TAUBAT YANG DITERIMA

Banyak orang yang telah merasa sudah bertaubat kepada Allah Ta’ala. Ia merasa dosa telah dilebur dengan taubat. Padahal taubat yang diterima itu ada syarat-syarat yang harus dipenuhi. Jika seseorang yang selalu mengucap taubat tetapi tidak memenuhi persyaratannya, maka jelas taubat ia tertolak.

Allah Ta’ala telah berfirman dalam al qur’an :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ
Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. ( QS. At Tahrim : 8 ).
Lanjutkan membaca

INDAHNYA TAUBAT

taubat
Perjalanan hidup manusia ibarat menelusuri jalan yang penuh dengan lumpur yang becek. Kadang ia mengenai tangan kita, kaki kita, badan dan bahkan baju kita. sementara disisi kanan ada sungai jernih yang bisa ia gunakan untuk membersihkan diri. Kadang orang tak sadar kalau lumpur tersebut bisa dibersihkan dengan air sungai. Boleh jadi, kesadaran itu sengaja ditunda hingga tujuan tercapai. Tidak ada manusia yang bersih dari salah dan dosa. Karena ia bukan malaikat yang bersih dari dosa. Selalu saja ada debu-debu lalai yang melekat. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda ;
كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
“Setiap anak Adam sering melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah orang yang bertaubat (kembali kepada kebenaran)” (HR Ahmad, At Tirmizy, Ibnu Majah, dan dishohihkan oleh Al Hakim).

Bahkan jika ada manusia yang tidak pernah berbuat dosa, maka Allah Ta’ala akan menggantikan suatu kaum yang mereka berbuat dosa kemudian mau bertaubat dan kembali pada Allah Ta’ala. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda ;
“Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya kalian tidak pernah berbuat dosa, niscaya Allah akan mengganti kalian dengan mendatangkan suatu kaum yang kemudian kaum tersebut berbuat dosa, kemudian mereka meminta ampun kepada Allah, dan Allah akan mengampuni mereka” (HR. Muslim).
Lanjutkan membaca

MENJADI WANITA MANDIRI

Setiap wanita pasti menginginkan kehidupan yang mapan. Ekonomi yang serba kecukupan sehingga bisa untuk kebutuhan sehari-hari dan juga biaya sekolah anak-anaknya. Setiap wanitapun juga senang jika sang suami senantiasa menemaninya dalam kondisi senang dan susah. Bermanja-manja dengannya dan saling bekerjasama dalam berbagai beban kehidupan.

Tetapi kondisi diatas tidak selamanya terjadi pada kita. Allah pasti akan memberikan ujian-ujian untuk menguji kedewasaan dan kemandirian. Bisa jadi dengan ekonomi kita yang sangat sulit. Hanya untuk kebutuhan harian saja tidak cukup datambah beban biaya sekolah anak-anak kita. Atau juga ujian jauhnya kita dari sang suami karena tugas dakwah atau tugas lainnya. Bahkan yang lebih berat lagi adalah saat Allah menguji dengan kematian suami kita.

Disinilah pentingnya kemandirian bagi seorang wanita muslimah. Ia harus lihai dalam mengatur keuangan, mencari penghasilan tambahan, dan termasuk mandiri dalam menyelesaikan berbagai permasalahan.
Lanjutkan membaca

CIRI-CIRI WANITA PENGHUNI NERAKA

wanita adalah kunci kebaikan suatu umat. Wanita bagaikan batu bata, ia adalah pembangun generasi manusia. Maka jika kaum wanita baik, baiklah suatu generasi. Namun sebaliknya, jika kaum wanita itu rusak, maka akan rusak pulalah generasi tersebut.

Para wanita kita hari ini telah banyak yang rusak karena budaya barat. Semangat mereka untuk mengikuti para model dan bintang film serta senetron telah menjauhkan mereka dari ajaran islam. Mulai gaya rambut yang menyerupai laki-laki, alis palsu, pakaian yang ketat dan titpis, serta akhlak mereka yang jauh dari nilai-nilai islam. Perselingkuhan menjadi budaya, pacaran menjadi tradisi, bahkan hamil diluar nikah menjadi sesuatu yang biasa.

Jika keadaan para wanita sudah demikian, maka sebuah negara akan mengalami kehancuran yang parah. Kriminalitas tinggi, pemerkosaan dimana-mana, konflik rumah tangga tak kunjung selesai dan bahkan peradaban pun akan hancur seiring dengan hancurnya para wanita. Di akhiratpun para wanita yang rusak tersebut telah diancam dengan neraka.
Lanjutkan membaca

Asma’ binti Abu Bakar sang pemilik dua ikat pinggang

Seorang sahabat wanita yang terkemuka dan termasuk orang yang memeluk Islam dari sejak dini. Dalam peristiwa hijrah beliau menahankan berbagai penderitaan dengan penuh kesabaran. Dia dijuluki dengan julukan “Dzaatin Nithaqain” (Wanita yang memiliki dua sabuk). Dia sempat ikut Perang Yarmuk dan mendapat cobaan. Asma adalah wanita yang fasih berbahasa dan pandai melantunkan syair. Dialah ibu dari Abdullah bin Zubair dia pulalah muhajirin yang terakhir meninggal dunia.

Asma’ binti Abu Bakar sudah memeluk Islam sejak masa-masa awal datangnya Islam. Beliau adalah saudarinya ibunda Aisyah ra. Suatu waktu, ketika Rasullah dengan Abu Bakar ra telah memerintah Zaid ra dan beberapa orang pegawainya untuk mengambil kudanya dan keluarganya untuk dibawa ke Madinah.
Asma ra berhijrah dengan rombongan tersebut. Sesampainya di Quba – dari rahim Asma ra – lahirlah putra pertamanya yakni Abdullah bin Zubair.

Dalam sejarah Islam, itulah bayi pertama yang dilahirkan setelah hijrah. Pada zaman itu banyak terjadi kesulitan, kesusahan, kemiskinan, dan kelaparan. Tetapi pada zaman itu juga muncul kehebatan dan keberanian yang tiada bandingannya. Dalam sebuah riwayat dari Bukhari diceritakan bahwa Asma’ ra sendiri pernah menceritakan tentang keadaan hidupnya,
Lanjutkan membaca

GHADIR KHUMM, LANDASAN PENGKAFIRAN SYI’AH TERHADAP AHLUS SUNNAH

GHADIR KHUMM
حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ زَيْدٍ عَنْ عَدِيِّ بْنِ ثَابِتٍ عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فَنَزَلْنَا بِغَدِيرِ خُمٍّ فَنُودِيَ فِينَا الصَّلَاةُ جَامِعَةٌ وَكُسِحَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَحْتَ شَجَرَتَيْنِ فَصَلَّى الظُّهْرَ وَأَخَذَ بِيَدِ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ فَقَالَ أَلَسْتُمْ تَعْلَمُونَ أَنِّي أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ قَالُوا بَلَى قَالَ أَلَسْتُمْ تَعْلَمُونَ أَنِّي أَوْلَى بِكُلِّ مُؤْمِنٍ مِنْ نَفْسِهِ قَالُوا بَلَى قَالَ فَأَخَذَ بِيَدِ عَلِيٍّ فَقَالَ مَنْ كُنْتُ مَوْلَاهُ فَعَلِيٌّ مَوْلَاهُ اللَّهُمَّ وَالِ مَنْ وَالَاهُ وَعَادِ مَنْ عَادَاهُ

Dari Barra bin Azib radhiallahu anhu berkata: ketika itu kami bersama Rasulullah shallallahu alaihiwasallam dalam perjalanan, lalu kami singgah di Ghadir Khum, lalu diserulah Ashalatu Jamiah, lalu dibersihkan tempat untuk Rasulullah shallallahu alaihiw wasallam dibawah dua pohon lalu sholat dhuhur dan memegang tangan Ali radhiallahu anhu sambil berkata: (( bukankah kalian mengetahui bahwa aku lebih diutamakan oleh kaum mukminin dari pada diri mereka sendiri ?)) mereka berkata: benar. Beliau berkata: (( bukankah kalian tahu bahwa aku lebih utama bagi setiap mukmin dari dirinya sendiri ?)). Mereka berkata: benar. Lalu beliau memegang tangan Ali dan berkata: (( barangsiapa yang aku walinya maka Ali adalah walinya, Ya Allah berwalilah kepada orang yang berwali kepadanya, dan musuhilah orang yang memusuhinya)) dia berkata: lalu Umar setelah itu menemui Ali dan berkata kepadanya: selamat ya Ibnu Abi Thalib ! kamu telah menjadi wali bagi setiap mukmin dan mukminah)). HR. Ahmad dalam musnadnya (4/281) At Turmudzi (5/297) Ibnu Majah (1/43).
Lanjutkan membaca

MENCARI KEMULIAAN DENGAN TAWADHU’

Ketika orang sudah memiliki gelar yang mentereng, ilmu yang tinggi, harta yang banyak, sedikit yang memiliki sifat kerendahan hati. Kebanyakan orang sombong dengan berbagai prestasi duniawi yang mereka miliki. Dan bentuk kesombongan itu adalah sikap meremehkan orang lain yang berada di bawahnya dalam urusan-urasan duniawi. Padahal kita seharusnya seperti ilmu padi. Yaitu “kian berisi, kian merunduk”.
Ada peristiwa yang terjadi pada masa Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Suatu ketika unta beliau yang bernama Al ‘Adhaba dapat didahului oleh onta milik seorang Badui. Padahal sebelum itu, tak pernah sekalipun unta tersebut dapat didahului. Hal itu menyebabkan para sahabat menjadi jengkel, lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda ;

وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ

“Tiada seorangpun yang berlaku tawadhu’ karena Allah melainkan Allah akan meninggikan kedudukannya. (HR. Muslim).

Memahami Tawadhu’
Tawadhu’ adalah ridho jika dianggap mempunyai kedudukan lebih rendah dari yang sepantasnya. Tawadhu’ merupakan sikap pertengahan antara sombong dan melecehkan diri. Sombong berarti mengangkat diri terlalu tinggi hingga lebih dari yang semestinya. Sedangkan melecehkan yang dimaksud adalah menempatkan diri terlalu rendah sehingga sampai pada pelecehan hak (Lihat Adz Dzari’ah ila Makarim Asy Syari’ah, Ar Roghib Al Ash-fahani, 299).

Ibnu Hajar berkata, “Tawadhu’ adalah menampakkan diri lebih rendah pada orang yang ingin mengagungkannya. Ada pula yang mengatakan bahwa tawadhu’ adalah memuliakan orang yang lebih mulia darinya.” (Fathul Bari, 11: 341)
Lanjutkan membaca

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 183 pengikut lainnya.