saat-saat yang tak terlupakan

Ahad itu murobiyahku datang dan menyodorkan amplop kepadaku. Amplop itu aku buka dan alangkah terkejutnya diriku saat melihat data dihadapanku. Aku bukannya tidak kenal siapa dia tapi menurutku aku tidak sebanding dengannya. Dia terlalu baik untuk ku.dia adalah seorang ustadz dan apakah aku pantas untuk menjadi pendampingnya ?  Murobiyahku tahu apa yang sedang dalam pikiranku, ia memberiku semangat kalau aku pasti bisa mendampinginya dalam berdakwah.

Sesuai hari yang ditentukan kulangkahkan kakiku menuju rumah murobiyahku dan bismillah ku katakan “aku maju” meskipun juga masih ada perasaan kurang optimis dalam diri ini sanggupkah aku atau mampukah aku menjadi istri seorang ustadz yang mana aku bukanlah lulusan dari pondok. Di setiap do’a aku memohon supaya Allah memberikan kemudahan untukku.

Diawal pernikahanku aku jumpai suamiku memang jarang di rumah karena ia harus memberikan kajian di beberapa tempat. Meskipun kita baru menikah aktifitas dakwah suamiku tidak ada yang cuti dan aku bersyukur aku tidak termasuk seorang istri yang melenakan suami karena biasanya awal-awal menikah adalah menjadi hari yang indah untuk berdua. Meski bulan madu juga tidak ku dapatkan tapi bagiku yang penting rumah tanggaku selalu di berkahi oleh Allah . lagipula nasehat murobiyahku sebelum aku menikah ” dek, hari-hari setelah menikah itu sangat melenakan, kalau antum berdua terlena maka semua pekerjaan, dan bahkan dakwahpun akan berantakan semua”.

Ketika aku sering di tinggal suami pada saat itu, aku belum merasa kesepian karena kami masih tinggal di rumah mertua. Namun ketika kami sudah menempati rumah sendiri rasa sepi itu menyelimutiku. Ini adalah konsekuensi dari jawaban yang aku pilih ketika aku memilih untuk menjadi pendamping seorang ustadz.

Aku yang pergi pagi untuk mengajar pulang sudah sore ketika aku di rumah tak lama kemudian suamiku pergi untuk memberikan kajian dan beliau pulang sudah malam terkadang aku tidak tahu kapan dia pulang tahu tahu sudah disampingku. Namun aku masih bersyukur dari pada temanku yang anaknya bisa bertemu abinya ketika bangun tidur dan seharian tidak bertemu dengan abinya.

Di saat aku sendiri aku teringat akan murobiyahku yang dia juga istri seorang ustadz. Dia begitu tegar ketika sering di tinggal berdakwah suaminya, padahal ia di karuniai banyak anak anak yang masih kecil-kecil. Namun subhanallah ia tidak pernah mengeluh sedikitpun dengan kerepotan yang ia hadapi, malah ia sering memberiku banyak nasehat, bagaimana seharusnya kita menjadi seorang istri, apalagi istri seorang ustadz yang kita harus selalu memberikan semangat kepada suami ketika berdakwah dan jangan malah nggembosi suami ketika ingin berdakwah. Istri mempunyai peranan penting lho dalam dakwahnya suami. Nasehat itu selalu ku ingat dan kucoba untuk mempraktekkannya.

Aku sadar, suamiku bukanlah milikku sendiri, tapi ia adalah milik keluarganya dan juga milik ummat, tidak sepantasnya jika aku harus memintanya selalu disampingku.

Dengan minimnya ilmu yang aku miliki aku ingin menjadi istri yang sholihah, karena disinilah jihadnya seorang wanita bagaimana ia bisa taat kepada suami dan membina rumah tangga menjadi sakinah mawadah wa rahmah.

Mungkin apa yang ku alami ini belum seberapa jika dibandingkan dengan para ummahat yang di tinggal jihad suaminya.

Wahai para ukhti muslimah, siapkanlah dirimu untuk menghadapi pernikahan. Memang ada masa-masa bahagia tapi juga ada masa-masa penuh pengorbanan. Janganlah antum hanya siap pada masa bahagia tapi harus siap juga dalam masa-masa pengorbanan. Pernikahan adalah ibadah, jangan sampai terlena sehingga meninggalkan tugas utama dakwah dan iqomatuddin. Selamat berjuang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: