amanatkan kepadamu?”. Salman menjawab, “Beliau memberiku amanah, bahwa

لِيَكُنْ زَادُ أَحَدِكُمْ مِنَ الدُّنْيَا كَزَادِ الرَّاكِبِ
Cukuplah bekal salah seorang dari kalian sebagaimana (bekal) orang yang hendak bepergian.

Dan menurutku aku telah melampaui batas. Adapun kamu wahai Sa’ad, takutlah kamu kepada Allah dalam setiap keputusanmu ketika kamu memutuskan suatu hukum, atau dalam pembagianmu saat kamu membagikan, dan dalam keinginanmu ketika kamu berkeinginan.”

Tsabit berkata, “Telah sampai berita kepadaku bahwa ketika meninggal dunia, dia hanya meninggalkan dua puluh dirham [ atau Rp.49.250 ] dari harta yang ia miliki.” (Shahih Ibnu Majah)

Itulah sepenggal kisah seorang sahabat Rasulullah sallallahu alaihi wasallam yaitu Salaman al Farisi. Yang mudah menangis karena mengingat pesan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Dan masih banyak lagi cerita dari para sahabat radhiyallahu ‘anhum yang semisal dengannya.

Yang menjadi pertanyaan adalah, betapa kerasnya hati kita. Betapa lemahnya kekuatan kita untuk bisa mengikuti para salafus shalih dalam menangis karena Allah Ta’ala. Betapa mudahnya mereka meneteskan air mata karena dosa, rindu, rasa harap, cemas sehingga tidak perlu lagi bagi mereka kiat-kiat untuk menangis.

Karena bersihnya hati sehingga mereka mendapatkan manisnya iman yang membuahkan air mata ketundukan pada Allah Ta’ala. Dan karena keimanan itulah mereka mendapatkan jannah di dunia sebelum mendapatkan jannah di akhirat, yaitu saat mata dapat menetes karena Allah Ta’ala.

Seorang salaf berkata : “Orang-orang yang patut dikasihani adalah orang yang meninggalkan dunia ini tanpa merasakan manisnya hidup di dunia dan tidak pula mendapatkan hal yang paling baik di dalamnya.” Maksudnya adalah manisnya iman.

Akan tetapi orang-orang seperti kita masih harus mencari sebab-sebab yang akan menjadikan kita bisa menangis karena Allah Ta’ala. Kita masih mencari berbagai penawar yang dapat mengobati penyakit yang telah menggerogoti hati kita.

Tips melembutkan hati

Diantara tips untuk melembutkan hati agar mudah menangis karena Allah adalah ;

Pertama : Taqwa pada Allah serta menjaga keikhlasan dalam beramal.
Jika seseorang berusaha untuk melaksanakan perintah dan menjauhi larangan, Allah Ta’ala pasti akan menuntunnya pada kebersihan hati sehingga mudah untuk menangis. Allah akan memilihkan segala sesuatu yang terbaik untuk kita.

Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (QS Al-Baqarah [2] : 282)

Disebutkan dalam Ruh al-Ma’ani: “Bertakwalah kepada Allah” pada apa yang telah diperintahkan kepadamu untuk dikerjakan dan apa yang dilarang engkau darinya. Dan “Allah mengajarmu” hukum-hukum-Nya, yang mengandung urusan terbaikmu, Dan menangis adalah diantaranya.

Kedua : Belajar ilmu syar’i.
Seseorang yang mempelajari ilmu syar’i dengan ikhlas pasti akan Allah berikan rasa khosyah [ rasa takut ] di dalam hatinya. Semakin dalam ilmu yang ia miliki, akan semakin kuat pula rasa takutnya pada Allah Ta’ala. Di dalam alqur’an disebutkan ;

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. [ Qs. Fathir : 28 ].

Ibnu Katsir berkata : “Yaitu : orang-orang yang takut kepada-Nya dengan sebenar-benarnya hanyalah para ulama yang mengenal-Nya. Karena, setiap kali pengetahuan tentang Allah Yang Maha Agung, Maha Kuasa, dan Maha Mengetahui serta memiliki sifat-sifat yang sempurna dan nama-nama-Nya yang baik; semakin sempurna dan semakin lengkap, maka setiap kali itu pula rasa takut semakin besar dan semakin banyak. [ Tafsir Ibnu Kasir pada ayat tersebut ].

Maka barang siapa yang dianugerahi ilmu agama, akan tetapi tidak dapat membuatnya tambah takut dan mudah menangis karena Allah, berarti ia telah diberikan ilmu yang tidak bermanfaat baginya. Banyaknya ayat dan hadist yang dihafal hanya sebagai konsumsi otak tidak samapai kehati dan merembet ke matanya. Ayat dan hadis yang ia hafal hanya digunakan untuk menceramahi orang lain, sementara ia dalam kegersangan jiwa dan jauh dari penciptanya.

Masruq berkata : ‘Cukuplah rasa takut kepada Allah disebut sebagai ilmu, dan cukuplah durhaka kepada Allah disebut sebagai kebodohan’. Dan seorang laki-laki pernah berkata kepada Asy-Sya’biy : ‘Berilah aku fatwa wahai ‘aalim’. Maka ia (Asy-Sya’biy) berkata : ‘Seorang ‘alim itu hanyalah orang yang takut kepada Allah ‘azza wa jalla” [Tafsir Al-Baghawiy, 6/419, tahqiq & takhrij : Muhammad bin ‘Abdillah bin An-Namr dkk; Daaruth-Thayyibah, Cet. 4/1417 H].

Ketiga : Memandang Dunia tidak Berharga dan tidak Berarti dan Menolaknya.
Sesungguhnya cinta kepada dunia ini adalah sebab mengerasnya hati dan mengalihkan seseorang dari jalan Allah. Menahan diri dan menolak perkara dunia akan melembutkan hati, meningkatkan rasa khusyu’ dan menyebabkan mata menangis.

Maka berhati-hatilah merasa terlalu nyaman dengan dunia. Kita harus menganggapnya tidak berarti dibandingkan akhirat semampunya.

Pembaca yang dirahmati Allah. Renungkanlah petunjuk Nabi sallallahu alaihi wasallam ketika menolak dunia. Renungkanlah kesulitan beliau dan kerasnya gaya hidup yang dialaminya berkenaan dengan makanan, minuman, pakaian dan perabotan.

Diriwaytkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa:

“Semenjak tiba di Madinah, keluarga Muhammad tidak pernah merasa kenyang dari makanan gandum hingga tiga malam berturut-turut sampai beliau meninggal.” (HR Bukhari Muslim)

Abdullah Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa:

“Rasulullah sallallahu alaihi wasallam memegang pundakku dan berkata, “Hiduplah di dunia ini seperti orang asing yang atau seorang pelintas.” Ibnu Umar berkata, “Jika engkau hidup hingga malam jangan menunggu pagi hari. Dan jika engkau hidup sampai pagi hari, jangan menunggu sore hari Gunakanlah kesehatanmu untuk sakitmu dan kehidupanmu untuk kematian-mu.” (HR Bukhari).

Maka bersegeralah wahai sadara saudariku, hidup bagaikan seorang asing atau pelintas jalan dalam tingkah laku, adab, makanan, minuman, rumah, dan segala sesuatu yang mampu anda lakukan. Kita harus memperhatikan dan menunggu tempat kediaman kita yang sesungguhnya (Surga). Olehkarena itu hendaknya kita tidak menunggu akan hidup hingga pagi hari jika kita hidup di malam hari dan demikian juga kita tidak menunggu untuk hidup hingga malam jika kita hidup di pagi hari. Karenanya kita tidak boleh meninggalkan taubat, kembali kepada Allah dan memenuhi hak-hak-Nya yang dibebankan kepada kita atau bahkan melakukan amal kebajikan.

Kita harus mengarahkan diri kita (dalam keseharian) seolah kita dapat melihat Hari Kiamat dengan mata kepala sendiri. Kita harus me-manfaatkan kesehatan kita sebelum sakitnya dan memanfaatkan kesehatan kita dalam menegerjakan amal ketaatan sebagaimana menjadikan yang terbaik bagi hidup kita sehingga, kita dapat diselamatkan dari kengerian saat kematian. Apakah orang asing yang jauh dari negeri, keluarga, anak-anak dan kaum dan kerabatnya akan bersungguh-sungguh membangun istana di negeri asing? Atau apakah seorang pelintas jalan tinggal di jalan buntu?

Dan kita adalah orang asing di dunia ini, jauh dari rumah di Surga, jauh dari pasangan hidup dan anak-anak kita di sana. Dan itu hanya untuk penghuni surga, jika kita adalah penduduk Surga. Dan bagaimana jika kita bukanlah dari penduduk Surga, tidak ada keluarga tidak juga anak-anak, namun yang menunggumu adalah azab dan keburukan ghaib yang menunggu ?.

Maka berhati-hatilah dari kehidpan yang penuh dengan kemudahan dan kesenangan, sebagaimana Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Waspadalah dari kehiduupan yang penuh dengan kesenangan, karena sesungguhnya hamba-hamba Allah yang sebenarnya bukanlah orang-orang yang hidup dalam kesenangan.” (HR Ahmad, Abu Nu’aim dalam al-Hilyah)

Masih banyak tips agar kita menangis karena takut pada Allah Ta’ala. Tetapi dengan tiga hal di atas jika kita berusaha untuk melaksanakannya, insya Allah kita akan dijadikan hamba-Nya yang senantiasa menangis karena dosa, harapan, kerinduan dan perasaan-perasaan lainnya. Kita berlindung pada Allah Ta’ala dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tak khusuk, dan amalan yang tidak diangkat, serta doa yang tak didengar.

2 responses to this post.

  1. jazakalloh mbak atas ilmunya,,,,gmn kbry ustadz ?,,,mudah2an sudah sembuh .Ya ALLOH berkahilah keluarga beliau,,amiin

    Balas

    • Posted by tri on Oktober 31, 2011 at 12:35 pm

      Amiin. Alhamdulillah kondisinya lebih baik meski untuk perkembangan syarafnya belum terlihat adanya perubahan.
      Mohon doanya semoga lekas sembuh. Amiin.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: