MENDETEKSI AIR MATA YANG KERING

Mata itu akan senantiasa menggambarkan hati. Jika hati seseorang lembut, maka tatapan matanya akan redup dan dan penuh dengan kelembutan. Mata yang seperti ini akan mampu meneteskan tetesan-tetesan bening dari matanya. Sebaliknya, hati yang keras seperti batu tidak akan bisa meneteskan air mata karena kebekuan hati membawa pada kebekuan matanya.

Kerasnya hati ini tidak ada penyebab lain kecuali karena maksiat seseorang pada Allah Ta’ala. Semakin seseorang berbuat dosa, maka semakin jauh dirinya dari Allah Ta’ala. Sedang semakin jauhnya ia dari Allah Ta’ala diharamkan kepadanya berbagai kenikmatan dunia dan akhirat termasuk menangis karena-Nya.

Dan jika dosa sudah menumpuk, ia seperti kotoran yang sulit dibersihkan lagi karena telah menyatu dengan pakaian kita. Inilah yang disebut oleh Rasulullah dalam hadistnya ;

إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ ذَنْبًا كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِى قَلْبِهِ فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ صُقِلَ مِنْهَا قَلْبُهُ فَإِنْ عَادَ رَانَتْ حَتَّى يُغْلَقَ بِهَا قَلْبُهُ فَذَاكَ الَّذِى ذَكَرَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِى كِتَابِهِ (كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ)

“Sesunggunya bila seorang mukmi melakukan suatu dosa, maka dosa itu menjadi satu titik hitam di hatinya. Bila ia bertaubat, berhenti dan beristrighfar, maka hatinya akan kembali cemerlang. Akan tetapi bila ia mengulanng kembali, maka hatinya akan berkerak, hingga (suatu saat hatinya akan tetutup dengannya. Itulah yang Allah Azza wa Jalla sebutkan dalam kitab-Nya: “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu telah menutup hati mereka.” Riwayat Ahmad, At Tirmizy, Al Hakim, Al Baihaqy dan dihasankan oleh Al Albani.

Pengaruh maksiat pada hati
Maksiat sangat memberi pengaruh pada hati. Hati yang hitam dan membatu akan memancarkan dari wajah dan matanya ketidak tenangan dalam hidup. Sebaliknya, hati yang lembut dan dekat dengan Allah Ta’ala akan memancarkan ketenangan pada wajah dan matanya. Sehingga sangat mudah untuk menangis karena teringat dosa dan sentuhan-sentuhan ayat-ayat-Nya.

Diantara pengaruh dosa terhadap hati seseorang adalah ;

Pertama : Hati menjadi keras. Kerasnya hati akan menjadikan pelakunya hidup dalam kesengsaraan dunia dan akhirat. Walau kenikmatan dunia ia rasakan, ia tidak akan puas dengan yang ia nikmati. Kita memohon pada Allah dari kerasnya hati tersebut.

Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa kerasnya hati ini termasuk hukuman paling parah yang menimpa manusia (akibat dosanya). Ayat-ayat dan peringatan tidak lagi bermanfaat baginya. Dia tidak merasa takut melakukan kejelekan, dan tidak terpacu melakukan kebaikan, sehingga petunjuk (ilmu) yang sampai kepadanya bukannya menambah baik justru semakin menambah buruk keadaannya (lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 225)

Diantara penyebab kerasnya hati adalah banyak tertawa. Orang yang banyak tertawa pasti akan jarang menangis. Hingga saat ayat dan peringatan diperdengarkan pada mereka, malah mereka gunakan ayat tersebut sebagai senda guarau dan main-main. Padahal seseorang yang imannya baik tidak mungkin menjadikan ayat-ayat Allah sebagai senda gurau.

Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda dalam hadistnya ;

وَلَا تُكْثِرْ الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ
Dan janganlah memperbanyak tertawa, karena sesungguhnya banyak tertawa dapat mematikan hati. [ HR. Ahmad 8034, Tirmidzi 2305, Ibnu Majah 4217, dan di shahihkan dalam silsilah as shahihah no. 506, 927, 2046 ].

Penyebab lainnya adalah bergaul dengan orang-orang yang buruk perangainya. Teman dekat itu akan sangat mempengaruhi akhlaq seseorang. Maka jika seseorang berteman dengan orang-orang yang lalai dan para hali maksiat, maka kejelekan temannya itu akan menular padanya. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam memberikan gambaran yang indah tentang hal ini dalam hadist ;
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً
“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang sholih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari no. 2101, dari Abu Musa)

Penyebab kerasnya hati ini disimpulkan oleh Abu Sulaiman ad-Darani rahimahullah dengan perkataannya : “Segala sesuatu memiliki ciri, sedangkan ciri orang yang dibiarkan binasa adalah tidak bisa menangis karena takut kepada Allah.” Di antara sebab kerasnya hati adalah : Berlebihan dalam berbicara, melakukan kemaksiatan atau tidak menunaikan kewajiban, Terlalu banyak tertawa, terlalu banyak makan, banyak berbuat dosa serta berteman dengan orang-orang yang jelek agamanya. [al-Bidayah wa an-Nihayah, 10/256]

Kedua : Menggelapkan hati. Kegelapan hati ini adalah kegelapan yang tidak bisa melihat mana yang benar dan mana yang salah. Ia hidup seperti di malam gelap gulita tanpa penerang. Sehingga Allah Ta’ala mengharamkan tangisan pada hati yang gelap ini.

Ketaatan berbentuk apapun adalah cahaya, sedangkan kemaksiatan adalah kegelapan hati dan kegelapan di hari akhir nanti. Ketika hatinya sudah gelap, maka akan naik pada kelopak mata. Matanya menjadi liar dan liarnya mata akan sangat mempengaruhi wajah seseorang hingga menjadikannya pada kondisi yang sangat buruk. Betapa jelek dan najisnya kemaksiatan itu.

Abdullah bin Abbas ra berkata, ;

إِنّّ لِلْحَسَنَةِ ضِيَاءٌ فِى الْوَجْهِ وَنُوْرًا فِى الْقَلْبِ وَسِعَّةً فِى الرِّزْقِ وَقُوَّةً فِى الْبَدَنِ وَمَحَبَّةً فِى قُلُوْبِ الْخَلْقِ وَإِنَّ لِلسَّيِّئَةِ سَوَادًا فِى الْوَجْهِ وَظُلْمَةً فِى الْقَلْبِ وَوَهْنًا فِى الْبَدَنِ وَنُقْصًا فِى الرِّزْقِ وَبُغْضَةً فِى قُلُوْبِ الْخَلْقِ

“Sesungguhnya kebaikan itu memberikan cahaya pada wajah pelakunya, menjadi pelita bagi hati, memberi kelapangan rizqi, membentuk kekuatan jasad, dan membuat orang-orang mencintainya. Adapun sesungguhnya kejahatan itu membuat muka carut marut, memberi kegelapan dalam hati, kelemahan pada badan, mengurangi pintu rizqi, dan membuat orang lain membencinya. [ Al-Jawabul Kaafi. Tunist: Maktabah Darut. 1989 M/1409 H hlm.105-106 ].

Intinya bahwa seseorang yang hatinya jauh dari kemaksiatan pasti akan Allah baguskan wajahnya dan lembutkan matanya. Mudah baginya untuk menangis karena dosa dan peringatan-peringatan dari Allah Ta’ala. Sebaliknya, orang yang banyak masiat akan Allah hitamkan hatinya dan wajahnya, sehingga kedua matanya tidak akan bisa menangis karena Allah Ta’ala.

Ketiga : Menutupi hati sehingga lalai terhadap Allah Ta’ala. Hati manusia bisa berkarat layaknya besi yang berkarat. Dan jika kemaksiatan semakin bertambah, karatnya akan semakin tebal. Jika sudah tebal karat tersebut maka akan menutupi hati. Dan ketika hati sudah tertutupi, hati akan terkunci mati sehingga tidak berguna lagi peringatan yang datang padanya.

Allah Ta’ala berfirman ;

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
Maka Apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?. [ Qs. Muhammad : 24 ].

Hati yang telah terkunci, setan akan menguasainya dan dibuat indah berbagai kemaksiatan di matanya sehingga sulit baginya untuk menangis karena Allah Ta’ala.

Adalah para pendahuku kita yang shalih senantiasa menjaga hatinya dari dosa sehingga mudah bagi mereka tersentuh dengan ayat-ayat dan mudah menangis karena Allah Ta’ala. Disamping itu mereka juga senantiasa berdo’a agar dijauhkan dari hati yang tidak khusu’. Diantara do’a yang diajarkan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam adalah ;

اللَّّـهُمَّ إِنِّي أَعُوذُبِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لا تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لا يُسْتَجَابُ لَهَا
Ya Allah, aku memohon perlindunganMu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk , nafsu yang tidak puas dan doa yang tidak dikabulkan. [ HR. Muslim ].

Kita berlindung pada Allah dari penyakit-penyakit hati tersebut. Dan kita juga berlindung dari hati yang tidak khusu’ sehingga sulit untuk manangis karena dosa dan peringatan dari Allah Ta’ala.

3 responses to this post.

  1. Subhanalloh…

    Balas

  2. Sub-hanAllaah… Tulisan yg memberi pelajaran pd hati yg keras & mata yg kering…
    Mohon ijin share, yaa…?
    Syukron…

    Balas

  3. Posted by abu raya on November 18, 2011 at 4:10 am

    Ijin Share , yaaa
    Syukron

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: