Istri idaman suami

images1Cantik, bukanlah satu-satunya kriteria bagi seorang mu’min yang memiliki cita-cita untuk membangun keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Kesolihan sang isteri merupakan kriteria utama dan didambakan seorang lelaki di antara sekian banyak kriteria yang diinginkannya. Apalah ertinya isteri yang cantik, jika dia tidak taat kepada sang suami, suka membuatnya marah dan sakit hati, tidak menyenangkan ketika berada di dekatnya, tidak amanah, dan lain sebagainya. Tentunya keadaan seperti ini dapat membuat sang suami merasa tak aman dan nyaman berlama-lama di dalam rumah, bahkan boleh jadi rumah baginya laksana neraka. Beginilah keadaan yang akan ditanggung oleh seorang lelaki, tatkala dia memutuskan kecantikanlah sebagai kriteria utama dan segala-galanya dalam memilih partner hidupnya, meskipun dia tidak memiliki kesolihan. Seorang isteri demikianlah yang memiliki potensi besar untuk tidak patuh kepada seorang suami, menyeleweng, dan cenderung mengabaikan hak-haknya. Padahal hak seorang suami atas seorang isteri merupakan seagung-agungnya hak setelah hak Allah subhanahu wata’ala dan RasulNya shallallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kalau seandainya aku boleh menyuruh seorang untuk sujud kepada orang lain, niscaya aku akan menyuruh seorang isteri untuk sujud kepada suaminya.” (HR. at-Tirmidzi. Dan ia berkata, “Hasan Shahih.”). Maka perlu bagi seorang wanita, baik yang sudah menjadi seorang isteri, mahupun yang akan menjadi seorang isteri, untuk berusaha mencari tahu sifat-sifat khusus yang harus dilaksanakan agar dia menjadi dambaan dan pujaan para suami. Mudah-mudahan beberapa pesan dan nasihat di bawah ini boleh menjadi tips-tips yang berharga bagi para wanita untuk mewujudkan impiannya, menjadi idola dan idaman sang suami, serta untuk menggapai kebahagiaan yang hakiki dalam mengharungi lautan kehidupan rumah tangga yang penuh dengan liku-liku ini bersama suami tercinta. Tips-tips tersebut di antaranya adalah:

a. Hendaklah seorang isteri merasa cukup(qana’ah) dan redha dengan pemberian suami walaupun sedikit. Tidak banyak menuntut serta mendesaknya, sehingga membuatnya kecewa dan dapat menjerumuskannya untuk mencari nafkah dengan jalan dan cara yang haram. Sesungguhnya para wanita generasi Salafush-Shalih, apabila suaminya hendak berangkat dari rumahnya untuk mencari nafkah, dia berkata kepadanya, “Jauhkanlah (wahai suamiku) mencari nafkah yang haram. Sesungguhnya kami mampu bersabar menahan lapar, akan tetapi kami tidak mampu bersabar menahan panasnya api neraka!”

b.. Hendaklah seorang isteri menjauhkan diri dari berbuat durhaka kepada suaminya, meninggikan suara ketika berbicara kepadanya, dan selalu mengeluh dan mengadu tentang suaminya kepada keluarganya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada seorang wanita, “Bagaimana sikapmu terhadap suamimu?! Sesungguhnya dia adalah syurga dan nerakamu!” (HR. an-Nasa’i dan Ahmad, dan dishahihkan oleh Syeikh al-Albani).

c.. Hendaklah seorang isteri tidak meminta kepada suaminya seorang pembantu wanita yang masih muda, karena hal itu dapat menjadi sebab sang suami menceraikannya. Dan karena seorang pembantu wanita muda lebih berpotensi mengundang fitnah dalam rumah tangga. Khususnya fitnah bagi sang suami. Tidak sedikit kes-kes pertelingkahan terjadi di dalam rumahtangga antara seorang suami dengan seorang pembantu wanita muda, karena seringnya komunikasi, saling memandang dan berdua-duaan, tatkala sang isteri tak ada di rumah, dan lain sebagainya. Kemudian terjadilah perselisihan dan percakaran antara suami dan isteri yang berakhir dengan perceraian. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah aku meninggalkan fitnah sepeninggalanku ini bagi para lelaki yang lebih berbahaya, selain para wanita.” (Muttafaq ‘alaih).

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, “Janganlah sekali-kali seorang lelaki berkhalwat (berdua-duaan) dengan seorang wanita melainkan ada mahram bersamanya, lalu seorang lelaki berdiri dan berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, isteriku hendak keluar menunaikan haji, sedangkan namaku telah terdaftar untuk mengikuti perang ini dan itu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Pulanglah kamu! Dan berhajilah bersama isterimu!”. (Muttafaq ‘alaih).

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, janganlah sekali-kali dia berkhalwat (berdua-duan) dengan seorang wanita yang tidak ada mahram bersamanya, maka sungguh ketiganya adalah setan.” (HR. Ahmad, dengan sanad yang shahih).

d.. Hendaklah seorang isteri mengetahui bahwa hak suami harus lebih diutamakan dari semua hak kerabat/ keluarganya. Jika mendapatkan hak-hak yang saling berkongsi, maka dia harus tetap mengutamakan hak suami, dan hendaklah dia mengabaikan yang lainnya.

e.. Hendaklah seorang isteri menjaga harta suaminya, tidak menggunakannya tanpa sepengetahuannya. Jika dia bersedekah dari hartanya dengan izinnya, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala suaminya. Jika dia bersedekah tanpa redhanya, maka suaminya mendapatkan pahala, sedangkan dia mendapatkan dosa.

f.. Hendaklah seorang isteri menghindar dari pergaulan dengan para tetangga yang tidak baik, teman-teman yang buruk perangainya, yang dapat mempengaruhinya sehingga dia bersikap buruk terhadap suaminya, dan dapat menjadi sebab terjadinya perselisihan antara dia dengannya, serta dapat merendahkan martabat dan harga diri suami di hadapannya.

g.. Hendaklah seorang isteri bersikap sabar atas perlakuan suaminya yang kurang baik. Hendaklah dia bijaksana dalam menyikapinya tatkala sedang emosi, niscaya suaminya akan memujinya pada waktu dia senang. Dan hendaklah dia juga mengetahui, bahwa problematika dalam rumah tangga tidak akan menjadi besar kecuali jika hal itu disikapi dengan keras kepala dan kesombongan. Maka janganlah dia menghancurkan rumah tangganya dengan sikap keras kepala dan kesombongan.

h.. Hendaklah seorang isteri memenuhi panggilan dan ajakan ‘special’ suaminya dalam situasi dan kondisi apa pun. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa mengajak isterinya ke tempat tidurnya, lalu dia enggan, maka para malaikat melaknatnya hingga pagi.” (Muttafaq ‘alaih).

i.. Hendaklah seorang isteri tidak menyebutkan atau menceritakan ‘sifat’/keistimewaan wanita lain kepada suaminya. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang hal tersebut. Sebagaimana sabda shallallahu ‘alaihi wasallam beliau, “Janganlah seorang wanita bergaul dengan wanita lain, kemudian dia menceritakan wanita tersebut kepada suaminya, seakan-akan suaminya melihatnya (wanita tersebut).”(Muttafaq ‘alaih).

j.. Hendaklah seorang isteri mampu menjadi pemimpin di rumah suaminya dan bertanggung jawab terhadap anak-anaknya, dengan menyuruh mereka berbuat baik, dan melarang mereka dari perbuatan yang mungkar (tidak baik). Serta tidak meredhai jika ada sesuatu yang mungkar di rumahnya. Dan hendaklah dia mengerti bahwasanya tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam maksiat kepada Allah subhanahu wata’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “.Dan seorang wanita (Ibu) adalah pemimpin di rumah suaminya, dan akan mempertanggungjawabkan atas kepemimpinannya,.”(HR. al-Bukhari dan Muslim).

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah aia mencegahnya dengan tangannya, dan apabila dia tidak mampu, maka hendaklah dia mencegahnya dengan lisannya, dan apabila tidak mampu juga, maka hendaklah dia mencegahnya dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim, Abu Daud, an-Nasai, at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad). WaLlahu a’alam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: