Semoga Aku Menjadi Istri Sholehah

Kisah ini sebenarnya adalah kenangan paling menyedihkan buatku.., sebuah kenangan bersama istriku tercinta..yang hingga hari ini tak bisa aku lupakan…, aku adalah anak sulung dari 3 bersaudara, dalam keseharianku, aku diberikan amanah yang banyak oleh banyak pihak pula…, selain bekerja dan menjadi tulang punggung keluarga, aku juga aktif dalam sebuah organisasi dakwah di daerahku, bukan hanya menjabat sebagai anggota, tetapi aku juga memiliki amanah memegang banyak liqo’ yang setiap hariannya aku datangi sesuai jadwal yang telah disepakati, dan itu telah aku geluti selama sekian tahun…, Alhamdulillah aku masih memiliki ghiroh untuk semua itu.
Ayahku telah meninggal 2 tahun silam, saat ibuku baru sebulan melahirkan si bungsu, aku sangat sedih saat itu.., karena kami semua masih sangat membutuhkan bapak kala itu, dan beliau adalah tulang punggung utama keluarga, aku yang masih kuliah semester akhir saat itu tentunya sangat kelabakan dalam masalah ekonomi saat kepergian ayah, apalagi aku belum terfikir sama sekali untuk kuliah sambil kerja, dikarenakan ayahku
memintaku untuk tidak membagi perhatianku selama kuliah, bahkan beliau pernah menghujani aku dengan kemarahannya yg luar biasa saat beliau tahu bahwa di semester 5 ku dulu, aku kuliah sambil bekerja disebuah percetakan dekat kampus, akibat dari semua itu, aku memilih mengikuti semua permintaan ayah, apalagi aku memang tahu betul bahwa ayah memiliki penyakit jantung, aku tidak mau terjadi apa-apa pada beliau hanya karena ulahku…, putra kebanggan dan harapannya…, walau pada akhirnya penyakit itu juga yang telah membawa ayahku pada akhir kehidupannya, dan semua itu membuat aku sangat galau, sebab tak ada lagi tulang punggung keluarga yang bias diandalakan, meminta bantuan pada keluarga adalah sesuatu yang tak mungkin, apalagi mereka juga punya kebutuhan yang sama bahkan lebih yang harus mereka penuhi. Sementara ibuku hanyalah ibu rumah tangga biasa yang juga tidak memiliki ketrampilan apapun selain memerankan perannya sebagai istri dan ibu dirumah…

Berkat nasehat dari teman-teman seniorku di organisasi, aku mulai berusaha bangkit dari keterpurukan dan kesedihan itu, aku berusaha membangun semangatku yang sempat rapuh, dan aku mulai memanfaatkan berbagai potensi yang aku miliki untuk mencari sumber2 rezeki yang bias menunjang kehidupan keluargaku, apalagi adik2ku juga harus kubiayai sekolah mereka, dan Alhamdulillah aku diterima disebuah perusahaan salah milik orang tua dari teman seorgaisasiku dikampus, dan Alhamdulillah meskipun tidak memiliki jabatan apapun di perusahaan itu, namun aku bersyukur bias membantu sedikit demi sedikit roda ekonomi keluargaku, aku juga Alhamdulillah mampu menyekolahkan adik-adikku, dan aku sangat bersyukur sekali saat itu.
Waktu terus bergulir hingga Alhamdulillah di akhir tahun 2004 aku berhasil meanamatkan pendidikanku di fakultas Manajemen Informatika, dan itu membuatku lebih leluasa untuk menjalani aktifitasku di luar, baik dalam hal pekerjaan maupun urusan dakwah, aku sangat menikmati masa-masa itu, apalagi aku merasa seolah begitu berarti buat keluargaku, kewajiban-kewajiban ayah dalam memberi nafkah lahir buat keluargaku beralih menjadi tanggung jawabku, dan keterpurukan ekonomi akibat meninggalnya ayahku Alhamdulillah perlahan-lahan semakin membaik..hingga akhirnya selang setahun setelah kelulusanku dan saat aku telah merasa mapan untuk berkeluarga, aku menyampaikan niatku untuk menikah itu pada ibuku dan juga paman dan bibikku, tak lupa pula aku meminta bantuan pada salah seorang ustadz yang juga sama aktifnya denganku diorganisasi dakwah untuk mencarikan wanita sholehah dan calon istri yang baik buatku. Dan Alhamdulillah seorang ustadz yang cukup berpengaruh di organisasi dakwah yang aku geluti menawari adiknya untuk kunikahi, Sumayyah nama adiknya itu, usianya lebih muda setahun denganku, sumayyah juga adalah aktifis dakwah dan mengurus banyak liqo’ dikalangannya, sumayyah juga adalah wanita yang bercadar bahkan telah menggunakan purda sejak kuliah dulu, maklum, hasil dakwah fardiyah kakaknya yang juga seorang ustadz, aku sangat bahagia saat mendengar tawaran itu, aku bahkan tak sanggup untuk berkata apa-apa lagi sebab tidak bisa kupungkiri, bahwa sosok wanita seperti suamayyah lah yang aku impikan selama ini, apalagi sudah sejak lama aku mengenal nama itu sebagai pribadi yang telaten dan menjadi salah satu penggerak dakwah yang berpengaruh di kalangan para muslimah lainnya.
Saat aku menyampaikan niatku di hadapan ibu, beliau sepertinya kurang setuju bila aku memilih sumayyah sebagai calon pendampingku, ibuku begitu berharap bahwa aku menikah dengan wanita yang memiliki karir dan pekerjaan tetap yang bisa membantuku untuk menopang kebutuhan dan ekonomi keluarga, bahkan beliau telah menyiapkan sejumlah nama gadis yang dikenalnya melalui paman-paman dan bibiku, dengan status pekerjaan yang beliau harapkan, misalnya si wati, putri semata wayang teman paman kantor pamanku disebuah instansi pemerintahan, wati katanya adalah PNS di Pemda di daerahku, kemudian si Marni, wanita karir yang memiliki usaha salon dan restaurant miliknya sendiri, dan masih ada 3 nama lagi yang beliau presentasikan di hadapanku, yang tak sedikitpun membuatku tergugah, bukan karena aku angkuh dan suka memilih..apalagi merasa sok gagah, isnya Allah tidak sama sekali…aku hanya ingin mencari istri yang bisa menjadi pelipur laraku di saat aku sedang dalam masalah, menjadi penghiburku di kala aku berduka, dan yang selalu mengingatkan aku dikala aku tengah khilaf…dan insya Allah aku yakin itu semua akan aku dapatkan dari sumayyah, akhirnya dengan berbagai pertimbangan yang kupaparkan dihadapan ibuku, restu itu akhirnya aku dapatkan, meskipun tanpa sengaja aku melihat dengan ekor mataku saat berpaling dari hadapan ibu, bahwa beliau begitu menampakan raut wajah kecewa bercampur marah, tapi aku yakin, insya Allah ibu akan memahami mengapa aku lebih memilih sumayyah dari pada wanita-wanita pilihan ibuku.
Akhirnya setelah melewati berbagai proses yang syar’i, waliamahku pun digelar secara sederhana di rumahnya sumayyah dan dirumahku juga.., semuanya berjalan sesuai dengan harapan dan rencana, dan Alhamdulillah sumayyah benar-benar sosok wanita yang ada dalam bayanganku sebelumnya, subhanallah, beliau tidak hanya seorang aktifis dakwah diluar rumah, tetapi juga seorang aktifis didalam rumah, betapa tidak, saat usai sholat shubuh sumayyah dengan telatenya mulai beraksi di dapur sebagaimana layaknya seorang istri, memasak untukku dan ibu serta adik-adikku, menyiapkan pakaian kerjaku, membersihkan seluruh ruangan yang ada di rumah sampai hal-hal yang kecil tak terlewatkan olehnya, bahkan sumayyah tidak mengizinkan lagi ibuku bekerja di dalam rumah layaknya sebelum aku mempersunting sumayyah dulu, semuanya beliau yang kerjakan dan telah siap segalanya tepat dipukul 07.00 pagi, sebab sumayyah juga harus berangat bareng aku ke kantornya, kantor dimana para muslimah membangun rencana2 dakwah disana, sebab sumayyah juga adalah pengurus aktif di organisasi yang sama denganku, namun beliau adalah pengurus bagian muslimah, subhanallah..aku sangat terharu dan bahagia dengan semua itu, Allah begitu menyayangiku sehingga menganugerahkan pasangan hidup yang terbaik untukku.
Hari-hari indah kami lewati bersama, aku begitu merasa sangat bahagia begitu juga dengan istriku sumayyah, dan kebahagiaan itu kami jadikan sebagai motifasi untuk lebih meningkatkan semangat kami dalam menolong agama Allah, sebab kami yakin bahwa kebahagiaan itu bersumber dari-Nya. Suatu hari ketika usai melaksanakn sholat isya’ dimasjid, aku mendapati sumayyah dengan wajah pucat seolah keletihan, padanya aku menasehati untuk mengurangi jadwal aktifitasnya di luar, namun beliau menepisnya dengan senyuman..
“Dek, sakitkah kau..?, mungkin sebaiknya kau mengurangi aktifitasmu dulu diluar dek, kk khawatir kau akan jatuh sakit…”pintaku pada sumayyah
“syukran kak atas perhatianmu, uhibbuka fillah, mungkin kakak ada benarnya, ade akan meminta dispensasi pengurangan jadwal aktifitas di luar pada ketuaku…, semoga beliau memahaminya.., insya Allah apapun yang menjadi keputusan kakak, ade akan menurutinya…, dengan harapan, akan hilang kecemasan di wajah kakak, dan berganti dengan senyuman yang berbinar seperti sedia kala…”jawab sumayyah dengan kata-kata lembutnya yang begitu menejukkan hatiku.
“dek.., boleh kk Tanya sesuatu padamu..?”ujarku lagi
“silahkan kak.., insya Allah aku akan menjawabnya semampuku…”jawabnya lagi
“apa kau bahagia hidup bersama kakak dek…?”tanyaku lagi padanya.
“tidak kak.., aku tidak bahagia..”jawabnya dengan senyum simpulnya.
“kenapa dek..?, apa karena kita hidup susah..?, atau apa karena kakak terlalu megekangmu…?” tanyaku lagi
“Alhamdulillah bukan itu alasannya kak..”jawabnya lagi
“trus apa dong.., jangan bikin penasaran gitu…”ujarku lagi sambil menggenggam tangannya yang kurasakan begitu panas..entahlah..mungkin dia sakit tapi menutupinya dariku.
“Kak, terus terang aku sudah bahagia dengan apa yang dianugerahkan oleh Allah padaku saat ini, tapi akan lebih bahagianya aku, ketika aku telah berhasil menjadi salah satu penghhuni Surga-Nya, dan saat itu aku tidak sendiri kak, tapi ada bersamamu..itulah kebahagiaan terbesar yang aku cita-citakan selama ini…, dengan harapan dan doa, semoga Allah mengabulkannya…, amin…, makanya aku ingin sekali berbakti padamu kak, karena kebaktian yang tulus itu, insya Allah akan mengantarku sampai ke Surga-Nya, insya Allah…”jawab istriku dengan matanya yang mulai berkaca-kaca… aku sangat terharu mendengar jawaban dari istriku itu, subhanallah…aku semakin merasa rendah dihadapannya, mengingat masih ada prilaku dan sikapku selama ini yang masih jauh dari standar calon penghuni Surga…, kupeluk dia dengan erat saat, dan ucapan kesyukuran kembali mengalir dari bibirku.., “ Yaa Allah..kabulkanlah harapan dan cita-cita istriku..dia gadis sholeh…kabulkan yaa rabb..”ujarku dalam hati mengamini harapan dan doa istriku.
Ternyata Allah begitu menyangi kami berdua, sebab setelah melakukan cek up kedokter akibat pucatnya wajah istriku, ternyata justru dokter memvonis bahwa istriku positif hamil, Alhamdulillah, kesyukuran itu tak pernah putus-putusnya dari bibirku, sebagai lelaki dan suami yang begitu merindukan hadirnya permata hati ditengah-tengah keluarga kecilku, membuatku hampir tak bisa menahan luapan emosi kegembiraan didalam hatiku, kukecup kening istriku, dan selain tak henti-hentinya bersyukur pada Allah atas anugerah besar ini, kuucapkan pula terima kasih padanya karena sebentar lagi dia akan memberiku bayi kecil yang selama ini kurindukan, subhanallah aku sangat gembira saat itu, waktu terus berlalu, sementara sumayyah memilih menuruti permintaanku untuk cuti sementara dari kantornya, meskipun dia meminta agar aku mengizinkannya untuk tetap aktif membina liqo’-liqo’ binannya di rumah sesuai jadwal yang diatur oleh divisi pengembangan dakwah, dan untuk permintaan itu aku mengizinkannya, sebab akupun tak ingin dia merasa kesepian dirumah dan merasa bahwa hatinya gersang karena tidak bertemu dengan sesama muslimah lainnya.
Waktu terus bergulir, dan tanpa terasa kehamilan istriku memasuki usia 4 bulanan, namun aku melihat ada kejanggalan dalam diri istriku, kadang kudapati dia sedang termenung dan menangis, tetapi begitu aka tanyai alasaannya, dia selalu memberi jawaban bahwa dia hanya rindu pada dakwah yang telah lama dia menyepi darinya, bekumpul bersama pengurus dengan mobilitas tinggi…, tetapi bila menyimak alas an itu dan memperhatikan jelas rona wajahnya, rasanya bukan itu alasan utama yang menyebabkan dia sering termenung dan sering meneteskan air matanya dalam ketermenungannya itu, bahkan aku juga melihat wajahnya sayu dan pucat, seperti seorang yang telah kehilngan energy yang banyak pada tubuhnya. Mendapati kenyataan itu aku menjadi cemas dibuatnya, tapi aku sendiri merasa kesulitan untuk menemukan jawaban dari teka-teki perubahan tingkah istriku….
“dek..ada apa denganmu..?, apa kau sakit..?, kakak lihat badanmu turun drastis dan sering menangis dalam ketermenungan…?” tanyaku disuatu hari ketika untuk kesekian kalinya aku mendapati prilaku anehnya itu, dan lagi-lagi aku kembali disuguhkan jawaban yang sama.
“gpp kak, aku baik-baik aja koq..mungkin bawaan sicabang bayi yang nangis pengen segera keluar dan menikmati indahnya dunia ini…”jawab istriku sambil tersenyum berusaha menyembunyikan kesedihannya.
Hingga suatu hari sumayyah meminta sesuatu yang aneh padaku, yaaa.., mungkin hanya aku yang merasa aneh.., sebab dia memintaku membelikan 2 buah shal (selendang) dan meminta sebuah gabus berukuran kecil lalu dibungkus dengan kain dan dijahit menyerupai sebuah bantal kepala, tapi ukurannya kecil seukuran ibu jari pria dewasa…, entahlah………, meskipun permintaan itu terasa aneh buatku, namun dengan alasan sayang dan cintaku padanya, aku berusaha memenuhi permintaan sumayyah, meskipun aku sendiri tak tahu akan dijadikan apa benda-benda yang dimintanya itu… aku juga merasa sangat sedih dengan perubahan yang ada pada dirinya. Hingga akhirnya tiba juga masa persalinan istriku, namun yang membuatku sangat terkejut dan terperanjat, sehari sebelumpersalinan itu saat aku pulang dari mengisi kajian di sebuah masjid, tepat di depan pintu rumah yang masih tertutup rapat kudengar dengan jelas ibuku sedang marah-marah di dalam rumah, perlahan kudekatkan telingaku didaun pintu dan dadaku berdegup kencang saat kuketahui bahwa yang dimarahi ibu saat itu adalah sumayyah..
“heh sumayyah…, jangan kau kira karena engkau istri anakku, lantas aku akan menyayangimu.., tidak sumayyah…, kau tahu dari dulu aku tidak pernah menyukai kehadiranmu dirumah ini…, coba saja kalau kau tidak menikah dengan umar anakku, pasti hidup kami tidak akan seperti ini, pasti kami akan lebih enak menikmati hidup..dan digelimangi kemewahan…, tapi semua itu harus berakhird dengan mimpi karena kehadiranmu…., dasar menantu sialllllllll…”celoteh mamaku dengan nada keras, perlahan kurasakan seolah mau ada ledakan dimataku…tapi aku berusaha menahan air mata itu tumpah…, Ya allah, jadi ini yang membuat istriku bermuram durja dan bersedih selama ini.., jadi ini yang membuatnya sakit?, karena bathinnya yang tertekan…,? sesaat aku terpaku mendengarkan celoteh ibuku dibalik pintu sambil merenungi nasib istriku yang begitu malang karena memendam semua ini dariku…
“hey sumayyah…, jangan fikir karena kau memasak dan mengurus semua urusan rumah tangga disini lantas akan membuat aku luluh untuk menyayangimu.., asal kau tahu ya..justru semakin lama aku tinggal serumah denganku, membuat aku sakit kepala dan muak…, yaaahhhh…mudah-mudahan saja kehamilan ini akan menjadi kehamilan yang pertama dan terakhir buatmu.., agar aku bias memeliki alas an untuk memisahkanmu dari umar..camkan itu…” ujar mama lagi ditengah emosinya yang semakin meluap.., meskipun aku geram dan emosi mendengar semua itu, namun aku berusaha untuk menahannya, perlahan kulangkahkan kaki menuju ke jendela kamarku untuk mengintip situasi dalam kamarku, aku berharap semoga saja sumayya sedang tidur dan tidak mendengar semua itu.., tapi alangkah kagetnya aku ketika mendapati sumayyah duduk memojok disudut pintu kamar sedang menggigit sebuah benda sambil mengucurkan air mata dan menahan kepiluan di hatinya…, ya Allah..ternyata benda yang dimintanya dulu dalam bentuk bungkusan gabus itu hanya dijadikannya sebagai alat untu menahan kepiluannya saat dimarahi oleh ibuku, ternyata benda itu selalu digigitnya dengan keras saat mendapat makian dan hujatan dari ibuku..subhanallah..begitu sabarnya istriku dalam menghadapi semua ini, alangkah berdosanya aku karena telah lalai dalam memperhatikan kondisi istriku dirumah karena terlalu disibukkan dengan urusan orang banyak..kasian dia…ternyata selama ini dia begitu tertekan bersamaku…., ampuni aku ya Allah…”ujarku dalam hati lalu bergegas masuk kedalam rumah…sesaat sebelum masuk kedalam kamar aku berpapasan dengan ibuku…kutatap wajah beliau dengan mata berkaca-kaca, kulihat ibuku seperti orang yang salah tingkah.
“bu…, aku tidak menyangka ibu setega ini pada istriku…, katakana padaku apa salahnya bu..apa salahnya…??, bukankah selama ini dia begitu saying pada ibu..?, bukankah selama ini ibu begitu dimanjanya dengan tidak diizinkannya melakukan pekerjaan apapun…,?, lantas mengapa ibu begitu tega melakukan semau ini padanya..kenapa bu…?, sumayyah itu tengah hamil bu.., hamil calon anakku..cucu ibu…tapi mengapa ibu tega melakukan semua ini…, aku yakin bu..aku yakin bahwa perbuatan ini sudah sering ibu lakukan padanya…tetapi mengapa ibu..mengapa……?” protesku pada ibu dengan linangan air mata.
“ya…!!!, ibu sudah sering melakukan ini padanya..kau tahu mengapa…?, karena dari dulu ibu tidak pernah mengharap kehadirannya dirumah ini…, kau tahu umar..gara-gara kamu menikahi dia nasib kita tidak pernah ada perubahannya..coba kalau dulu kau mau ibu jodohkan dengan wati atau yang lainnya yang pernah ibu tawarkan padamu..pasti semuanya gak akan seperti ini..melarat..melarat dan melarat..coba lihat adik-adikmu..mereka tidak bisa menikmati pertumbuhannya seperti saat ayahmu masih ada dulu.., meskipun tidak terlalu berharta, tapi semua tercukupi..tapi sekarang apa..?, apa coba…, gak ada perubahannya sama sekali…, dan semua ini disebabkan istrimu yang sok beriman itu…”sela ibu dengan nada sinisnya, medengar semua itu hatiku semakin geram, ingin rasanya aku melakukan sesuatu saat itu andai saja aku tak ingat kalau dia itu ibukku, aku juga merasa percuma meladeni ibu saat-saat kondisi seperti itu, dengan buru-buru aku meninggalkan ibuku yang masih mematung didepan pintu kamarku dan mendapati istriku yang lagi duduk termenung di dalam kamar.., kusaksikan seolah tak ada kesedihan diwajahnya..bahkan bekas-bekas air mata di pipinya seolah tidak berbekas..tapi aku tahu dia hanya mengalihkan perhatianku agar tidak merasa sedih dengan kondisinya saat itu..
“assalamu ‘alaikum kak..koq masuk kamar sambil marah-marah gitu..gak bagus lho…nanti menular sama sicabang bayi kita nanti sifatmu itu….”ujarnya sambil melempar senyum padaku menutupi kepiluan di hatinya.
“dek..jangan kau bohongi lagi kakak..kenapa kau tega melakukan ini pada kakak, mengapa kau tidak pernah jujur pada kakak dengan beban batinmu selama ini..kenapa dek..?. padahal setiap ketemu sama kakakmu di kantor, kakak selalu menyampaikan bahwa kabarmu selama ini baik-baik saja dan tidak kurang suatu apapun, tetapi mengapa kau tidak jujur dengan semua ini pada kakak…”selaku dengan air mata yang tak bisa kutahan lagi
“ih kakak..koq jadi melankolis malam ini..gpp koq kak..aku baik-baik saja…insya Allah aku ikhlas dengan semua perlakuan ibu padaku.., toh belaiu juga adalah orang tuaku…, gpp kak..alhamdulillah selama ini aku diam dan menyembunyikannya darimu, juga karena aku masih merasa mampu memendamnya sendiri.., aku yakin dan selalu mendoakan ibu, agar insya Allah beliau mendapat hidayah Allah dan menyadari kekeliaruannya…, coba kk bayangkan kalau aku sering membantah beliau saat beliau marah atau melaporkan hal ini padamu, pasti yang ada hanyalah masalah baru..dan bukan solusi.., dan aku tidak menginginkan semua ini terjadi, gak usah difikirkan kak…, oh ya..hapus air mata kakak, jelek kelihatan..masa laki-laki cengeng…”jawab istriku dengan lembut yang semakin membuatku berderai air mata, aku tahu hatinya sakit selama ini tetapi dia berusaha menyembunyikannya dariku..
“dek terima kasih atas semua ini.., tetapi kakak malu padamu, kakak merasa tidak berguna menjadi suamimu..kk harap dek, besok atau lusa, sampaikan pada kk apa yang kau rasakan..jangan kau pendam sendiri..”
“insya Allah kak, asalakan kakak siap mendengarkannya dan tidak emosi, okey..” ujar istriku sambil tersenyum, namun aku melihat di matanya berkata lain, ada kesedihan yang dia sembunyikan dariku.
“kak.., boleh aku meminta sesuatu padamu..?, begini lho…, eee, apakah kakak tidak pernah berfikir untuk menikah lagi?” Tanya sumayyah padaku yang membuatku semakin bingung, mengapa disaat2 memasuki masa persalinannya, dia malah menanyaiku pertanyaan-pertanyaan yang tidak masuk akal.
“maksudmu apa dek..?, koq ngomongnya kayak gitu..?, gak suka sama kakak ya..?”
“bukan kak..begini..ada temanku..namanya ruqayyah, orangnya baiiiiikkk skali..insya Allah lebih baik dari aku, kayaknya beliau cocok menjadi temanku, kalau kk mau.., aku berharap kk mau menikahi dia..” ujar istriku padaku sambil tersenyum.
“tidak bisa dek..kk tidak bisa, kk tidak bisa membagi perasaan kk pada orang lain, apalagi disaat kau masih hidup.., masih menemani kk…, jangan ngaur ah..!!”
“oh ya kak, berarti kalau aku mati.., kakak mau dong menikahi ruqayyah..” ujarnya padaku lagi yang membuatku semakin bingung.
“koq bicaranya gitu dek.., kenapa mala mini kau jadi ngaur seperti ini?, atau kau lagi sakit?, atau lagi emosi dan marah pada kakak?, tolong jangan bersikap begitu dek, kk jadi cemas dibuatnya” ujarku pada istriku dengan nada cemas, dan 20 menit setelah percakapan itu, tiba2 istriku mengerang kesakitan, sepertinya saat-saat persalinan itu telah tiba, dengan cemas aku mulai mempersiapkan persalinannya, dengan cemas aku mengambil kenderaan dengan maksud membawanya ke poliklinik, tetapi sebelum berangkat..sumayya meminta hpku, katanya ingin menelpon temannya.
“kak bisa aku pinjam hpmu, aku mau menelpon lina, teman kantorku…”ujar sumayyah sambil mengambil hp dan menelpon temannya lina, sepintas kudengar percakapan di antara mereka, percakapan yg begitu aneh, yang membuatku semakin tidak mengerti, kudengar dengan jelas bahwa sumayyah meminta lina menggantikan dia menjadi pembina di beberapa liqa binanannya dengan alas an bahwa setelah persalinan dia akan pergi jauuuh..dan tidak akan tinggal lagi bersamaku, aku semakin bingung dengan tingkah laku istriku, karena kecemasan dengan kondisinya yg mendekati masa persalinan aku melupakan percakapan mereka itu dan buru-buru mengantarnya ke poliklinik.
Seperti suami pada umumnya, dengan cemas aku menantikan persalinan istriku.., aku berdoa dan terus berdoa semoga istriku selamat dalam melahirkan dan bayiku dalam keadaan sehat dan selamat pula.., perasaanku tidak menentu saat menantikan persalinan istriku, entah mengapa aku begitu cemas..aku begitu takut kehilangan dia, hingga beberapa menit kemudian, akumendengar suara tangisan bayi memekik, menangis, subhanallah..alhamdulillah..anakku telah lahir, aku merasa bahagia saat itu, karena aku telah menjadi seorang ayah, trima kasih ya Allah.., terima kasih…”ujarku dalam hati meskipun masih diliputi kecemasan, tiba-tiba bidan dan seorang dokter keluar dari kamar persalinan, kulihat rona wajah mereka sedih dan seolah menyimpan sesuatu.
“maaf pak umar.., Alhamdulillah bayi anda telah lahir dengan selamat…, tetapi….”ujar dokter itu dengan suara tersendat-sendat.
“tetapi apa dok..?”tanyaku penasaran
“maaf pak umar, saya harap bapak bersabar setelah mendnegar kabar ini.., begini kami sudah berusaha menolong istri bapak, tetapi saying.., ternyata Allah begitu mencintainya.., beliau tidak dapat kami selamatkan pak..bliau mengalami pendarahan hebat, banyak darahnya yang keluar dan sebenarnya kondisi beliau tidak stabil saat persalinan ini.., istri bapak meninggal dunia…”ujar dokter sambil menampakan rasa sesal diwajahnya, air mataku mentee saat itu, saat mendengar penututran dokter tentang kondisi istriku..ya Allah..apakah ini hanya mimpiku saja?, kalau memang benar ini hanya mimpiku, bangunkan aku dari mimpi ini..aku belum siap kehilangan istriku Ya Allah, bagaimana dengan anakku nanti..??, perlahan terbayang-bayang dalam benakku, saat-saat bahagia bersamanya, hingga kenangan terakhir beberapa jam sebelum persalinan itu terjadi.., dimana dia meminta lina untuk menggantikan tugasnya membina beberapa liqo’ binaannya dengan alas an akan pergi jauh dan akan meninggalkan aku.., juga permintaannya agar aku menikahi ruqayyah teman dekatnya bila ia mati nanti..ya Allah aku tidak menyangka sama sekali kalau begitu cepat aku kehilangan dia, ya Allah, dia mujahidahku, dia istriku..dia sahabatku, aku sayang dia Ya Allah, terimalah seluruh amalannya disisimu ya Allah, kabulkanlah cita-cita dan harapannya untuk menempati Suurga-Mu ya Rabb, aku ikhlas melepasnya..aku ikhlas dengan semua itu, aku yakin istriku wanita baik-baik dan bahagia disana.., meskipun semasa hidupnya dia menderita.., menderita karena tekana dari ibuku..ya Allah sabarkanlah aku dalam menghadapi semua ini.
Itu kenanganku bersama istriku sumayyah dan untuk memenuhi permintaannya, 6 bulan setelah kepergiannya, aku meminang sahabatnya ruqayyah, yang pernah dia jodohkan denganku dulu semasa hidupnya, insya Allah ruqayyah jauh lebih baik dari sumayyah, meskipun aku belum bias melupakannya, dia masih ada dalam kenanganku, dia masih ada dalam bayanganku, apalagi bila melihat putri kecilku, wajah sumayyah seolah masih menari-nari dipelupuk mataku.. tetapi aku berharap dia bahagia disana, dan aku akan bahagia bersama istriku saat ini, dan aku berjanji dalam hatiku bahwa aku akan menajadi suami yang baik buat ruqayyah, aku tidak ingin melakukan kesalahan yang sama..
Wassalamu ‘alaikum warohmatullahi wabarokatuh..
(islammubarak.blogspot.com)

2 responses to this post.

  1. Subahanallah

    Balas

  2. Subhanallah… sediiih rasanya, seorang istri yang sabar dan penyayang…… semoga beliau di tempatkan di Syurga-Nya…… aamiin

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 183 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: