Empat Perkara yang Wajib Dipelajari Bagi Seorang Muslim

Ilmu tanpa amal ibarat pohon tanpa buah, begitu pula amal tanpa ilmu tidak akan diterima, dakwah tanpa ilmu ia akan masuk neraka, dakwah tanpa kesabaran maka ia tidak akan berhasil. Dan kesemua itu tanpa ada ikhlas dan Muttaba’ah adalah ditolak tidak diterima, karena syarat diterimanya ibadah adalah Ikhlas dan Muttaba’ah atau mengikut Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam itu sendiri.

Allah firman :

وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ.

“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, dan beramal saleh, dan saling mewasiatkan kebenaran serta saling berwasiat untuk bersabar”. Al ‘ashr : 1-3.

 

Imam Asy Syafi’i berkata tentang surat ini : “Seandainya Allah tidak menurunkan hujjah melainkan hanya surat ini saja, maka sungguh hal itu sudah cukup bagi manusia”.

 

Syarat pertama manusia yang tidak merugi adalah mereka yang beriman. Sedangkan iman yang benar tidak akan dicapai kecuali dilandasi ilmu yang benar. Sehingga wajib bagi setiap orang untuk memiliki ilmu.

Syarat kedua adalah beramal shalih. Amal shalih mencakup seluruh amal kebajikan, baik berupa amalan lahiriah seperti sholat maupun amalan batin seperti tawakkal, baik berupa perbuatan yang berkaitan dengan penunaian hak Alloh maupun hak para hamba-Nya yang wajib maupun yang sunnah.

Syarat ketiga adalah saling menasihati dalam kebenaran, yaitu mengajak dan memberikan semangat dalam keimanan dan berbuat amal shalih. Syarat keempat adalah saling menasihati dalam kesabaran.

Wahai saudara muslim dan muslimah, ketahuilah bahwa wajib kita mempelajari empat hal :

Pertama, Ilmu.

Yaitu mengenal Allah, mengenal nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, mengenal agama islam. Karena tidak boleh beribadah kepada Allah tanpa dasar ilmu. Bagi siapa yang beramal tanpa ilmu maka ia menyerupai  kaum nasrani dan terjerumus kedalam kesesatan.

Imam Bukhori rohimahulloh membuat suatu bab dalam kitab shahihnya yaitu Bab Ilmu Sebelum Perkataan dan Perbuatan. Beliau berdalil dengan firman Alloh taala,

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ

 

“Maka ketahuilah bahwasanya tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Alloh dan mohon ampunlah atas dosa-dosamu”. (QS. Muhammad: 19).

Alloh memulai ayat ini dengan perintah untuk berilmu terlebih dahulu sebelum kita mengatakan kalimat tauhid dan memohon ampun pada Alloh Ta’ala. Hal ini dapat difahami bahwasanya perkataan dan amal shalih kita yang tidak sesuai dengan syariat Islam tidak mungkin diterima oleh Alloh Ta’ala. Dan seseorang tidak mungkin mengetahui apakah amal perbuatannya sesuai dengan syariat atau tidak kecuali dengan ilmu.

 

Kedua, Beramal.

Siapa saja yang berilmu namun tidak mengamalkannya maka ia menyerupai kaum yahudi. Sebab mereka berilmu dan tidak mau mengamalkannya.diantara tipu muslihat setan adalah bahwa supaya manusia tidak senang terhadap ilmu, dengan anggapan nanti di akherat ia akan di maafkan karena kebodohannya.

 

Padahal barang siapa yang memiliki kesempatan belajar namun ia tidak melakukannya maka telah tegak hujjah atas dirinya. Mereka ini seperti kaum nabi Nuh.

“mereka memasukkan jari jemari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya ke mukanya”. (QS. Nuh: 7).

 

Kiranya cukup bagi kita peringatan yang disampaikan oleh Rosululloh sholallohu ˜alaihi wasallam tentang orang yang tidak mengamalkan ilmunya.

Didatangkan seseorang pada hari kiamat kemudian dia dilemparkan ke neraka sehingga terurai ususnya dan dia berputar sebagaimana kedelai berputar pada penggilingan. Kemudian berkumpullah para penghuni neraka disekelilingnya dan berkata, ˜Wahai fulan, apa yang menimpamu? Bukankah kamu dulu menyuruh kamu untuk berbuat baik dan mencegah kami dari kemungkaran? Kemudian orang tersebut berkata, ˜Dahulu aku menyuruh beruat kebaikan tapi aku tidak melakukannya dan aku mencegah perbuatan munkar namun namun aku melakukannya. (HR. Bukhori dan Muslim dari Usamah din Zaid)

 

Ketiga, Dakwah

Kewajiban setelah berilmu dan beramal adalah mendakwahi manusia. agar kembali ke jalan Alloh Ta’ala. Dengan ilmu dan amal shalih kita menyempurnakan diri kita sedangkan dengan dakwah terwujudlah perbaikan di tengah-tengah ummat. Maka dengan ketiga hal ini selamatlah seseorang dari kerugian sebagaimana yang dijanjikan oleh Alloh Ta’ala. Dakwah ilalloh harus dilandasi keikhlasan hanya mengharapkan wajah Alloh Ta’ala, bukan untuk kepentingan pribadi, golongan, partai apalagi berdakwah hanya sekedar untuk sukses meraih kursi pemerintahan waliyadzubillah. Alloh subhanahu wa taala berfirman,

“Serulah kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabbmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (An Nahl: 125)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ˜Utsaimin menyebutkan bahwa ilmu dan bashirah yang dibutuhkan dalam dakwah adalah pengetahuan tentang hukum syari, pengetahuan tentang cara berdakwah dan pengetahuan tentang keadaan obyek dakwah.

Marilah kita lihat bagaimana metode Rosululloh sholallohu ˜alaihi wa sallam dalam memerintahkan para shahabatnya untuk menjadikan tauhid sebagai prioritas utama dalam dakwah ketika mengutus Muadz bin Jabal ke Yaman beliau bersabda,

“Maka hendaklah hal pertama yang kamu sampaikan pada mereka adalah syahadat Laa ilaha Illallah (dalam riwayat lain, supaya mereka mentauhidkan Alloh)”. (HR. Bukhori dan Muslim)

 

Keempat, Sabar

Sabar di dalam menuntut ilmu, mengamalkannya dan mendakwahkannya. Alloh taala menggambarkan kesabaran utusan-Nya dalam firman-Nya,

“Dan sesungguhnya telah didustakan rosul-rosul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan terhadap mereka, sampai datang pertolongan Alloh kepada mereka. Tak ada seorangpun yang dapat merobah kalimat-kalimat Alloh. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita rosul-rosul itu”. (Al Anaam: 34)

Sabar ada tiga keadaan. Pertama sabar dalam menjalankan ketaatan pada Alloh taala, kedua sabar dalam menjauhi hal-hal yang diharamkan oleh Alloh dan ketiga sabar terhadap takdir Alloh yang terasa menyakitkan.

 

Demikianlah empat perkara yang wajib kita ketahui. Ia merupakan kunci kebahagiaan yang dapat menyelamatkan kita dari kerugian dunia dan akhirat, yaitu ilmu, amal shalih, dakwah dan sabar. Semoga Alloh subhanahu wa taala menjadikan kita hamba yang senantiasa bersemangat untuk menuntut ilmu agama, memudahkan kita untuk mengamalkan apa yang telah kita ilmui, memberikan kita semangat untuk mendakwahkan kebenaran, dan menjaga kita untuk senantiasa ikhlas dalam berbuat dan senantiasa menjadi hamba yang bersabar.

 

Dan semua itu harus ditopang dengan keikhlasan dan ittiba’ . ikhlas disini adalah  urusan hati kita dengan Rabb , terkadang syetan la’natullah mampu membelokkan niat kita dalam melakukan kebaikan, maka diperlukan introspeksi diri untuk memperbaiki niat di setiap keadaan.

Diambil dari berbagai sumber.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: