Setahun telah berlalu dan Musibah itu…

Setahun sudah aku menjalani profesi baruku. Setelah beberapa tahun aku disibukkan dengan dunia anak. Seperti pekerjaan sebelumnya aku tidak melamar pekerjaan tapi langsung disuruh kerja. Meski pada awalnya ada rasa gimana gitu, tapi sekarang aku menikmatinya karena ini adalah pekerjaan yang sangat mulia. Yah mengurus suami yang sedang sakit. Dari suamilah aku belajar sabar dan memahami takdir. Subhanallah ia menjalani musibah ini dengan lapang dada, iklas dan bersyukur.

Dulu pernah aku menginginkan bekerja dirumah ketika aku jenuh/capek mengajar. Dan Allahpun mengabulkan doa itu meski dengan kondisi yang tidak kami inginkan pada mulanya. Semenjak suamiku jatuh karena kecelakaan akupun menghentikan semua aktifitasku. Dari mengajar, taklim dan yang lainnya. Karena separuh dari tubuhnya tidak bisa digerakkan maka suamiku lebih banyak membutuhkan bantuanku. Hanya tubuh bagian atas saja yang normal. Namun meskipun demikian ia tidak putus asa kami selalu berusaha untuk mencari terapi bagi suamiku.

Banyak hikmah yang dapat di ambil. Ternyata saudaraku sangat banyak, aku tidak sendiri. Kemana kami pergi terapi di situ selalu banyak teman dan Allah selalu memberikan banyak kemudahan. Tidak hanya tenaga dan materi tapi support motivasi selalu mereka sampaikan. Dari sini aku juga belajar bersodaqoh. Ternyata benar semakin sering kita bersodaqoh maka rizki kita akan lancar dan ditambah Allah dengan jumlah yang banyak. Jadi sodaqoh itu tidak membuat kita miskin tapi membuat kita kaya insyaallah. Kita juga di beri kemudahan Allah ketika terapi. Dokter yang menangani suami alhamdulillah dokter yang specialis, insyaallah penanganannya juga lebih baik.

Saat ini kami menambah satu tarapi untuk suami, yaitu akupuntur. Terapi ini kami jalani seminggu 3 kali. Alhamdulillah kami sudah selesai 1 paket. Meski belum ada perubahan yang mencolok kami optimis akan sembuh biidznillah. Meski agak mahal sedikit alhamdulillah kami masih sanggup untuk membayarnya.

Alhamdulillah 2 paket sudah kita selesaikan meski belum juga ada perubahan yang mencolok. Beberapa hari ini badan suamiku terasa tidak enak. Ia sering demam semenjak timbul decubitus yang baru, berada di pantat. Aku berharap luka ini tidak membesar seperti luka yang lalu. Dan semoga Allah segera memberi kesembuhan pada decubitus ini. Amiin.

Suamiku engkau telah memberikan contoh kepadaku bagaimana kita harus bersabar saat menerima ujian. Mensyukuri apa yang telah diberikan Allah kepada kita meski itu adalah sesuatu yang tidak kita inginkan seperti sakit yang saat ini engkau alami. Ya Allah, Rabb semesta alam berikanlah kesembuhan kepada suamiku, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit, amin ya rabbal’alamin.

2 responses to this post.

  1. Mba….salut untuk mba!!! selalu bersabar, kalo kata orang sabar itu ada batasnya, kalau menurut saya sabar itu tiada batasan….. sesungguhnya Allah SWT menyertai hamba – hambanya yang sabar. dengan semua masalah yang tengah mba hadapi percayalah….jauh dari nalar kita yang terbatas…sesungguhnya Allah sedang merangkul kita

    Balas

    • Posted by tri on Maret 13, 2010 at 9:28 am

      jazakillah atas motivasinya, semua memang ujian ada yang menyenangkan dan ada yang tidak menyenangkan. dan semoga kita selalu berhasil dalam menghadapi berbagai ujian, yang menyenangkan ataupun yang tidak menyenangkan.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: