Archive for the ‘Tazkiyah’ Category

YANG HANCUR KARENA WAKTU

waktuKehidupan terus berjalan, bergulir seiring putaran waktu yang mengiringi langkah-langkah kita. Sejak terbit matahari sampai terbenam di upuk Barat, menemani ke peraduan. Tidak ada yang berbeda diantara kita dalam jumlah waktu yang dimiliki, tetap 24 jam sehari. Ia datang dan lalu pergi. Hanya orang-orang yang mampu berpikir dan menggunakan waktu dengan bijaklah, yang mampu “berhasil” mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Sebaliknya, kehinaan dan kenestapaanlah yang akan dimiliki oleh orang-orang yang malas dan gagal dalam menggunakan waktunya.

Waktu ibarat desiran angin, yang terkadang meninobobokan, membuat terkantuk bahkan tertidur lelap. Ia ada di setiap penjuru kota dan desa, di gunung dan di pantai, di sudut-sudut ruang kehidupan. Pergerakannya kadang tak disadari. Kehadirannya terlupakan padahal setiap harinya, ia menemani setiap langkah kita. Itulah sang waktu, kita akan merugi jika tidak menggunakan waktu secara bijak.

Baca lebih lanjut

SAAT DOSA KECIL MENJADI BESAR

dosaAllah Ta’ala sangat senang terhadap hamba-hamba-Nya yang beriman dan taat beribadah. Ia jadikan shalat, puasa, wudhu dan berbagai ibadah lainnya sebagai penghapus dosa-dosa kecil. Puasa asyuro menghapus dosa setahun yang telah berlalu, puasa arafah menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang, berwudhu menghapus dosa bersamaan dengan tetesan air yang menetes dari anggota wudhu dan amalan-amalan lainnya. Artinya, dosa kecil akan terhapus dengan bertaubat serta istighfar dan berbagai ibadah yang kita lakukan.

Meski demikian, dosa kecil ini bisa menjadi besar dan bahkan menjadi lebih besar dari dosa besar karena beberapa sebab. Diantara sebab-sebab tersebut adalah;

Pertama ; Jika dilakukan terus menerus.
Sesuatu yang kecil, jika terus ditumpuk dan dikumpulkan, maka ia akan membesar. Sebuah peribahasa mengatakan, sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Demikian pula dengan dosa kecil. Jika ia terus diulang, ia pun menjadi besar.

Hati di ibaratkan sebuah kaca. Jika kaca yang kotor senantiasa dibersihkan dan dirawat, maka ia akan dapat dipakai untuk bercermin dan menampilkan pantulan sesuai aslinya. Tetapi jika kotor dan tidak pernah dibersihkan, maka kotoran akan menjadi sulit dibersihkan dan menjadi noda. Demikian pula hati, ia akan menjadi kotor dan sulit dibersihkan jika selalu melakukan dosa dan tidak ditaubati. Dalam hal ini Rasulullah sallallahu alaihi wasallam ;

إِنَّ العَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ» {كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ{

“Sesungguhnya ketika seorang hamba melakukan satu dosa, maka dititikkan dalam hatinya satu titik hitam. Ketika dia tinggalkan, memohon ampun, dan bertaubat, maka hatinya akan dibersihkan. Jika dia mengulangi lagi, maka akan ditambahkan titik hitam itu sampai menutupi hatinya. Itulah ar-Ran, yang telah Allah sebutkan dalam firmannya:

كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Sekali-kali tidak, tetapi disebabkan ar-Ran yang menutupi hati mereka disebabkan apa yang telah mereka lakukan.” (HR. Tumudzi, no. 3334 dan dihasankan Al-Albani).
Baca lebih lanjut

AKIBAT DOSA BAGI KEHIDUPAN MANUSIA

Sering kita berbuat dosa tanpa disadari. Tapi juga kadang tahu bahwa perbutan yang kita lakukan adalah dosa, namun kita tetap melakukannya Karena mungkin dirasa enak. Padahal tidaklah seseorang melakukan dosa dengan tidak dibarengi penyesalan dan taubat, kecuali akan melakukan dosa-dosa yang lain dengan ringannya.
Setiap orang yang mencuri, pasti ia akan berbohong. Dan jika ketahuan maka ia akan mengancam dan bahkan membunuh orang yang mengetahui tersebut. Demikian pula orang yang berzina. Dia pasti akan berbohong untuk menutupi perbuatannya. Begitulah dosa akan menyeret pada pelakunya hingga pada dosa kekufuran terhadap Allah Ta’ala.

Dosapun juga menjadikan hati tidak tenang. Walau mungkin seseorang merasa senang saat melakukan dosa tersebut. Tetapi setelah perbuatannya tersebut akan melahirkan perasaan cemas dan kehawatiran yang terus menerus. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda;

الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ وَالإِثْمُ مَا حَاكَ فِى نَفْسِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ

“Kebaikan adalah dengan berakhlak yang mulia. Sedangkan kejelekan (dosa) adalah sesuatu yang menggelisahkan jiwa. Ketika kejelekan tersebut dilakukan, tentu engkau tidak suka hal itu nampak di tengah-tengah manusia.” (HR. Muslim no. 2553).
Baca lebih lanjut

Mengapa Manisnya Iman Tidak Terasa ?

manisnya imankawanku yang berbahagia..pernahkah anda merasakan manisnya iman?. Yaitu saat ibadah yang kamu kerjakan, sholatmu.. zakatmu… shodaqohmu… pernahkah singgah kedamaian dalam hatimu setelah kau jalankan itu semua ?. Atau kamu melakukan semua itu karena semata-mata kewajiban yang harus kamu penuhi, bukan merupakan panggilan dari dalam hatimu. Bukan panggilan karena ikhlasanmu… bukan panggilan karena keridhoaanmu… lantas apakah yang kamu lakukan membekas atau tidak dihatimu kawan?. Bisakah kau menjwabnya?. Atau kamu menganggap itu hanya rutinitas harianmu, mengisi waktu luangmu… andai para nabi tidak mengajarkan kamu untuk menjalankannya masihkah kamu kan menjalankan.. lantas bagaimana bisa, kamu minta merasakan manisnya iman…???
Baca lebih lanjut

TIPS KAYA DUNIA AKHIRAT

Kurangnya sifat qana’ah dalam diri seorang muslim muncul dari tidak mantapnya iman seseorang. Tidak bisanya seseorang ridha terhadap qadar di kala susah dan senang menjadi penyebab utamanya. Karena itulah, termasuk do’a beliau sallallahu alaihi wasallam :

…وَأَسْأَلُكَ نَعِيْمًا لاَيَنْفَدُ وَقُرَّةَ عَيْنٍ لاَتَنْقَطِعُ وَأَسْأَلُكَ الرِّضَا بِالْقَضَاءِ

“…dan aku memohon kepada-Mu kenikmatan yang tidak pernah pudar, kesejukan mata yang tidak pernah terputus, dan aku memohon kepada-Mu keridhaan terhadap qadha`.” [ Shahih Sunan an-Nasa`i, kitab sahwi, bab ke-62, no. 1238 ].

Dan di dalam do’a Istikharah:

وَاقْدُرْ لِيَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ رَضِّنِي بِهِ

“…dan tentukan (taqdirkanlah) kebaikan untukku di mana saja kebaikan itu berada, kemudian berilah kerelaan-Mu kepadaku.” [ Shahih al-Bukhari, kitab tauhid, bab ke-10, no. 7390 ].

Pondasi yang utama dan pertama untuk menumbuhkan sifat ini adalah keyakinan yang benar. Keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengenal Allah dengan nama dan sifat-sifat-Nya berikut keagungan dan keindahan yang dikandungnya. Disamping itu juga memiliki keimanan yang mantap kepada hari akhir, keyakinan yang benar tentang takdir baik dan buruk. Semua itu merupakan landasan utama untuk menumbuhkan sifat dan karakter mental qona’ah.
Baca lebih lanjut

MENJADI KAYA DENGAN QONA’AH

Islam menanamkan pada ummatnya sebuah keyakinan bahwa rizki ada ditangan Allah Ta’ala. Manusia tidak memiliki kekuatan untuk menambah dan menguranginya kecuali hanya berusaha. Sedangkan yang menentukan adalah Allah. Islam juga telah menanamkan kepada pengikutnya bahwa tidaklah seseorang mati kecuali rizkinya telah Allah tetapkan kepadanya. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda ;

أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِيَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ

“Wahai manusia, bertakwalah kalian kepada Allah dan carilah rezeki dengan cara yang baik karena sesungguhnya suatu jiwa tak akan mati sampai disempurnakan rezekinya, walaupun lambat datangnya. Maka bertakwalah kalian kepada Allah dan carilah rezeki dengan cara yang baik. Ambillah apa yang halal dan jauhilah yang haram. “(HR. Ibnu Majah no. 2144).
Baca lebih lanjut

AGAR IMAN TETAP KUAT

Tak seorangpun bisa menjamin dirinya akan tetap terus berada dalam keimanan sehingga meninggal dalam keadaan khusnul khatimah. Untuk itu kita perlu merawat bahkan senantiasa berusaha menguatkan keimanan kita. Tulisan ini berusaha untuk membantu kita dalam usaha mulia tersebut.

Tsabat (kekuatan keteguhan iman) adalah tuntutan asasi setiap muslim. Karena itu tema ini penting dibahas. Ada beberapa alasan mengapa tema ini begitu sangat perlu mendapat perhatian serius.

Pertama, pada zaman ini kaum muslimin hidup di tengah berbagai macam fitnah, syahwat dan syubhat. Semua itu sangat berpotensi menggerogoti iman. Maka kekuatan iman merupakan kebutuhan muthlak. Bahkan lebih dibutuhkan dibanding pada masa generasi sahabat, karena kerusakan manusia di segala bidang telah menjadi fenomena umum.
Baca lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 186 pengikut lainnya.